
Oleh: Yosafat Eugenius Lamonge (Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang)
Kupang, BeritaManado.com — Transformasi digital pendidikan sering dipandang sebagai solusi ajaib untuk menjawab ketertinggalan kualitas dan akses pembelajaran di Indonesia.
Teknologi dijanjikan akan membawa inovasi, relevansi, dan pemerataan terutama di wilayah-wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Namun di Nusa Tenggara Timur (NTT), janji ini tampak tersendat oleh realitas yang lebih keras; akses internet belum merata, kapasitas pendidik masih rendah, dan konteks geografis tetap menjadi kendala utama.
Dikutip dari media (Kompas.Com), pemanfaatan teknologi digital di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih berada di bawah standar nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Wijaya Kusumawardhana dalam kegiatan program Generasi Terkoneksi (Gensi) yang digelar di Universitas Nusa Nipa Maumere, NTT, 4 februari 2025.
Fakta ini menunjukan bahwa teknologi digital belum sepenuhnya berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, termasuk dalam bidang pendidikan.
Inilah problem pokok yang sering terabaikan dalam narasi resmi, dimana digitalisasi pendidikan di daerah NTT bukan hanya soal ada atau tidaknya perangkat, tetapi apa gunanya perangkat itu jika tak bisa dimanfaatkan secara maksimal karena koneksi yang buruk dan literasi yang rendah?
Ketika siswa dan guru harus bergulat dengan sinyal yang tidak stabil, perangkat yang canggih berubah menjadi pajangan mahal yang tidak efketif.
Hal yang lebih mengkhawatirkan digitalisasi beresiko menjadi ilusi kemajuan ketika isi kebijakan lebih diprioritaskan pada jumlah alat dan statistik sebaran, bukan pada perubahan kualitas pembelajaran yang nyata.
Tanpa penguatan kapasitas guru, pendampingan berkelanjutan dan strategi kontekstual yang merespons kebutuhan lokal, digitalisasi akan tetap menjadi slogan birokratis yang jauh dari realitas kelas di Kabupaten Sumba, Flores, atau Pulau Rote.
Jika transformasi digital benar-benar ingin mengubah wajah pendidikan di NTT, maka fokusnya harus bergeser dari alat menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Digitalisasi Pendidikan Abad ke- 21 (Perspektif Paulo Freire)
Digitalisasi pendidikan sering dirayakan sebagai tanda kemajuan seolah kehadiran teknologi secara otomatis menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif, modern, dan inklusif.
Narasi optimis ini, jika tidak dikritisi beresiko menyederhanakan persoalan pendidikan yang pada dasarnya bersifat sosial dan politis.
Paulo Freire seorang filsuf pendidikan mengemukakan pandanganya bahwa teknologi tidak pernah netral; ia selalu beroperasi dalam relasi kuasa tertentu.
Ketika digitalisasi hanya dipahami sebagai penggunaan platform, aplikasi dan perangkat digital lainya, maka administrasi pembelajaran pendidikan berpotensi mengulang model banking education dalam kemasan baru, cepat dan rapi, tetapi tetap menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif pengetahuan.
Freire justru menekankan bahwa esensi pendidikan terletak pada dialog dan kesadaran kritis.
Digitalisasi pendidikan abad ke-21 seharusnya membuka ruang partisipasi yang lebih luas, memeungkinkan peserta didik terlibat aktif, merefleksikan realitas sosialnya dan membangun pengetahuan secara kolaboratif.
