Opini

HR Bandaharo Penyair Besar Indonesia

Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (1)
Oleh A.Kohar Ibrahim

Sepatah Kata :
Seseorang mengaku telah salah faham melancarkan kritik bahkan tuduhan macam macam terhadap diri pribadi saya. Sebabnya katanya dia tak mengenal saya. Memang bisa dipahami, kalau orang semacam saya tidak dikenalnya, pertama lantaran sekian puluh tahun media massa dihegemoni oleh rezim militer OrBa/HMS.

Sejumlah besar pekerja kebudayaan, seniman, pengarang, penyair dipinggirkan, dibrangus, ditangkap, dipenjara, disiksa, dibuang sebagai eksilan dalam negeri pun mancanegara ; bahkan banyak yang dibunuh. Sebagian yang « tersisa », baru setelah ada sarana internet dan setelah era reformasi bisa menyiarkan karyanya lagi. Itupun sangat terbatas. Karena media massa dan sarana pers atau ruang aktivitas seni budaya terus ditangan orang orang pendukung OrBa/HMS atau yang termasuk dalam kantong kekuasaan sang rezim.

Selain itu, rezim Orba/HMS telah memalsukan sejarah, dengan mata pelajaran sejarah yang mencong dan juga siaran propaganda macam film yang ditayangkan tiap 1 Oktober (meski kemudian tidak punya nyali lagi meneruskan tradisi buruk tersebut.

Iya, memang, banyak yang tak kenal orang semacam saya. Jangankan saya, orang yang lebih senior dan kaliber kakap pun macam penyair HR Bandaharo, banyak yang tak mengenalnya. Untuk itulah, antara lain saya susun catatan-catatan tentang mereka.

Masih saya sadari bahwa dikarenakan satu atau lain hal, masih banyak yang belum saya lakukan. Naskah yang telah saya susun, kadang kala, dalam beberapa kesempatan, saya siar ulang. Sekedar untuk menggapai pembacanya lebih banyak lagi. Dan tujuan utama : berbagi saji, semoga bisa dijadikan bahan tambahan pertimbangan adanya. Terutama bagi generasi muda atau yang lebih muda dari saya.

Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (1)
HR Bandaharo – Penyair Besar Indonesia

Oleh:
A.Kohar Ibrahim

“Manusialah yang barangkali tidak berbahagia,
namun berbahagialah seniman
yang dimamah oleh rindu”
(Baudelaire)

BARIS kata-kata penyair Perancis Abad XIX yang dijuluki sebagai salah seorang pelopor Romantisme sekaligus puisi modern Perancis, disitir oleh seorang penyair tenar di zaman Sukarno, untuk mengawali Kata Pengantar yang ditulisnya untuk kumpulan puisi 3 Zaman. Yakni: HR Bandaharo alias Banda Harahap. Kupuisi (kumpulan puisi) yang dimaksudkan adalah “Sepuluh Sanjak Berkisah”, terbitan Yayasan SKBSI dan yang dicetak ulang oleh penerbit “World Citizen Press” Amsterdam, dengan pendaftaran resmi ISBN: 90-72669-01-0. 1987.

Dalam penerbitan cetak ulang yang dieditori oleh saya sendiri itu pun baris-baris kata puitis penyair Baudelaire tersajikan, seperti tersajikannya secara utuh kata pengantar dari Adam Lipsia. Dengan penegas-jelasan, bahwasanya pada saat penerbitan pertama itu penyair HR Bandaharo masih hidup, dan penerbitan kumpulan puisinya itu, dalam rangka sekedar turut memberi tanda akan ulang-tahunnya yang ke-70.

“Sepuluh Sanjak Berkisah”, tulis saya, adalah sekedar “echantillon” dari aktivitas-kreativitas seorang penyair rakyat Indonesia yang mendapat perhatian penting dari Indonesianis tenar Perancis: Henri Chambert-Loir. Dengan, antara lain menunjukkan, bahwa “un long poème, Sarinah et moi, qui est certainement son chef d’oeuvre, a été traduit par L.C. Damais in Cent-deux poèmes indonésiens. » (Sastra, Cahier d’Archipel 11.1980 hlm 161).

Iya. Mengingat situasi-kondisi obyektif yang kita hadapi ketika itu, semasa jaya-jayanya zaman Orde Baru yang melakukan pemberangusan secara sewenang-wenang atas kaum seniman, pengarang dan penyair macam HR Bandaharo, betapapun sederhananya penerbitan yang dihasilkan itu, sudah selayaknya disyukuri. « Meski kita punya impian – dalam rangka ultahnya itu adalah lebih patut seandainya diterbitkan sebuah antologi puisi yang betul-betul mewakili kepenyairannya selama setengah abad ».

« Apa boleh buat, » tulis saya meneruskan. Bahwa sampai detik itupun kita belum bisa mewujudkan impian tersebut. Baru sekedar dalam usaha untuk lebih meluaskan terbitan pertama itu. Dalam hubungan ini, mimpi bukan saja boleh…

Iya. Saya memang sengaja menggaris-bawahi soal mimpi dalam kaitannya dengan hidup dan kehidup-matian manusia, apalagi sang penyair, yang tergolong penyair romantis macam Hugo, Rimbaud dan Baudelaire itu !

« Kita mesti mimpi », tulis saya, hanya penegasan semata persetujuan saya akan ujar kata tertulis V. Oulianov sembari menyitir Pissarev akan bagaimana makna-memaknai saling-hubungan impian dengan kenyataan. « Lagi pula, apalah artinya kehidupan itu tanpa impian ? Tanpa adanya suatu cita-cita atau keyakinan dengan segala usaha demi pelaksanaan pencapaiannya ? Dalam artian ini, maka kita akan lebih memahami lagi baris-baris sajak Banda. Sebagaimana kita telah memahami pidatonya yang terakhir di depan para seniman. Hampir seperempat abad yang alu. Di depan Sidang Pleno Lembaga Senirrupa Indonesia. Maka jelaslah konsistensi Banda itu senantiasa menjelujuri kreasinya.

Apapun yang telah terjadi. Karena memang, “Apakah yang dapat dimatikan dan dimusnahkan / Pada kepercayaan yang dalam tertanam” sebagai dinyatakan oleh penyair terkemuka Malaysia Usman Awang. Banda sendiri mengukuhkan keteguhannya selain dalam baris kata puitis “tak seorang berniat pulang / walau mati menanti”, juga pula baris-baris sajaknya berbunyi:

musim dan tahun cepat melampau
tiada terasa tiada terduga menjadi tua
hanya mimpi yang tinggal tersisa
sekalipun mengabur tetap memukau
Dan dalam sajaknya berjudul “Elegi”, secara tegas dinyatakan: “tanpa cita-cita kau adalah musuh dirimu sendiri.”

Musim berlalu, tulis saya selanjutnya pula dalam kata pengantar itu. Tahun berganti. Banda telah menjadi seorang penyair yang tua usia. Suatu ketika akan meninggalkan yang lebih muda dan yang muda-muda. Tetapi kreasinya akan abadi. Yang muda-muda, dengan segala impiannya pun akan terus bermunculan. Seperti lidah-lidah api. Seperti burung Feng Huang.

Maka terjadilah apa yang sudah semestinya terjadi. Benar saja, sekian tahun kemudian, sang penyair kelahiran Medan, Mai 1917, itu meninggal dunia pada tanggal 1 April 1993. Di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Dalam keadaan miskin dan papa.
Naskah-naskah berupa bloknota memoir ini saya susun, dalam rangka mengenang 90-Tahun (1917-2007) HR Bandaharo Penyair Besar Indonesia Yang Takkan Pernah Terlupakan. ***

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara