
Pastor Johanis Mangkey MSC saat menyerahkan buku refleksi kepada Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC
Penulis: Frangki Wullur | Tomohon
Perayaan syukur 45 tahun imamat Pastor Johanis Mangkey MSC di Seminari Menengah Kakaskasen, Tomohon, Sabtu (18/7/2026), diwarnai ziarah ke makam rekan-rekan seangkatan, perayaan Ekaristi, serta peluncuran buku refleksi iman berjudul 45 Tahun Imamatku.
Dalam sambutannya, Pastor Johanis mengawali dengan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Uskup, para imam, biarawan-biarawati, serta seluruh umat yang hadir dalam perayaan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup Manado Mgr
Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, para rekan imam, umat sekalian, dan semua yang berkenan hadir dalam perayaan syukur 45 tahun anugerah imamat saya. Syukur ini bukan hanya milik saya, melainkan sukacita kita bersama,” katanya.
Pastor Johanis kemudian mengenang awal perjalanan panggilannya sebagai calon imam.
Ia mengisahkan bahwa pada Juli 1966, sekitar 60 tahun lalu, dirinya bersama 39 siswa lainnya memulai pendidikan di Seminari Menengah Kakaskasen.
“Saya memulai pendidikan calon imam di seminari ini bersama 39 rekan lainnya. Setelah tujuh tahun menempuh pendidikan, enam orang melanjutkan ke Seminari Tinggi Pineleng. Dua menjadi imam Projo Keuskupan Manado dan empat lainnya menjadi imam MSC,” ujarnya.
Ia juga mengenang hari tahbisan imam yang diterimanya pada 29 Juni 1981 bersama dua rekan, yakni almarhum Pastor Frans Rares MSC dan almarhum Pastor Aloysius Roong MSC.
“Penugasan pertama saya adalah sebagai pastor rekan di Paroki Katedral Manado. Setelah itu hingga sekarang saya tidak lagi bertugas di paroki, melainkan berkarya di lingkungan Tarekat MSC. Namun pelayanan sebagai imam tetap saya jalankan,” tuturnya.
Mengangkat tema dari Injil Matius 5:16, Pastor Johanis mengatakan bahwa perjalanan imamatnya selalu berpedoman pada ajakan Yesus agar setiap murid menjadi terang bagi sesama.
“Saya ingin agar terang itu bercahaya melalui pelayanan dan perbuatan baik sehingga Bapa di surga dimuliakan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Seminari Menengah Kakaskasen dipilih sebagai lokasi perayaan syukur karena memiliki makna yang sangat mendalam dalam perjalanan hidupnya.
“Perayaan syukur lima tahun lalu batal karena pandemi COVID-19. Seminari ini adalah tempat saya memulai pendidikan calon imam. Di kompleks ini pula dimakamkan dua rekan tahbisan saya yang telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Sebelum Misa dimulai, saya telah berziarah ke makam mereka,” katanya.
Menurutnya, seminari tersebut hingga kini tetap menjadi sumber lahirnya panggilan imam dan anggota Tarekat MSC, sekaligus melahirkan banyak alumni yang berkarya sebagai imam, bruder maupun awam di berbagai bidang pelayanan.
Pastor Johanis mengaku terharu melihat perkembangan seminari yang kini memiliki sejumlah bangunan baru, termasuk pembangunan ruang rekreasi bagi para seminaris.
“Saya berpikir, jika datang bersyukur di tempat ini, saya tidak ingin datang dengan tangan kosong. Saya ingin membawa sesuatu sebagai tanda syukur sehingga dapat menjadi secercah terang yang berguna bagi seminari,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Pastor Johanis Mangkey juga menyerahkan sejumlah donasi dari beberapa donatur untuk kebutuhan pembangunan ruang rekreasi bagi para Seminaris disaksikan Uskup Rolly Untu.
