Agama dan Pendidikan

Dua Guru, Dua Cahaya: Catatan Hati untuk Hari Guru Nasional

Dua Guru, Dua Cahaya: Catatan Hati untuk Hari Guru Nasional
Firman Mustika SH, MH

Manado, BeritaManado.com — Setiap generasi punya cerita tentang masa sekolah, salah satunya dengan guru.

Ditingkatan apapun, pasti akan selalu ada yang namanya guru favorit, entah karena pendekatan dengan murid yang individual, atau bahkan alasan lainnya.

Setelah bertahun-tahun lulus dari bangku sekolah, guru akan selalu menjadi bagian dari cerita nostalgia tak terlupakan.

Salah satu yang merasakan hal itu adalah Firman Mustika SH, MH yang kini dikenal sebagai pengacara handal Sulawesi Utara, akademisi dan pengusaha, serta aktif di banyak organisasi kepemudaan maupun keagamaan.

Berikut adalah cerita Firman Mustika SH, MH, tentang guru idola di masa sekolahnya dan bagaimana dirinya bersyukur pernah menjadi murid dari para gurunya:

Ada masa dalam hidup yang tidak pernah benar-benar pergi. Bagi saya, masa itu adalah tahun 2000–2003, ketika saya berusia baru 11 tahun—usia yang rapuh, masa transisi, ketika dunia terasa sangat 8 orang tua

Di SLTP 1 Manado, di tahun-tahun itulah saya dipertemukan dengan dua guru yang menyalakan arah: Ibu Dra. Aminah Wonggo dan Bapak Jepko Mandey.

Ibu Dra. Aminah Wonggo — Menguatkan Kami Ketika Hidup Masih Sangat Awal

Pada usia 11 tahun, kami belum terlalu paham tentang konsep nilai, moral, atau hidup bermasyarakat. Namun PPKn yang diajarkan Ibu Aminah menjadi gerbang pertama yang membentuk cara pandang kami.

Beliau mengajarkan Pancasila bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai sikap hidup. GBHN bukan sebagai dokumen negara yang kaku, tetapi sebagai gambaran perjalanan bangsa yang harus kami pahami sejak dini.

Setiap kali memasuki kelas, Ibu Aminah membawa ketenangan. Beliau menanyakan bagaimana keluarga kami di rumah, bagaimana hubungan dengan tetangga, apakah kami rukun dengan teman-teman.

Di usia semuda itu, perhatian semacam itu terasa seperti pegangan tangan yang menuntun: bahwa yang penting bukan hanya pelajaran, tetapi bagaimana menjadi manusia yang baik.

Beliau selalu berkata bahwa hidup ini tidak abadi. Bahwa apa yang kita tanam dalam pergaulan dan sikap akan kembali pada kita dalam bentuk kebahagiaan.

Kini, setelah dewasa, saya sadar: PPKn bukan hanya mata pelajaran, tetapi fondasi karakter yang beliau bangun diam-diam di dalam diri kami.

Bapak Jepko Mandey — Guru Geografi yang Membuat Dunia Terasa Mungkin untuk Dipahami

Jika Ibu Aminah menanamkan nilai, maka Bapak Jepko membuka pintu pengetahuan yang lebih luas.

Geografi, di tangan beliau, bukan sekadar peta atau garis. Ia menjadi cerita besar tentang bumi dan manusia.

Gaya bicaranya yang khas membuat kami seperti terhipnotis. Dua jam pelajaran terasa terlalu sebentar karena setiap penjelasan beliau mengalir dengan runtut dan penuh makna.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara