
Minut, BeritaManado.com — Sukacita Natal yang seharusnya dipenuhi terang dan kehangatan keluarga justru berubah menjadi malam penuh kesedihan bagi warga Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara.
Pada Kamis 25 Desember 2025, aliran listrik di wilayah Watutumou, Maumbi, dan sekitarnya padam selama berjam-jam.
Kondisi ini memaksa warga merayakan Hari Raya Natal dalam gelap gulita.
Pemadaman listrik ini dilaporkan telah terjadi sejak Kamis siang sekitar pukul 12.30 WITA.
Ironisnya, hingga pukul 20.00 WITA, atau lebih dari delapan jam kemudian, aliran listrik belum juga kembali menyala.
Saat malam kudus telah berlalu, sebagian besar warga masih bertahan dengan nyala lilin seadanya, menjadi saksi bisu betapa perayaan Natal mereka.
Natal yang sejatinya menjadi momen suci, penuh damai dan pengharapan, justru terasa hampa.
Rumah-rumah warga tenggelam dalam kegelapan.
Jalanan sunyi tanpa penerangan.
Anak-anak yang menanti suasana Natal hanya bisa duduk diam.
“Hari yang baik, justru tidak ada listrik. Sayang sekali,” ungkap Rina, warga Desa Watutumou, dengan nada kecewa.
Pantauan di lapangan menunjukkan hampir seluruh desa di Kecamatan Kalawat berada dalam kondisi gelap.
Hanya segelintir rumah yang masih bisa menikmati penerangan, itupun dengan genset pribadi, yang tentu tidak dimiliki semua warga.
Ketimpangan ini semakin mempertegas betapa beratnya beban masyarakat kecil saat layanan dasar seperti listrik tak hadir di saat paling dibutuhkan.
“Malam kudus sudah lewat, tapi kami masih harus menyalakan lilin. Natal kami benar-benar gelap,” ujar warga lainnya dengan suara lirih.
Pemadaman listrik di hari besar keagamaan bukan sekadar gangguan teknis.
Ini adalah luka emosional bagi masyarakat.
Warga menilai, PLN sebagai penyedia layanan vital publik dinilai tidak sensitif terhadap momen sakral umat Kristen yang hanya datang sekali dalam setahun.
Warga berharap, kejadian memilukan ini tidak kembali terulang.
Natal seharusnya menjadi simbol terang, bukan kegelapan.
(Rds)
