Agama dan Pendidikan

Rabu Abu dan Pertobatan Ekologis: Saat Gereja Berpuasa dari Eksploitasi

Gereja katolik dalam hal ini sebagai komunitas iman, dipanggil keluar untuk memberi teladan konkret yakni, hidup sederhana, berpihak pada lingkungan yang terancam dan berani membeerikan seruan imperatif terhadap struktur ekonomi yang menjadikan alam sekadar komoditas.

Bumi Bukan Cadangan, Kritik Martin Heidegger atas Cara Pikir Eksploitatif

Pemikiran filosofis Filsuf Jerman Martin Heidegger masih sangat tajam untuk mendobrak pemahaman yang keliru perihal ekologis ini.

Bagi Heidegger, krisis terbesar manusia modern bukan berada pada sistem teknologi, melainkan lebih dari itu yakni, pada cara berpikir yang menoropong dunia semata-mata sebagai objek yang ditindas.

Dalam paradigma ini, segala sesuatu termasuk alam, dimengerti sebagai cadangan sumber daya yang siap dieksploitasi.

Metode berpikir ini membuat manusia merasa dirinya raja kecil-kecilan atas keberadadaan.

Ia menyingkap dunia hanya sejauh dunia itu bersifat pragmatis dan akibatnya alam kehilangan makna instrinsiknya dan direduksi menjadi bahan mentah produksi.

Lebih progresif lagi, Heidegger menyebut bahwa manusia modern terpenjara dalam sel-sel berpikir yang kaku, menyingkap dunia hanya sebagai sesuatu yang bisa dihitung, dikontrol, dan dimanfaatkan.

Inilah akar terdalam dari krisis ekologis, bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kesalahan cara memandang keberadaan.

Manusia seharusnya tidak menaklukan bumi, tetapi menghuninya dengan kasih dan perhatian yang dalam.

Secara sederhana, menghuni berarti tinggal dengan hormat, santun, menjaga keseimbangan, dan tentunya menyadari keterbatasan diri.

Menghuni berarti membangun relasi yang harmonis, bukan dominasi yang destruktif.

Pada akhirnya, di momen inilah perayaan Rabu Abu mendapatkan kedalaman filsofisnya.

Abu di dahi bukan hanya notifikasi keras tentang kematian, tetapi teguran terhadap arogansi cara berpikir yang mendominasi.

Ia mengajak manusia kembali pada kesadaran kosmos bahwa ia adalah bagian dari dunia, bukan penguasa mutlaknya.

Rabu Abu sekali lagi hadir menandai awal perjalanan menuju Paskah yang tidak hanya bersifat spiritual dalam arti sempit, melainkan juga bagian dari perjalanan perubahan kesadaran.

Jika Gereja berani membaca membaca tanda zaman, maka puasa adalah momentum yang indah berpuasa dari keserakahan struktural, berpuasa dari cara berpikir yang menjadikan alam sekadar alat.

(***/Frangki Wullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara