Opini

Ketika Kemanusiaan Dipersempit oleh Logika Identitas: Filsafat Humanisme ala Konfusius

Contoh konkretnya, “saya hanya mengutamakan yang dekat,” atau “saya hanya membela yang seiman.”

Kalimat-kalimat itu terdengar normal, bahkan terhormat. Namun, di balik kewajaran itu tersembunyi reduksi raksasa, manusia diperingatkan berdasarkan garis keanggotaan, dan nilai martabatnya ditentukan oleh kedekatan identitas.

Bahaya terbesar dari kemanusiaan yang dipersempit bukan hanya ketimpangan sosial atau diskriminasi yang lembut, melainkan deformasi karakter yang berlangsung perlahan namun pasti.

Kita menjadi terbiasa menutup mata terhadap “penderitaan yang tidak menyentuh identitas kita.”

Kita melatih diri untuk bersikap selektif dalam empati dan defensif dalam solidaritas. Lama-kelamaan, hati diperbudak oleh sikap egoistis, ia menjadi kaku, mudah tersinggung dan rentan diprovokasi oleh retorika kelompok.

Fanatisme tumbuh bukan selalu dari kebencian yang eksplisit, melainkan dari loyalitas yang tidak pernah diperiksa secara kritis.

Kita kembali lagi pada Konfusius, jalan yang ditawarkan oleh “etika Ren” bukanlah revolusi yang bising, melainkan pembentukan diri yang tekun dan cara hidup yang bijaksana.

Ren tidak lahir secara otomatis atau turun begitu saja dari langit, ia dibangun melalui refleksi yang jujur, pengendalian diri yang disiplin, dan kesadaran bahwa eksistensi manusia selalu berada dalam jejaring relasi yang saling terkait.

Dalam perspketif ini, menjadi manusia bukan sekadar fakta biologis yang diberikan sejak lahir, tetapi pencapaian etis yang harus terus diperjuangkan.

Seseorang menjadi sungguh manusia ketika ia mampu melampui ego komunalnya dan membuka ruang batin yang lain, bahkan lebih dari itu ketika yang lain itu berbeda, asing, atau tidak menguntungkan.

Pada akhirnya, di zaman yang terfragmentasi oleh identitas ini, pertanyaan yang paling fundamental bukanlah seberapa kuat kita membela kelompok kita, melainkan seberapa luas kita mengakui kemanusiaan.

Apakah kita menolong karena “ia sesama anggota, atau karena ia sesama manusia?” Apakah kita berbuat baik karena kesamaan simbol, atau karena kesadaran akan martabat yang luhur?”

Di antara dua motif yang telah saya kemukakan, masa depan humanisme dipertaruhkan.

Dan mungkin saja, justru ketika kemanusiaan semakin dipersempit oleh identitas, panggilan untuk memperluas hati menjadi tugas moral yang paling mendesak, sebuah undangan sunyi sepi untuk menjadi “manusia yang sungguh-sungguh manusia,” bukan manusia yang mendewa-dewakan label “logika identitas semata.”

(***/Frangki Wullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara