
Oleh: Rafael Lumintang
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)
Ketika sepintas melihat di media sosial tentang Manado, saya sebagai orang asli Manado kembali dikejutkan bukan karena melihat berita keramahan dan kebudayaannya yang kaya akan nilai-nilai kebaikan, serta kebanaran, melainkan rentetan “berita kriminalitas yang mengusik rasa aman.”
Pembunuhan, penikaman, kekerasan seksual, dan berbagai bentuk kekerasan lain yang datang silih berganti.
Tingkat kriminalitas di Manado dalam beberapa tahun terakhir memang sudah menurun, seperti dilansir dari kumparan.com, dalam rilisnya, Kapolresta Manado Kombes Pol Julianto Sirait menyebutkan jika angka kasus kriminal kategori kejahatan konvensional seperti penganiayaan, pembunuhan maupun pencurian, pada tahun 2024 sebanyak 1.565 kasus. Ini turun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1.681 kasus.
Walaupun tingkat kriminalitas sudah menurun, tak dapat dipungkiri bahwa potensi untuk melakukan tindakan kejahatan masih terus berlangsung.
Semboyan filosofi “Sitou Timou Tomuo Tou” hadir untuk memberi kejelasan orientasi bagi “penghormatan nilai dan martabat manusia yang otentik.”
Ungkapan ini lahir dari kearifan kultural Suku Minahasa, namun dipopulerkan dan diberi ketajaman analisis-filosofis oleh Gubernur pertama Sulawesi secara keseluruhan, Dr. Sam Ratulangi.
Filsuf dan tokoh nasional dari Minahasa ini, mengangkat ungkapan di atas bukan sekadar pepatah adat semata, melainkan “filosofi humanisme Minahasa.”
Ia memberi suatu seruan imperatif bahwa manusia tidak otomatis menjadi manusia hanya karena lahir, namun menjadi manusia sejauh ia mendidik, membentuk dan memanusiakan manusia lain.
Dalam korelasinya dengan tindakan kejahatan di atas, kriminalitas yang merajalela bukan sekadar pelanggaran hukum, namun lebih jauh lagi “tanda kebudayaan kita sedang lelah memanusiakan.”
Krisis Rasa Sebagai Akar Kriminalitas
Berbagai jenis tindakan kriminalitas, kalau dilihat secara kritis lahir dari suatu tindakan yang memiliki unsur absuditas; sikap empati yang memudar, kepekaan yang tumpul dan hati nurani yang kehilangan daya koreksinya.
Seseorang yang dengan “tahu, mau, dan sadar” melukai bahkan menghabisi nyawa sesamanya, sesungguhnya ia telah berhenti melihat korban sebagai manusia yang sungguh-sungguh memiliki nilai yang luhur.
Ia menggunakan “hasratnya” yang hanya terfokus pada “rasa ego diri,” penghalang, ancaman, atau pelampiasan.
Manusia yang menggunakan pola pikir seperti ini, sebenarnya “sedang terpenjara dalam insting kebinatangan.” Rasionalitas atau akal budi dalam hal ini, diperkosa oleh “sifat kebinatangan” dan tidak dipertajam lagi.
Dalam konteks kriminalitas yang terjadi di Manado, maraknya kekerasan, pembunuhan, dan pelecehan seksual, menunjukan bahwa relasi antar sesama manusia yang “utuh” semakin rapuh.
Rasa dendam, egois, dan amarah lebih cepat meledak daripada “dialog yang harmonis dan selaras.”
Kekuatan fisik seringkali menjadi instrumen paling mendasar bagi mereka, ketimbang menggunakan rasionalitas atau “akal sehat.”
Filosofi Sitou Timou Tumou Tou seharusnya mengandaikan terminologi mendalam yang dikenal dengan “rasa.” Rasa hormat kepada sesama, rasa takut melukai, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama manusia.
Hal ini menjadi “paradoxal” ketika apa yang disebut “rasa” itu mulai memudar dan tumpul, sebaliknya yang justru mendominasi adalah keberanian untuk melakukan tindakan brutal.
Runtuhnya Ruang Memanusiakan Manusia
Tindakan kriminalitas yang sangat masif di Manado juga menyingkap kegagalan ruang-ruang sosial yang seharusnya membentuk jatidiri manusia.
Keluarga tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang paling prinsipil dalam kaitannya dengan “asupan nilai makna hidup.”
Sekolah seringkali terjebak pada prestasi teknis tanpa “pembentukan karakter yang integral,” dan yang lain seperti masyarakat sekitar yang kehilangan daya kontrol moral.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekerasan “berkembang mekar” sebagai “bahasa alternatif” untuk menyelesaikan konflik.
Sesuatu yang sulit dibayangkan, namun realitas menunjukan demikian adanya.
Acara atau Pesta yang tidak tertib, dibarengi dengan miras yang melebihi batas, pada akhirnya berujung penikaman, bahkan sampai pada tindakan pembunuhan.
Hal ini mencerminkan suatu “kebudayaan” yang membiarkan manusia tumbuh tanpa penopang etis yang kokoh. Manusia secara eksistensial “ada secara biologis,” namun tidak dengan sungguh-sungguh dibentuk secara moral.
“Kebudayaan yang lelah memanusiakan” akhirnya melahirkan indvidu-individu yang juga “buta, tuli, dan lelah memahami sesamanya yang sungguh memiliki martabat mulia.”
Sitou Timou Tumou Tou Sebagai Dekonstruksi atas Normalisasi Kekerasan
Ketika tindakan kriminalitas terus-menerus berulang tanpa kenal lelah, masyarakat Manado berisiko menganggap kekerasan sebagai suatu “habitus yang biasa-biasa saja.”
Di momen ini, filosofi Sitou Timou Tumou Tou memberi suatu actus essendi (cara beradanya) sebagai instrumen dekonstruktif yang memuat nilai-nilai etis.
Ia hadir membongkar cara berpikir, asumsi, dan makna tersembunyi dibalik “teks realita kriminalitas,” pembunuhan, penikaman, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya.
Filosofi ini menuntut pemulihan suatu “stablibitas rasa yang utuh” melalui pendidikan nilai, kehadiran sosial yang konkret, dan tentunya kebijakan publik yang tidak hanya represif, namun juga memulihkan “martabat manusia.”
Bahaya terbesar dari kriminalitas yang terus berulang adalah “normalisasi.” Ketika tindakan kriminalitas hanya menjadi angka statistik, penikaman, pembunuhan dan kejahatan lainnya sekadar berita harian dan tindakan kekerasan seksual dibiarkan begitu saja tanpa empati yang utuh, masyarakat secara implisit kehilangan “rasa kemanusiaannya.”
Seruan imperatif Sitou Timou Tomou Tou harus dibaca bukan sebagai slogan kultural, melainkan sebagai gugatan dekonstruktif-etis yang keras.
Ia hadir menolak secara tajam asumsi bahwa kriminalitas adalah keniscayaan zaman. Kriminalitas yang merajalela adalah suatu tanda bahwa kita sedang “gagal memanusiakan.”
Filosofi Sitou Timou Tumou Tou sekali lagi mengingatkan bahwa sejatinya, manusia tidak lahir sebagai manusia sepenuhnya, ia menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusia “melalui relasi dialektis dengan sesamanya.”
Selama “kebudayaan tetap lelah memanusiakan,” tindakan kriminalitas akan terus menemukan jalannya.
(***/Frangki Wullur)
