Nasional

Digitalisasi Pendidikan: Jalan Panjang Menuju Sekolah Maju di NTT

Teknologi dapat menjadi sarana pembebasan jika digunakan untuk memeperkuat relasi pedagogis yang humanis, bukan sekadar mengejar efesiensi target administratif.

Tanpa orientasi kritis ini, digitalisasi beresiko berhenti sebagai modernisasi teknis yang tidak menyentuh tujuan utama pendidikan, yakni memanusiakan manusia.

Kebijakan dan Peran Negara

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mempercepat digitalisasi pendidikan, baik melalui penyediaan infrastruktur, percepatan konektivitas internet hingga program pelatihan literasi digital.

Kementerian Komunikasi dan Digital menghadirkan konektivitas dan literasrgetkan peningkatan kecepatan rata-rata internet nasional hingga 100 Mbps dalam tiga tahun ke depan, terutama untuk mendukung akses pendidikan digital yang andal di seluruh wilayah.

Perluasan jaringan 5G dan strategi konektivitas seperti fixed wireless acces juga diarahkan untuk memberikan internet yang lebih stabil dan murah bagi rumah tangga dan sekolah, termasuk di daerah terpencil.

Upaya ini juga disertai peninjauan langsungu kebutuhan daerah 3 T seperti di Nusa Tenggara Timur untuk memastikan sinyal dan fasilitas pendidikan menjadi prioritas pembangunan digital, bukan sekadar target administratif.

Selain itu, pemerintah nasional melalui berbagai program digital pendidikan berkomitmen untuk memperluas akses konten pendidikand digital dan memfasilitasi pelatihan online bagi tenaga pendidik, agar mereka tidak hanya menerima teknologi tetapi juga mampu mengintegrasikanya secara efektif dalam proses pembelajaran.

Tantangan Digitalisasi di NTT

Walaupun kebijakan nasioanl telah dirumuskan, tantangan impelmentasi digitalisasi di NTT sangat nyata dan berlapis.

Kondisi geografis yang terdiri dari pualu-pulau terpisah dan dataran yang sulit dijangkau telah membuat pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi lamabat dan tidak merata.

Banyak sekolah di NTT masih kesulitan mengakses internet yang stabil dan terjangkau, sehingga pemanfaatan platform digital dalam kegiatan belajar masih terbatas.

Program pembagian layanana internet gratis oleh beberapa operator telah diluncurkan untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka Belajar, namun cakupanya masih terbatas dibandingkan kebutuhan luas wilayah.

Data penggunaan digital masyarakat setempat pun menggambarkan tantangan pemanfaatan teknologi. Indeks masyarakat digital di NTT masih di bawah rata-rata nasional, menunjukan bahwa kurang optimalnya pemanfaatan digital.

Hal lain juga yang mendukung adalah rendahnya penggunaan teknologi dalam aktivitas sehari-hari termasuk pendidikan.

Kesenjangan Akses Kompetensi

Salah satu inti masalah digitalisasi pendidikan adalah (digital divide) kesenjangan antara mereka yang memiliki akses internet dan kemampuan menggunakan teknologi dengan mereka yang tidak.

Studi menunjukan bahwa ketimpangan akses internet, terutama di daerah pedesaan merupakan hambatan utama bagi pelaksanaan pembelajaran online atau hybrid.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara