Agama dan Pendidikan

Renungan Kristen: Bersuka Citalah di Dalam Tuhan

Sepertinya pertengkaran tersebut hanya “perbedaan pendapat” yang bagi Paulus sangat disayangkan karena mereka dan yang lain adalah orang-orang pilihan (tercatat dalam kitab kehidupan).
Paulus juga pernah berbeda dengan Barnabas (Kis.!5:35-16:3) Paulus dengan Petrus di Antokhia (Galatia 2:11-14).

Perbedaan tidak selamanya membawa konflik, sebab dengan berbeda kita saling menghargai dan melengkapi satu dengan yang lain, keutuhan Rumah Tangga, kuatnya pertemanan dan organisasi, hebatnya sebuah persekutuan termasuk gereja adalah dibangun dengan saling “bersatu hati.”

Terlebih menghadapi pilihan pilihan hidup kita, apalagi berhadapan dengan perbedaan ras, suku dan agama.

Kita tidak bisa mengklaim didunia ini hanya satu pikiran yang bisa hidup.

Begitupun terhadap pilihan-pilihan politik kita akan berhadapan dengan tawaran dan tantangan.

Semua perbedaan adalah bagian dari dinamika hidup yang harus kita terima bukan kita paksakan dengan meremehkan, melecehkan dan saling menjatuhkan.

Paulus mengingatkan untuk menonjolkan kebaikan kita (ay 5) agar diketahui semua orang, bukan dijadikan kesombongan tetapi dijadikan kesaksian bagi orang lain untuk dapat juga mereka mengambil bagian dalam kesaksian yang sama kepada Tuhan.

Kebaikan bukan saja hal yang bersifat materi, tapi dalam menghadapi penderitaan kita tetap bersyukur, tidak kuatir (ay 6) melainkan menjadi berkat dalam doa dan keinginan kita kepada Allah, saling membantu dan peduli dengan yang lain.

Dengan demikian kita dapat bersaksi dengan tingkah laku kita. Inipun yang diingatkan Paulus terhadap ancaman yudais dan pikiran yang menginginkan “kesempurnaan” (lih psl 3:12-21).

Padahal bagi Rasul Paulus apapun tingkat kesempurnaan kita bila tidak dibuktikan dengan tingkah laku kita itu adalah sia-sia.

Oleh sebab itu “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut dengan kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu…” (ay 8).

Bersukacitalah di dalam Tuhan

Bersukacitalah di dalam Tuhan (ay4) adalah seruan yang berulang ulang dari pasal pasal sebelumnya yang menjadi ciri khas kitab Filipi ini dan seruan ketiga ini sepertinya untuk menegaskan bahwa Tuhan sudah dekat.

Artinya pergumulan pasal ini untuk mengharapkan agar kawan sekerja dan gereja saat itu adalah “dekat dengan Tuhan” sambil menanti kedatangan Yesus yang kedua.

Paulus mengalami penganiayaan bersama umat di Filipi (1 tes 2:2) tetapi mereka tetap setia di dalam Yesus.

Itu sebabnya dia tau penderitaan mereka namun bisa memberi dalam sukacita, terhitung ada dua kali mereka membantu Rasul paulus (lih 4:16).

Dalam keterpenjaraan Rasul Paulus menulis surat untuk menyatukan dan menghibur serta mengkuatkan. Bersukacitalah didalam Tuhan!

Ditengah-tengah menghadapi pergumulan covid-19, seruan Paulus bagi orang percaya tetap relevan untuk “bersukacitalah didalam Tuhan..!” agar gereja tetap konsisten terhadap panggilan pelayanan.

Untuk menjadi berkat bagi dunia sekalipun kita harus menghadapi penderitaan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara