
Oleh: Rafael Lumintang (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)
Kupang, BeritaManado.com — Pada saat mengikuti kuliah dalam kelas Filsafat Timur, Romo Sintus mengajak kami para mahasiswa untuk berpikir secara dalam tentang konsep filosofis Konfusius.
Lewat penjelasan dari Romo sendiri, dan tentunya diskusi yang kami bangun, ada begitu banyak percikan ilmu yang kami temukan.
Filsafat timur ternyata sungguh menarik, lagi asyik, karena hemat saya berhubungan langsung dengan dimensi “masyarakat dan kemanusiaan dalam sosialitasnya.”
Perjumpaan dengan paradigma filosofis Konfusius inilah yang menstimulus saya untuk membuat refleksi kritis yang kecil dan sederhana ini.
Kita hidup dalam pusaran zaman yang penuh dengan ironi yang begitu rapi hingga nyaris tak terasa sebagai ironi. Manusia dengan fasih berbicara tentang kemanusiaan dengan nada tinggi, dengan istilah-istilah agung dan slogan-slogan yang menggema.
Namun, ketika tiba saatnya bertindak, tangannya bergerak dengan “penuh seleksi” atau bahasa kasarnya “penuh perhitungan, pilih-pilih kasih,” siapa yang layak dan siapa yang dapat ditunda.
Sikap empati yang dulu dibayangkan mengalir seprti mata air jernih dari kedalaman hati, kini harus melewati pos pemeriksaan identitas.
Identitas seperti agama menjadi garis demarkasi yang kaku, suku menjelma tembok yang tak kasat mata, keluarga berubah menjadi eksklusif, dan institusi menjadi pagar administratif yang menentukan siapa “kita” dan siapa “mereka.”
Di dalam koridor ini, kita hangat dan murah hati, di luar batasnya, kita dingin dan penuh syarat.
Terminologi substansial dari solidaritas tidak lagi berdiri sebagai kebajikan yang bebas, melainkan sebagai kontak diam-diam, “aku akan berdiri bersamamu sejauh engkau mencerminkan diriku, sejauh namamu serupa dengan namaku, sejauh keyakinanmu mengafirmasi keyakinanku.”
Duduk persoalan inilah, yang membuat “kemanusiaan” mengalami apa yang dapat disebut sebagai “reduksi ontologis,” ia diperkecil dari martabat menjadi kedekatan, dari keberadaan menjadi keanggotaan.
Manusia tidak lagi dihormati karena ia adalah pribadi yang memiliki nilai Das ding an sich (pada dirinya sendiri), melainkan karena ia berada dalam radius identitas yang sama.
Identitas yang sejatinya menjadi ekspresi kekayaan sosial dan historis, perlahan-lahan menjelma menjadi instrumen seleksi moral yang menentukan distribusi empati.
Kita tidak lagi bertanya dengan polos, “siapa yang menderita dan membutuhkan pertolongan?”
Melainkan dengan kalkulasi bertopeng, “apakah ia bagian dari kita, agama sama dengan kita, suku kita, atau anggota keluarga kita?”
Dalam hal ini hemat saya, kebaikan kehilangan universalitasnya yang lapang dan terpenjara dalam arsip-arsip partikular yang sesak.
Panorama yang buram di atas bukan sekadar problem sosial yang dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan atau sebut saja regulasi.
