
Penulis: Redaksi
Keluhan warga terhadap layanan listrik kembali mencuat setelah pemadaman listrik terjadi selama tiga hari berturut-turut di sejumlah wilayah di Kabupaten Minahasa Utara.
Pantauan BeritaManado.com, pemadaman cukup meluas di Kecamatan Dimembe, Kelurahan Sukur dan sekitarnya.
Warga mengaku kecewa karena pemadaman berlangsung dalam durasi yang cukup lama dan dinilai sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemadaman terjadi sejak Rabu (17/6/2026) hingga Jumat (19/6/2026).
Kondisi terparah disebut terjadi pada Rabu, ketika listrik padam hampir selama 10 jam.
Sindy R (39), Warga Dimembe, mengaku pemadaman pada hari pertama berlangsung sejak siang hari hingga menjelang tengah malam.
“Kami benar-benar kesulitan. Listrik padam sejak siang dan baru menyala lagi tengah malam. Aktivitas rumah tangga terganggu total, anak-anak tidak bisa belajar dengan nyaman, sementara pekerjaan yang membutuhkan listrik terhenti,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Arif (45).
Menurutnya, warga mengira gangguan tersebut hanya terjadi satu kali.
Namun kenyataannya, pemadaman kembali terjadi pada Kamis malam.
“Kami pikir setelah hari pertama selesai, listrik sudah normal. Ternyata malam berikutnya padam lagi. Listrik mati sekitar pukul 20.00 WITA dan baru menyala sekitar pukul 03.00 dini hari. Ini sangat merepotkan masyarakat,” katanya.
Kekecewaan warga semakin memuncak ketika pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 15.00 WITA, listrik kembali padam meski akhirnya berhasil menyala kembali beberapa waktu kemudian.
Bagi sebagian warga, pemadaman berulang selama tiga hari bukan sekadar gangguan biasa.
Banyak aktivitas keluarga terganggu, mulai dari pekerjaan rumah tangga, proses belajar anak-anak, hingga komunikasi dan akses internet yang bergantung pada pasokan listrik.
Dampak yang paling dirasakan justru dialami para pelaku usaha kecil dan pedagang yang sehari-hari menggantungkan aktivitasnya pada listrik.
“Kalau listrik padam terus seperti ini, kami yang paling merasakan dampaknya. Barang dagangan yang membutuhkan pendingin berisiko rusak. Pelanggan juga berkurang karena usaha terpaksa tutup lebih cepat,” keluh seorang pedagang klontong.
Menurut warga, yang menjadi persoalan bukan hanya adanya pemadaman, melainkan frekuensi dan durasinya yang berulang dalam waktu berdekatan.
Mereka menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kualitas pelayanan dan komunikasi kepada pelanggan.
Bagi warga, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, mereka berharap keluhan yang disampaikan dapat menjadi perhatian serius agar pelayanan kepada pelanggan semakin baik di masa mendatang.
