Sangat jelas bahwa strategi promosi efektif pasti dapat mendukung tercapainya target yang diharapkan.
Namun, ada satu hal yang mungkin tidak diberdayakan perusahaan tersebut, yakni kekuatan dari dalam yang merupakan strategi promosi ter-effektif sepanjang pengetahuan saya.
Apa itu ‘tenaga dalam’ organisasi? Dapat saya uraikan disini, ‘tenaga dalam’ organisasi adalah kekompakan dan motivasi dari dalam organisasi itu sendiri.
Semua anggota organisasi harus memiliki kekompakan dalam menjalankan visi dan misi.
Tidak boleh ada yang berubah haluan atau hanya berdiam diri saja.
Seluruh anggota harus bergerak ke arah yang sama dan memiliki motivasi bersama untuk memajukan organisasi tersebut.
Tidak ada orang yang lebih efektif sebagai promotor perusahaan selain karyawan (orang dalam) kita sendiri.
Seharusnya karyawan sendiri yang berjuang mati-matian untuk kesuksesan serta kelangsungan bisnis perusahaan tersebut.
Hal ini sering saya ungkapkan pada berbagai kesempatan seminar motivasi dan pengembangan sumber daya manusia di berbagai instansi.
‘Tenaga dalam’ yang paling berpotensi dan sangat akurat dalam membangun perusahaan adalah ‘orang dalam’.
Namun demikian, kita harus menyadari bahwa ‘tenaga dalam’ ini dapat juga menjadi suatu ancaman terbesar bagi ‘kelangsungan hidup’ perusahaan.
Kenapa saya utarakan demikian? Karena kekuatan tenaga dalam karyawan bisa disalah-gunakan dan malah menjadi bumerang (senjata makan tuan) bagi kelangsungan hidup bisnis kita.
Dengan kata lain, tenaga dalam karyawan dapat mematikan bisnis yang sedang dijalankan.
Banyak bisnis yang baru berkembang maupun sudah dalam posisi stabil harus gulung tikar alias bangkrut bukan disebabkan oleh ketatnya persaingan atau strategi promosi yang tidak tepat.
Seluruhnya disebabkan oleh sikap dan kinerja ‘tenaga dalam’ kita.
Kebangkrutan yang disebabkan dari ‘tenaga dalam’ dapat berasal dari berbagai tipe karyawan yang ada di dalam perusahan tersebut.
Pertama, karyawan tidak merasa menjadi bagian atau terintegrasi dengan perusahaan.
Kedua, karyawan tidak memiliki motivasi untuk turut menjaga dan ‘memupuk’ organisasi dimana dia ‘hidup dan bertumbuh’.
