Istilahnya karyawan tidak memiliki ‘sense of belonging’.
Ketiga, keberadaan karyawan tidak memberi nilai tambah pada perusahaan.
Dengan kata lain, karyawan tidak pernah mau ‘walk extra miles’. Mereka hanya terpaku pada ‘comfort zone’ sehingga keberadaan ataupun ketidakberadaan mereka tidak memiliki pengaruh signifikan dalam ‘daily operation’ perusahaan/organisasi tersebut.
Keempat, tipe karyawan yang tidak memiliki inovasi dan kreatifitas.
Karyawan tipe ini bertingkah mengikuti hukum ‘paku dan palu’. Artinya, hanya mau bergerak jika diperintah saja.
Tidak memiliki sikap proaktif dan inisiatif dan selalu kaku. Paku akan jalan jika dipukulkan dengan palu.
Dan tipe terakhir yang terparah adalah karyawan yang mengambil keuntungan dari perusahan.
Dalam artian, karyawan tipe ini menunggangi perusahan sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Bisnis di atas bisnis.
Oleh karenanya, fenomena ‘tenaga dalam’ harus terus diobservasi dan dievaluasi tinggi rendahnya kekuatan yang dimiliki agar langkah konstruktif dapat langsung diambil serta dilakukan perbaikan sebelum ‘tenaga dalam’ ini akan menjadi ancaman.
Sebagai kesimpulan yang dapat ditarik dalam uraian diatas: ‘tenaga dalam’ sudah pasti dapat menghidupkan perusahaan dan mendorong tercapainya visi dan misi dikarenakan ‘tenaga dalam’ merupakan pelaku utama yang mengenal jenis produk/jasa yang ditawarkan perusahaan.
Pelaku bisnis maupun pengurus perusahaan harus mampu melihat ‘tenaga dalam’ ini sebagai suatu senjata pamungkas yang menjadi andalan saat bisnis dijalankan.
Intinya, ‘tenaga dalam’ harus dibina, dilatih, diarahkan, diluruskan dan digunakan secara tepat dalam mengembangkan bisnis agar menjadi suatu kekuatan yang dapat diandalkan dalam persaingan bisnis.
Singapore Airlines sangat menyadari pentingya kekuatan ‘tenaga dalam’ khususnya yang berasal dari para awak cabinnya.
Hal ini-lah yang menjadikan perusahaan penerbangan ini diakui dunia dan selalu diingat oleh para customers.
Setiap crew memiliki keramah-tamahan luar biasa serta perhatian yang tulus dan melebihi dari apa yang diharapkan customer.
Kekuatan ‘tenaga dalam’ Singapore airlines harus dicontohi oleh pelaku bisnis lainnya. Begitu kuatnya pengaruh ‘tenaga dalam’ itu sehingga penumpang Singapore Airline sambung menyambung menebarkan ‘powerful word-of-mouth’.
Apa hasilnya? Kesuksesan, reputasi, dan keuntungan bisnis akan terus terjaga dan meningkat. Untuk itu, marilah kita terus membangun dan memelihara ‘tenaga dalam’ organisasi kita agar menjadi kekuatan ‘super’ yang mampu menunjukkan eksistensi bisnis dari organisasi dimana kita berada dan berkarya.(***)
