Oleh : Irma Tulungen, S.Psi (Widyaiswara BKKBN Prov. Sulut)
Berbicara tentang remaja kita berhadapan dengan dua nilai pandangan. Disatu sisi masa remaja identik dengan masa-masa indah dan menyenangkan yang tidak ingin dilewatkan dengan sia-sia. Namun masa remaja juga identik dengan masa yang penuh kerumitan karena harus berhadapan dengan masa transisi nilai dari masa kanak-kanak beralih ke tahap dewasa. Pada tahap ini, sifat ingin mencoba-coba dan rasa ingin tahu yang besar, tidak realistis yang cenderung membuat standard sendiri akan apa yang diinginkan terhadap diri sendiri dan orang lain merupakan karakteristik remaja. Persoalan-persoalan muncul dalam rangka upaya mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa dirinya bukan lagi anak-anak bahkan dengan cara-cara yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Tak jarang perilaku mereka membawa keresahan berbagai pihak baik yang terkait secara langsung (orang tua, guru) maupun mereka yang tidak secara langsung (pemerintah,pemerhati/LSM, tokoh agama, dll). Tawuran, kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba hingga terjangkitnya HIV/AIDS menjadi fenomena yang sering kita temui. Kita tentu menyadari bahwa perilaku seperti ini bukan tidak pernah ada di generasi sebelumnya namun yang berbeda adalah gaya dan intensitas yang semakin tinggi. Karena itu pendekatannya pun harus berbeda disesuaikan dengan perubahan yang ada. Makin permisif dan toleransi dengan perubahan zaman, menurunnya komunikasi dalam keluarga digantikan dengan pengaruh lingkungan serta semakin terbukanya akses informasi menjadi penyebab perilaku tersebut pada remaja.
Kompleksitas persolan remaja memang sewajarnya menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat periode ini sangat penting dan menentukan karena berdampak panjang tidak hanya bagi remaja itu sendiri tetapi bagi masyarakat. Tentu bukan hal yang salah jika kita menaruh harapan bahwa remaja kemudian dapat dipersiapkan menjadi pemimpin yang nantinya akan membawa perubahan yang lebih baik dimasa depan.
Menurut Hurlock (1973), ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu : Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai. Disamping itu Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Remaja masa kini banyak sekali tekanan-tekanan yang mereka dapatkan, mulai dari perkembangan fisiologi, ditambah dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya serta perkembangan teknologi yang semakin pesat. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau perilaku yang mengakibatkan bentuk penyimpangan perilaku yang disebut kenakalan remaja. Sementara media elektronik menyajikan informasi dan hiburan yang menampilkan figur-figur yang dikagumi remaja justru semakin membingungkan mereka dalam menemukan konsep diri. Ketidakpuasan baik secara fisik maupun materi seringkali membuat remaja merasa frustrasi.
Bersosialisasi dengan teman sebaya memang menjadi kebutuhan karena ingin menemukan jati diri bersama komunitasnya. Namun tekanan sebaya inilah yang patut diwaspadai karena bisa menjerumuskan mereka pada perilaku yang membahayakan. Larangan-larangan yang diberlakukan bukannya membuat mereka patuh pada orang tua, guru, malah menjauhkan hubungan dan komunikasi mereka. Padahal justru pada tahap ini remaja sangat membutuhkan bimbingan dari keluarga. Sayangnya, remaja lebih memilih untuk mendengarkan apa kata temannya daripada apa kata orang tua dan guru.
Diantara sekian masalah yang ditimbulkan remaja, menikah diusia muda menjadi salah satu konsekuensi sekaligus (untuk sementara) menjadi solusi remaja yang hamil sebelum nikah untuk menjaga nama baik keluarga. Namun setelah menikah, remaja akan berhadapan dengan masalah-masalah baru dengan tanggung jawab yang menyertainya. Banyak pertimbangan mengapa menikah diusia muda tidak disarankan. Fisiknya yang belum matang karena masih dalam masa pertumbuhan, rahimnya belum siap untuk hamil menjadi salah satu resiko yang berakibat fatal pada ibu dan anak/janin. Ketidaksiapan psikis untuk tanggung jawab baru menjadi orang tua tentu akan berdampak pada keluarganya.
Disamping faktor ekonomi karena harus memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarga tanpa harus tergantung dari orang tua lagi. Lebih jauh lagi, harapan untuk menggapai cita-cita semakin sulit untuk dicapai. Jika demikian, dapat kita bayangkan seperti apa nasib bangsa kita yang dipenuhi dengan keluarga yang tidak direncanakan, kurang berkualitas dan generasi yang dilahirkanpun tidak dapat dijamin kualitasnya. Idealnya, usia menikah adalah 25 tahun bagi laki-laki dan 20 tahun bagi perempuan dengan pertimbangan-pertimbangan diatas. Namun akhir-akhir ini rata-rata usia menikah terutama di Sulawesi Utara dibawah 20 tahun (berdasarkan SDKI 2007) yang sebagian besar karena telah hamil sebelum menikah. Belum lagi persoalan jeratan narkoba dan HIV/AIDS yang jelas-jelas menghancurkan diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Berhasil tidaknya melewati tahap ini akan menentukan kualitas remaja itu sendiri dimasa depan. Melarang mereka pacaran, Membatasi pergaulan mereka dengan teman-temannya , membatasi aktifitasnya di luar sekolah belum tentu membuatnya aman dari resiko buruk tanpa ada pehamaman yang jelas. Malah akan menambah frustrasi sehingga semakin memberontak terhadap orang tua. Disamping itu akan menghambat remaja untuk bersosialisasi dengan teman-temannya dan menghambatnya untuk berkreatifitas. Yang penting adalah membantu mereka menemukan konsep diri yang tepat sehingga mereka mampu memutuskan dengan siapa dia berteman, dengan siapa dia pacaran serta orientasi pacaran yang sehat dan mampu memilih kegiatan yang bermanfaat untuk mengembangkan kreatifitasnya.
Memang tidak mudah membuat remaja lebih bertanggung jawab dengan perilakunya. Namun membiarkan mereka dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab malah jauh lebih berbahaya. Karena itu penting untuk menyadarkan mereka tentang resiko yang bakal mereka hadapi jika melibatkan diri dengan perilaku berbahaya.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya menjawab berbagai masalah tersebut dengan program Genre (Generasi Berencana) agar remaja lebih siap menghadapi persoalan remaja dan memberikan pemahaman bagaimana mempersiapkan diri sebelum memutuskan untuk berkeluarga dengan mempertimbangkan faktor fisik, psikis, sosial dan ekonomi melalui pendekatan Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Dengan dibekali life skill (ketrampilan hidup) agar mampu mengantisipasi jika ada godaan/ajakan dari teman serta membantunya menemukan potensi diri tanpa harus melewatkan keceriaan dimasa remaja. Tak hanya membantu dirinya, tapi juga membantu teman-temannya sehingga dapat memberi pengaruh positif. Namun demikian dibutuhkan komunikasi yang intens dalam keluarga, mendengarkan dan memahami apa yang mereka rasakan dan inginkan, melibatkan mereka dalam mengambil keputusan serta membuat dia bertanggung jawab dan menerima konsekuensi jika ada yang dilanggar.
Sejauh ini keluarga memandang bahwa anak-anaknya termasuk remaja sebagai tumpuan hidupnya dimasa mendatang. Sebagian dari kita memiliki harapan bahwa remaja bisa mengubah banyak hal, tidak hanya untuk keluarga, masyarakat bahkan mampu mengubah negara bahkan dunia ini menjadi lebih baik. Namun yang tidak bisa diabaikan bahwa mereka pun memiliki harapan sendiri, impian untuk menjadikannya lebih baik dimasa depan. Namun untuk menggapainya memang harus melewati perjuangan yang berat dan kesabaran. (**/editjry)
