Berita Utama

Selama 222 Hari di Penjara: Pdt Hein Arina Ungkap Luka, Doa, dan Keyakinannya pada Keadilan Tuhan

Selama 222 Hari di Penjara: Pdt Hein Arina Ungkap Luka, Doa, dan Keyakinannya pada Keadilan Tuhan
Pdt. Hein Arina, membacakan pledoinya, Senin (24/11/2025).

Manado, BeritaManado.com — Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri Manado berubah hening ketika Ketua Sinode BPMS GMIM, Pdt. Hein Arina, membacakan pledoinya, Senin (24/11/2025).

Dengan tenang dan terarah, Pdt Hein Arina mengatakan jabatan yang diembannya bukanlah lambang kehormatan, melainkan tanggung jawab besar di hadapan Tuhan dan jemaat.

“Saya tidak pernah sedikit pun menggunakan dana hibah itu untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau siapa pun. Dana itu bukan milik kami. Itu amanah dari negara yang harus dipertanggungjawabkan, kepada gereja dan kepada Tuhan,” tegasnya di hadapan Majelis Hakim.

Pdt. Arina menguraikan perjalanan penggunaan dana hibah yang diterima GMIM pada masa pandemi COVID-19.

Ia menyebut seluruh dana tersebut telah dialokasikan untuk gereja, pendidikan, pelayanan sosial, hingga pembangunan berbagai fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Ia mencontohkan bantuan untuk para pelayan Tuhan yang sudah lanjut usia, yang sepanjang hidupnya menyerahkan tenaga dan waktu untuk jemaat namun kini hidup terbatas.

Baginya, memberi sedikit penghargaan kepada mereka bukanlah kemewahan, melainkan tanda kasih dan penghormatan.

Termasuk pula penggunaan dana untuk membangun Rumah Sakit GMIM, yang kini melayani masyarakat tanpa memandang agama atau latar belakang.

“Di tempat itu, kasih Tuhan bekerja melalui tangan-tangan yang merawat luka dan menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

Pdt. Arina menegaskan semua pengelolaan dana dilakukan melalui mekanisme gereja yang sah.

Ia hanya menandatangani dokumen administratif sebagai pimpinan lembaga.

“Saya seorang pendeta. Saya tidak lahir untuk mengejar harta, tapi untuk melayani. Jika ada kekurangan administrasi, itu semata karena keterbatasan saya memahami teknis birokrasi, bukan karena niat jahat,” katanya.

Ia mengaku terkejut ketika pelayanan yang dijalaninya selama puluhan tahun diuji dengan tuduhan berat ini.

Bagian paling menyayat datang ketika ia menceritakan kehancuran batin keluarganya.

Ia menahan air mata ketika mengaku sering melihat istri, anak-anak, dan cucu-cucunya menerima hinaan.

“Mereka menangis, mereka diam, karena martabat yang kami jaga seumur hidup direndahkan dengan tuduhan yang tidak benar,” bebernya.

Ia juga mengisahkan momen paling berat dalm hidupnya, ditahan satu hari sebelum Jumat Agung, hari di mana ia seharusnya memimpin ibadah mengenang kematian Kristus.

“Saya mohon agar penahanan ditunda satu hari, agar saya bisa menunaikan tugas rohani itu. Tapi permohonan saya ditolak,” ujarnya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara