
Jakarta, BeritaManado.com – Keluarga besar Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) Provinsi Indonesia kembali berduka atas meninggalnya Pater Aloysius Lerebulan MSC, Minggu (25/2/2024).
Informasi yang diterima BeritaManado.com, Pater Aloysius sempat memimpin Misa kedua di Gereja Katolik Paroki Ratu Rosari Suci Tuminting.
Pater Aloysius tampak biasa sebagaimana imam lainnya saat memimpin Misa, namun begitu tiba pada bagian dimana umat hendak menyanyikan Agnus Dei, tiba-tiba Pater Aloysius terlihat lemas dan langsung ditolong oleh dokter untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
Meski ada upaya untuk menolong, namun pada Minggu malam diperoleh kabar bahwa nyawa Pater Aloysius Lerebulan MSC tidak tertolong lagi akibat serangan jantung yang membuat Misa tidak selesai.
Pater Johanis Mangkey MSC kepada BeritaManado.com, menuturkan bahwa almarhum adalah kakak kelas tiga tahun sewaktu menjalani pendidikan di Seminari Pineleng.
“Beliau orangnya ramah, ceria dan banyak bercanda. Beberapa tahun terakhir menjalani aktivitas sebagai dosen teologi di Seminari Pineleng. Kedekatannya dengan banyak orang, khususnya frater-frater dan mahasiswa kateketik membuat almarhum sering dipanggil ‘Papi’. Setelah pensiun sebagai dosen, almarhum tinggal di Biara MSC Karombasan hingga tutup usia,” ungkapnya.
Pater Aloysius sendiri lahir pada 19 Juni 1950 di Ilngei, Kepulauan Tanimbar dan merupakan anak ke-3 dari 5 bersaudara dari pasangan suami istri David Lerebulan dan Melania Olinger.
Ada begitu banyak kenangan almarhum Pater Aloysius Lerebulan MSC yang membekas dalam kehidupan bersama pada pribadi-pribadi imam, bruder dan frater MSC.
Dari sekian banyak pengalaman yang menjadi kenangan, almarhum Pater Aloysius Lerebulan MSC juga dikenang sebagai Imam Eksorsis.
“Beliau mempunyai kemampuan mendeteksi kuasa-kuasa kegelapan. Dia mendalami bidang ini dan menulis buku seputar kuasa kegelapan dan eksorsisme,” kata Pater Johanis Mangkey MSC.
Panggilan menjadi imam tumbuh dalam diri Pater Alo sejak masih di bangku Sekolah Dasar.
Beliau tertarik menjadi seorang MSC melalui kesaksian hidup, kehadiran dan pelayanan para MSC.
Maka setamat Sekolah Dasar, Pastor Alo, begitu almarhum biasa dipanggil oleh umat maupun kenalan, memutuskan untuk masuk seminari dan menempuh pendidikan menengah pertama dan atas di Seminari St. Yudas Thadeus Langgur.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan pembinaan calon imam, Pater Alo ditahbiskan imam dan menerima beberapa penugasan dari Tarekat dan Keuskupan dalam karya kategorial dan teritorial/parokial di wilayah keuskupan Amboina.
Setelahnya, beliau diutus untuk menjadi formator di Skolatiskat MSC Pineleng dan sekaligus menjadi tenaga pengajar (dosen) di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng.
Lulusan Licentiat dari Universitas Alfonsiana, Roma ini, selain mengajar teologi moral dengan spesialisasi Moral Baptis dan Moral Keluarga, juga mengajar Pendidikan Pancasila, Ajaran Sosial Gereja dan pernah mengampu pelajaran Liturgi dan Homiletika, sehingga dari bahan kuliahnya beliau menghasilkan beberapa buku tentang homiletika.
Pater Alo dikenal cukup aktif dalam menulis buku dan beberapa diantaranya telah diterbikan oleh Percetakan dan Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Oleh para mahasiswa, beliau seringkali disapa dengan sebutan akrab “Papi Alo”.
