Dalam hal ini Vatikan tidak hanya memberi beasiswa para imam, biarawan-wati, awam katolik Indonesia tetapi juga kepada mahasiswa Muslim untuk belajar di Universitas-universitas katolik di Roma.
Juga karya kesehatan (balai kesehatan, rumah sakit dans ebagainya) dan pendidikan melalui sekolah-sekolah sampai universitas dan karya-karya karitatif (Karitas Indonesia – Karina).
Kerja sama dalam karya misi Gereja Indonesia ke luar, terutama tentang personel, dimana hal ini terkait dengan sifat universal dari Gereja Katolik, ada ribuan misionaris Indonesia yang ditugaskan berkarya di negara-negara lain.
Di sana mereka tidak hanya bertugas untuk membina iman umat, tetapi juga untuk kepentingan kemanusiaan seperti pendidikan, kesehatan, meningkatkan taraf hidup dan martabat manusia dan sebagainya.
Soal toleransi antar umat beragama, di Indonesia selalu menjadi menarik untuk dibahas, karena Indonesia memiliki kelebihan itu.
Isu tentang toleransi, kerukunan dan dialog antar iman saya kira akan menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan kedua tokoh, Paus Fransiskus dan Presiden Jokowi.
Poin ini perlu dipertegas dan diperjuangan bersama, lagipula Indonesia dapat menyampaikan kepada Sri Paus tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam hal moderasi hidup beragama.
Momentum bersejarah ini tentu punya harapan umat Katolik sendiri khususnya pertemuan antara Paus Fransiskus dengan Presiden Joko Widodo.
Pemerintah menjamin kebebasan beragama, seperti yang diungkapkan dalam Pancasila, dimana umat dapat hidup nyaman, aman, penuh sukacita tanpa tekanan karena jumlah yang kecil dan di tempat-tempat tertentu jumlah tidak signifikan atau sangat sedikit.
Hidup berdampingan secara harmonis, dialog antar iman, saling menghormati walaupun berbeda suku, agama, tradisi dan sebagainya dengan mengupayakan terus moderasi hidup beragama yang tengah digalang oleh pemerintah.
Bersama-sama menjadi agen kemanusiaan, persaudaraan dan perdamaian.
Harapan umat dari Kunjungan Paus ini terungkap dalam Doa untuk Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia: “Semoga perjalanan ini menjadi pengalaman iman, yang mempererat persaudaraan dalam keanekaragaman, memperkuat bela rasa kepada saudari-saudara kami yang miskin, lemah, tersingkir dan menderita…. Semoga kehadirannya membawa sukacita Injil dan membangkitkan pengharapan bagi terciptanya kerukunan, kedamaian dan kebaikan bersama.”
Kunjungan Paus membawa pesan kesederhanaan di tengah gemerlap kemewahan.
Paus Fransiskus memiliki nama Jorge Bergoglio yang berasal dari keluarga Italia yang berimigrasi ke Argentina.
Pada usia 87 tahun terpilih menjadi Paus pada 13 Maret 2013 dalam usia 76, menggantikan Paus Benediktus XVI.
Tema kunjungan Paus Fransiskus yaitu Iman, Persaudaraan, Bela Rasa (Faith, Fraternity, Compassion) dengan tujuan untuk meneguhkan dan mempertebal iman umat, membangun persaudaraan demi perdamaian (misi kemanusiaan dan perdamaian) serta hidup berdampingan dengan nyaman dan mensharekan membagikan bela rasa yang tidak lain adalah solidaritas, serasa dan sepenanggungan dengan mereka yang membutuhkan bantuan seperti orang miskin, marginal, diperlakukan secara tidak adil; sama-sama menanggung beban kehidupan.
Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang berdiri berdampingan adalah simbol kehidupan harmonis di Indonesia.
Juga terowongan Silahturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta merupakan simbol persahabatan dan kerukunan.
