
Oleh: Rafael Lumintang
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)
Kupang, BeritaManado.com — Gereja Katolik universal pada pekan ini telah memasuki retret agung atau sering dikatakan berpadang gurun bersama dengan ditandai perayaan hari Rabu Abu.
Hari Rabu Abu menjadi awal atau pintu masuk untuk membuka retret agung dan saya secara pribadi, ingin melihat lebih jauh perayaan ini, dengan menggunakan pendekatan filosofis.
Terlepas dari perayaan ini, situasi dunia saat ini sedang dilanda krisis ekologis di tengah perubahan iklim, kerusakan hutan yang parah, pencemaran laut dan eksploitasi tambang yang tidak terkendali.
Abu di dahi bukan sekadar simbol kefanaan pribadi, melainkan lebih dari itu pengingat asal-usulnya, dimana manusia berasal dari tanah, dari bumi yang kini terluka, menjerit kesakitan oleh tangannya sendiri.
Momen ini menghadirkan suatu ironi yang mendalam, sementara abu diletakan dengan penuh khidmat sebagai tanda pertobatan dengan seruan “bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” bumi justru terus berubah menjadi abu akibat kebakaran hutan, banjir mengerikan dan tentunya gaya hidup yang tak mengenal batas.
Tambang-tambang menganga seperti luka terbuka, sungai-sungai kehilangan kejernihannya, dan tanah kehilangan kesuburannya demi kepentingan yang bersifat temporal.
Jika manusia sadar bahwa ia berasal dari debu, mengapa ia memperkosa tanah sebagai objek yang dikuras tanpa tanggung jawab?
lebih jauh lagi, jika ia sadar akan kembali menjadi debu, mengapa ia hidup seolah-olah dunia ini hanyalah miliknya sendiri?
Hemat saya, Rabu Abu tidak bisa dipahami hanya sebagai ritual liturgis yang bersifat individual.
Ia adalah panggilan pertobatan yang otentik, dimana hal itu tak terelakan dan harus mengambil bentuk pertobatan ekologis melalui perubahan cara berpikir, cara hidup dan yang tidak kalah penting juga yakni cara memperlakukan bumi sebagai rumah bersama.
Abu di Dahi dan Ingatan tentang Tanah
Abu dalam hal ini dipahami sebagai simbol kefanaan, tidak abadi dan akan berakhir, tetapi kalau kita kritis melihatnya, sesungguhnya ia lebih sekadar pengingat bahwa sekali lagi hidup ini terbatas.
Terminologi abu menunjuk pada asal-usul, yakni kita semua berasal dari tanah yang satu dan sama.
Kita bukan entitas yang jatuh begitu saja dari langit untuk menguasai kosmos, melainkan makhluk yang lahir dari bumi dan kembali kepadanya.
Sebagai pelajar filsafat saya melihat bahwa di sini ada kesadaran ontologis, cara memahami diri sebagai bagian dari realitas, bukan sebaliknya penguasa yang berdiri sendiri di luar realitas.
Kita hidup bergerak dan ada karena ada hubungan dialektis yang harmonis dengan tanah, air dan udara tetap terjaga.
