
BeritaManado.com — Di balik panasnya ruang sidang Pengadilan Negeri Manado, selalu ada sepasang mata yang penuh kasih.
Mata itu milik Kristi Karla Arina, yang tak pernah absen menemani sang ayah, Pdt. Hein Arina, dalam setiap persidangan kasus dana hibah GMIM.
Setiap pekan, Kristi datang dan duduk, berdesakan dengan warga lain, mengikuti setiap alur persidangan yang sudah pasti melelahkan.
Namun, tak ada keluhan, tak ada wajah murung.
Ia terus senyum.
Senyum tulus yang menjadi jembatan antara ayahnya di kursi terdakwa dengan dunia di luar sana.
Seperti pada sidang keempat, Rabu (24/9/2024), Kristi kembali hadir.
Ia menatap sang ayah yang duduk tenang bersama tim pengacara.
Pdt. Hein Arina, seperti biasa, juga terlihat tabah.
Ia menyimak, sesekali mencatat.
Senyum mereka berdua menjadi bahasa rahasia yang menguatkan, sebuah janji bahwa mereka akan baik-baik saja.
Ketika palu sidang diketuk, Kristi tak membuang waktu.
Ia bergegas mendekati sang ayah, mengiringi langkahnya menuju ruang tahanan.
Detik-detik itu adalah momen berharga yang singkat.
Mereka berdua berjalan beriringan.
Kristi tak pernah jauh dari Pdt. Hein, seolah ingin memberikan perlindungan dari hiruk pikuk yang ada.
Namun, kebersamaan itu harus berakhir di depan mobil tahanan.
Kristi hanya bisa memberikan lambaian lembut saat mobil yang membawa ayahnya perlahan menjauh, kembali menuju rutan.
Lambaian itu bukan perpisahan, melainkan janji untuk bertemu lagi, minggu depan, di tempat yang sama.
Meskipun hatinya mungkin terasa perih, Kristi kembali menoleh dan menyapa para wartawan yang masih menunggu.
Lagi-lagi, senyum khasnya merekah, membuat setiap orang bertanya-tanya: dari mana ia mendapatkan kekuatan sebesar itu?
Kisah Kristi adalah pengingat bahwa di balik jeruji besi dan kasus hukum, ada hati-hati yang berjuang dengan cinta dan kesetiaan.
Ia tidak hanya mendampingi seorang ayah, tetapi juga menjaga api harapan tetap menyala.
Senyumnya adalah bukti nyata bahwa cinta tak mengenal kata lelah, dan kesetiaan tak akan pernah pudar untuk “cinta pertamanya”.
(Alfrits Semen)
