
BeritaManado.com — Langkahnya perlahan.
Di balik seragam tahanan berwarna pink dan tangan yang diborgol, Pdt. Hein Arina tetap memancarkan keteduhan yang sama seperti ketika ia berdiri di mimbar gereja.
Wajahnya tersenyum, tatapannya lembut, seolah ingin mengatakan kasih Tuhan tak akan pernah pudar, bahkan dalam lembah ujian yang paling kelam sekalipun.
Setiap kali mengikuti persidangan kasus dana hibah GMIM di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Ketua BPMS Sinode GMIM ini tidak pernah kehilangan senyum dan sapanya kepada warga yang menanti di pelataran pengadilan.
Ia menyapa satu per satu, tanpa amarah, tanpa keluh.
“Semangat, Pak Pendeta. Tuhan akan ungkap kebenaran!,” teriak seorang jemaat dari kejauhan, suaranya parau menahan haru di PN Manado, Senin (13/10/2025).
Pdt. Hein berhenti sejenak.
Ia menatap, lalu mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Terima kasih semua ya. Tuhan memberkati,” ucapnya.
Kalimat sederhana itu seakan menembus hati setiap orang yang mendengarnya.
Tak sedikit mata yang basah menyaksikan ketegarannya.
Seorang gembala yang kini berjalan di padang ujian, namun tetap menggenggam pengharapan.
Di sampingnya, anak tercinta, Kristi Karla Arina, tak pernah lepas dari sisi sang ayah.
Setiap langkah menuju ruang sidang, setiap detik menuju mobil tahanan, ia selalu mendampingi dengan doa dan tatapan penuh kasih.
Tak ada ratapan, hanya kekuatan yang tumbuh dari keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan bersinar.
Bagi banyak orang, pemandangan ini bukan sekadar kisah hukum.
Ini adalah pelajaran tentang iman, kasih, dan keteguhan hati.
Tentang seorang pendeta yang memilih tersenyum di tengah badai, dan tentang kasih yang tetap hidup meski dunia seolah menjauh.
Di antara langkah-langkah menuju mobil tahanan, senyum Pdt. Hein seakan menjadi simbol: bahwa iman sejati tidak pernah diborgol.
(Alfrits Semen)
