
Oleh: Rafael Lumintang
Kupang, BeritaManado.com — Peristiwa banjir besar yang melanda Aceh dan Sumatera bukan hanya sebuah tragedi kemanusiaan, melainkan juga tantangan bagi “ruang publik” dan “kebebasan berpendapat” di Indonesia.
Hal ini ditandai dengan hadirnya beberapa ifluencer dan beberapa aktivis yang turun membantu para korban banjir di Aceh dan Sumatera.
Influencer seperti Dj Donny dan Sherly Annavita telah menunjukan “sikap solidaritas dan empati” terhadap para korban dengan menggalang bantuan, melaporkan kondisi lapangan, dan menyuarakan kritik atas lambannya respons pemerintah.
Namun, hal ini menjadi sangat ironis dan tragis, ketika mereka mengemukakan “suara-suara kemanusiaan”, justru dibalas dengan teror dan intimidasi.
Sikap ini mengafirmasi bahwa “kritik yang bersumber dari rasa solidaritas dan empati” bisa berubah menjadi ancaman di mata sebagian pihak.
Teror yang dialami oleh kedua influencer ini nyata dan konkret, bukan sebuah opini atau imajinasi belaka.
Dikutip dari (netralnews.com), insiden terror yang dialami Dj Donny terjadi pada Senin malam, 29 Desember 2025, sekitar pukul 21.00 WIB.
Saat suasan rumah relatif tenang, dua orang tak dikenal datang berboncengan sepeda motor ke kediaman Dj Donny dan meninggalkan sebuah paket.
Kejadian ini terekam dalam rekaman CCTV yang memperlihatkan gerak-gerik mereka yang terburu-buru.
Setelah paket tersebut diperiksa, isinya ternyata sangat mengerikan, terdapat bangkai ayam busuk disertai sepucuk surat bernada ancaman.
Dalam surat itu berbunyi, “jangan kau memanfaatkan bencana untuk cari popularitas murahan.”
Kalimat ini sangat jelas mengarah pada aktivitas Dj Donny yang sangat kritis dan vokal menyuarakan “kritik soal penanganan bencana.”
Di satu sisi, dikutip dari (sinata.id), Sherly Annavita diteror setelah mengkritik dengan vokal penanganan bencana Sumatera.
Awalnya, teror yang dialami Sherly hanya berupa serangan verbal di ruang digital. Namun, situasi menjadi chaos ketika intimidasi menjalar ke dunia nyata.
Rumah kediaman Sherly dilempari telur busuk, mobil pribadinya dicoret cat merah dan secarik surat ancaman ditemukan di sekitar pagar rumah.
Hal yang membuat Sherly semakin terancam ialah pelaku teror diduga memiliki akses terhadap data pribadi keluarga Sherly.
Dalam salah satu surat, tercantum identitas adiknya yang tinggal bersamanya.
