Kegiatan ini dilakukan di Pesisir Karangria Grand Luley Manado, Sulawesi Selatan, seminggu sebelum lomba.
Sekitar 100 nelayan lokal yang sudah diseleksi dari 1500 nelayan lokal dilibatkan dalam diskusi.
Di sini, nelayan berbagi pengalaman dan cerita dalam menghadapi berbagai tantangan di bidang perikanan dan kelautan.
Diskusi ini juga membahas akan dua sub-tema, pertama, “Kehidupan Laut Berkelanjutan dalam Aspek Lingkungan dan Kebudayaan untuk Nelayan Setempat serta Peningkatan Ekonomi Berbasis Pelayaran Ramah Lingkungan.”
Sub tema ini difasilitatori oleh Dahri Dahlan, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya UNMUL Samarinda dan penulis yang menaruh minat tinggi terhadap pendidikan, riset, seni, sastra, budaya, dan isu lingkungan.
Sedangkan sub-tema kedua, yakni “Penggunaan Layar: Kearifan Lokal, Pengetahuan, dan Teknologi Tradisional.”
Sub tema ini difasilitatori oleh Alex John Ulaen, antropolog dan peneliti lepas di Pusat Kajian Komunitas Adat dan Budaya Bahari, Yayasan MARIN CRC Manado.
Melalui diskusi ini, nelayan diajak untuk memahami tentang pentingnya keberlangsungan laut melalui konteks budaya dan teknologi tradisional.
Semua ini merupakan langkah-langkah penting Kemendikbudristek dalam mempromosikan keberlanjutan laut dan budaya perkapalan tradisional di Sulawesi Utara.
Sebagai tanda penutup bincang budaya, dilakukan penyerahan secara simbolis layar perahu kepada perwakilan nelayan.
(***/jenly)
