Agama dan Pendidikan

Dua Guru, Dua Cahaya: Catatan Hati untuk Hari Guru Nasional

Beliau mengulang penjelasan berkali-kali, bukan karena kami lambat, tetapi karena beliau ingin memastikan tidak ada satu pun anak 11–12 tahun di ruangan itu yang merasa tertinggal.

Dari beliau kami belajar bahwa memahami dunia bukan hanya tugas ilmiah, tetapi juga perjalanan menemukan diri sendiri. Bahwa ada hubungan antara ruang, manusia, dan perjalanan hidup yang kelak akan kami pahami jauh setelah meninggalkan sekolah.

Untuk Dua Cahaya di Usia yang Masih Belajar Mengenal Dunia

Hari Guru Nasional ini menjadi momen untuk kembali menoleh kepada masa ketika kami masih sangat muda—ketika kami membutuhkan sosok panutan lebih dari apa pun, dan keduanya hadir pada waktu yang tepat.

Untuk Ibu Aminah Wonggo dan Bapak Jepko Mandey:
Terima kasih telah membentuk kami pada usia ketika kami belum tahu apa-apa, tetapi sangat membutuhkan arah.

Terima kasih karena mengajarkan ilmu, nilai, moral, dan rasa ingin tahu yang kelak menjadi bekal dalam perjalanan hidup.

Cahaya yang kalian nyalakan dua puluh tahun lalu masih tetap menyala sampai hari ini.

Selamat Hari Guru Nasional.

Terima kasih untuk semua guru yang pernah menjadi cahaya dalam hidup kami.

Firman Mustika SH, MH

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara