
Manado – Minuman tradisional Cap Tikus tak luput dari perhatian Benny Mamoto, Calon Gubernur Sulawesi Utara. Menurut Mamoto, pemerintah kedepan perlu memberikan subsidi untuk pengalihan produk cap tikus menjadi minuman beralkohol berkualitas.
“Cap tikus bagian dari budaya dan tidak bisa dihilangkan. Yang perlu dilakukan adalah mengalihkan cap tikus menjadi produk minuman keras berkualitas tinggi, dikelola di pabrik moderen dengan berbagai cita rasa dan bisa dieksport,” ujar Benny Mamoto.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang semakin dekat, mantan Deputi BNN dan pejabat pencegah pemberantasan terorisme ini bertekad menciptakan produk sekaligus SDM Sulut yang berkualitas melalui sertifikasi produk dan sertifikasi keahlian.
“Ketika MEA kita manfaatkan barang keluar dengan standart. Mestinya sekarang sudah tahap sertifikasi ASEAN. MEA ada kesepakatan antara negara maju dengan kita mencari standart. Tidak hanya sertifikasi produk tapi juga sertifikasi keahlian,” jelas Mamoto. (michael)

TEROBOSAN CAPTIKUS…
Sangat setuju captikus dicari terobosan, selain demi mempertahan nilai2 luhur budaya dan harga diri tapi juga demi peningkatan value-added untuk kemakmuran…
Semua orang kawanua tentu akan angkat 'senjata' jika kearifan lokal yang seyogianya dibina, dibinasakan…
Captikus bukan sekedar alkohol bukan juga sekedar mabuk. Tapi lebih bernilai intrinsik terkandung mengkristal sejak berabad2 minahasa berdiri…
Sudah terlalu banyak cerita heroik dan mengharukan menghiasi & menghantar captikus sampai hari ini…
Ekses negatif yang mungkin terjadi adalah lain soal seperti ekses2 alkohol lainnya yang tentu perlu diawasi. Tetapi jangan sampe menangkap tikus dengan cara membakar lumbung…
Jadi para elit & pengambil keputusan seyogianya hati2 dalam memproduksi wacana retorika gagal paham dan menyesatkan seperti ini. Masyatakat melihat pengalihan isu murahan ini demi menutupi kegagalan pusat membangun daerah selama ini…
Keberpihakan politik anggaran yang menjadi mimpi rakyat minahasa sejak bergabung dengan nkri, permesta dan sampai hari ini ternyata hanya isapan jempol penikmat pra-tidur (bayi gak pernah gede2)…
Janji2 bual terus dihembus berpuluh2 bertumpuk2 sampe lupa janji tsb pernah ada. Potensi demi potensi dan imaginasi tumpul pelipur lara…
Saatnya rakyat sulut bangkit berjuang demi cita2 luhur Minahasa Raya yi: pemerataan yang berkeadilan dan akses (sektor keuangan & real) internasional seluas2nya…
Kita mulai dari perjuangan politik anggaran yang lebih memihak kepada daerah Sulut secara konsisten, secara simultan kita tingkatkan secepat2nya kualitas sdm & infrastruktur, selanjutnya kipra internasional…
Sebagai misal APBD sulut terindikasi semestinya 150t bukan sekedar 35t.
bersambung…
lestarikan budaya daerah it bgus dan langkah Bpk Benny Manoto bagus trg musti jga budaya daerah jgn adanya cap Tikus di daerah minahasa trng seenaknya abis mengomsumsi cap langsung berbuat anarkis kalo saya liat di setiap daerah cap tikus it ad apalagi di daera2 yg dinggin dan in kan lgi musim2 hujan trng bole mengomsumsi cap tikus mar jga ukur sadiki jgn talalu bnyk apalagi orng yg rese kebanyakan khasus2 kriminalitas ad sebangian yg mengomsumsi cap tikus mengakibatkan KEMATIAN da it ad di lingkungan sekitar kita. iko2 joh yg penting qt BEDA
Saya kira kalau soal keamanan atau kriminalitas bukan masalah utamanya bukan pada miras melainkan pada masyarakatnya sendiri…
sebagai contoh…
di Sulawesi Utara, barangkali salah satu kota yang paling tinggi tingkat konsumsi miras itu adalah Tahuna…
dalam semalam, total omzet pedagang miras se kota, bisa mencapai 20 jutaan…
kalau rata2 harga per botol 20.000 berarti kira2 ada 1000 botol dikonsumsi dalam semalam…
kenyataannya…
Tahuna adalah kota paling aman di Sulawesi Utara…
anda bisa berjalan kaki keliling kota tahuna pada pukul 12 malam tanpa ada orang yang akan mengganggu atau mengusik anda…
Anggota polisi yang bertugas di polsek maupun polres biasanya hanya duduk berjaga di pos mereka tanpa harus sibuk kesana kemari…
Jadi janganlah gangguan kamtibmas sepenuhnya miras yang jadi kambing hitamnya….
beragam penyebabnya…
Kesenjangan sosial…kurang kepedulian dari pemerintah terhadap masyarakat…persoalan keluarga…permasalahan rumah tangga…asmara….dan sebagainya…
miras seringkali jadi tameng…
contohnya….seseorang yang punya niat untuk membuat keributan…maka ia akan mengkonsumsi miras terlebih dahulu agar punya alasan, bahwa ia melakukan itu karena mabuk atau dibawah pengaruh miras…padahal sekalipun telah mengkonsumsi miras, ia sadar sepenuhnya baik dan benar perbuatannya dan akibatnya…
beda
Budaya cap tikus ini mesti dihapus , bukang dipertahankan . Jadi mo ganti slogan ” Lanjutkan Bagate ” ?
Bpk Benny Mamoto Adalah Calon Pemerinta Yang Sangat Peduli dengan Rakyatnya, contohnya bpk. Benny Mamoto tau Bahwa Cap tikus itu Bukan di hilangkan tetapi Di kembangkan dengan cara yang modern sehingga cap tikus bisa di angkat jadi produk yang berkwalitas di pasaran. Bpk. Benny Memang Yang Terbaik…
So apa tuh dorang mo bekeng, iko jo karena kita BeDa
Jangankan cap tikus. Pa benny saja yang dijadikan budaya wow sudah heebat kitanya karena kitanya berBeDa
Budaya memang wajib kita jaga dengan tetap memperhatikan relevansi perkembangan jaman. Saya setuju dengan peningkatan kualitas dan sertifikasi produk lokal supaya dapat menambah nilai tujuan wisata Sulut, tentu dengan adanya perda atau regulasi yang diimbangi dengan penindakan yang tegas bagi pelanggarnya.
Sangat brilliant ide dan pemikiran seorang Doktor (S3) dari UI ini. Mudah2an harkat dan martabat para petani semakin naik jika ‘cap tikus’ diolah secara baik, lebih bermutu dan berkualitas tinggi, agar bisa bersaing di pasar dunia untuk tujuan ekspor. Sedangkan peredarannya di daerah sendiri memang harus dikontrol secara ketat. Sulut berjati diri lokal dan berintegritas bersama BEDA!!!
Mr. Benny, budaya yang perlu di lestarikan itu adalah budaya yang baik yang bisa membawa kebaikan bagi manusia dan alam sekitarnya. Jika budaya itu tidak baik dan hanya merusan, kenapa tidak di hentikan?
Itulah yang namanya tendesius…
Jika ada hal lain yang dikampanyekan atau kelebihan BM… tidak akan dipublikasikan atau diberitakan…
tapi tiba2 ada berita BM…eh yang sudah diperkirakan akan dikritisi oleh pembaca…
tapi harus cermati pernyataan BM diatas…
bukan mendukung tradisi mengkonsumsi miras…
melainkan mengalihkan produksi cap tikus menjadi salah satu komoditi berkualitas daerah yang dapat diekspor…
kalau Bimoli saja bisa menjual minyak kelapa kelas bahwa ke pasaran lokal sedangkan yang kualitas terbaik dieksport…. kenapa untuk cap tikus tidak bisa dibuat lebih baik lagi…
Kurangi produksi miras biasa untuk pasaran lokal dan alihkan menjadi kualitas eksport…
bravo BM…!!!
Belajar dan dapat ide darimana itu Captikus bisa bersaing dan bisa di export?
.
Mau bersaing dengan vodka deng sake??
Ada-ada saja
Gw mau ngajar dikit pelajaran kuliah buat siswa DO…
Cap Tikus adalah produk minuman beralkohol yang diolah dari pohon Nira…
Cap tikus merupakan bahan baku untuk minuman beralkohol produksi dan pasaran lokal seperti Tandu Rusa, Kasegaran dll…
Kita lihat apa itu Vodka…
Vodka merupakan adalah sejenis minuman beralkohol berkadar tinggi, bening, dan tidak berwarna, yang biasanya disuling dari gandum yang difermentasi. Beberapa vodka dibuat dari kentang, molasses, kedelai, anggur, beras, bit gula.
Vodka dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok utama, clear vodka-tanpa rasa dan flavored vodka-dengan perisa.
Meskipun sebagian besar vodka tanpa rasa, banyak vodka dengan rasa diproduksi di negara yang memproduksi vodka secara tradisional, sering kali menggunakan resep rumahan untuk meningkatkan kualitas rasa vodka atau untuk keperluan pengobatan. Rasa yang dapat ditambahkan dapat berupa paprika, jahe, buah-buahan, vanilla, coklat (tanpa pemanis), dan kayu manis. Di Rusia, vodka diberi rasa madu dan lada dengan brand pertsovka juga sangat populer.
Sake
Aadalah sebuah minuman beralkohol dari Jepang yang berasal dari hasil fermentasi beras. Sering juga disebut dengan istilah anggur beras.
Sake juga diproduksi di China dan Korea dengan versi mereka sendiri…
Jika ada pemimpin cerdas…dapat dilakukan studi banding dinegara lain dan mengajak investor untuk melakukan riset untuk memproduksi Cap Tikus kualitas eksport yang tentu saja dapat dibuat sebuah produk Cap Tikus dengan merek dagang yang lebih Go Internasional… seperti yang sudah cukup dikenal “SALLEDO” dengan botol kemasan yang variatif untuk keperluan eksport…
Menurut saya ide brilian Benny Mamoto ini lebih masuk diakal dibandingkan membangun Bendungan dengan anggaran triliunan yang dianggap masuk diakal…heheheheh…ada ada saja…
Membangun sebuah jembatan saja Sukar No… apalagi bendungan…hahahahaha
MAksud ente mo se ajar baca wiki? you COPAS kong se ajar kurang tambah sadiki. sok pande? Tahu nda ente siapa yang sadur tu id.wikipedia.org/wiki/Vodka ??
.
So brapa ente pe tulisan di setunjung kamari? KOng der tahon brapa ente semaso tulisan di WIKI? Kalu kita baru 26, ada tu bahasa Indo deng ada tu bahasa asing…..
.
Mengankat culture daerah itu hampir samua orang punya keinginan dan bangga..itu namanya fanatisme daerah.
Maar tu nda war2 apalagi beking janji2 for politik, kong tu janji nda masuk akal kita paling protes.
.
Nda maso akal ngoni mo beking captikus jadi andalan….pertama Minahasa harus seperior globally dulu baik ekonomi dan kekuatan lainnya baru product culturenya yang terkait ekonomi bisa terangkat….Ini ratusan tahun…
.
Whiskeyatau minuman alkohol lain itu butuh ratusan tahun baru dikenal dunia. itupun harus jadi penjajah dulu.
Kalian pikir cuma sama deng mo sebobale telapak tangan??
.
Bendungan itu sangat2 masuk akal.
Cuma kalau ngana pe pikiran picik baru nda masuk akal…
Pembangkit listrik, cegah banjir, pariwisata, perikanan…apa lei.
Oh io tape tanah jadi mahal kan dekat danau :):)
.
Captikus?
Di INdonesia saja nda bisa bersaing so bicara Internasional.
.
INi gollongan sebrang ini selalu bicara Internasional, mulai dari kota wisata internasional, record dunia internasional….Samua dipakai buat jualan politik.
Bersaing dulu deng Bali, ujung pandang, balikpapan…bukan mo shortcut!
hehehehe…bro Adano saking semangatnya mendukung junjungannya, sampai harus melecehkan orang minahasa….
kata Adano :
“Minahasa harus seperior globally dulu baik ekonomi dan kekuatan lainnya baru product culturenya yang terkait ekonomi bisa terangkat….Ini ratusan tahun…”
wah menghina sekali itu bro…hehehehe…
Jadi maksud bro, orang minahasa harus tau diri dulu baru bicara mau eksport cap tikus…
maksudnya saat ini minahasa itu kere dari segi ekonomi dan loyo dari segi kekuatan dan sampai ratusan tahun akan begitu terus…????? hahahaha… Adano, you punya statemen malah akan jadi bumerang…jangan lupa, calon junjungan anda juga putera terbaik minahasa…
Sebagai informasi buat anda kalau menganggap pembangunan Bendungan itu masuk akal, saat ini ada pembangunan bendungan di jawa yang menggenangi 5 kecamatan, 28 Desa…
Jadi program andalan pembangunan bendungan ini harus disosialisasikan dan diinformasikan pada warga di kawasan yang direncanakan akan dibangun bendungan,mengingat bahwa mereka harus merelakan tanah air kesayangan mereka dibanjiri… digenangi air menutupi tanah selamanya demi listrik dan pariwisata…anggap saja banjir yang ingin dicegah itu sudah dirapel sekalius menjadi tsunami…
biar mereka semua bisa turut membantu menjadi tim sukses…hehehehehe…
Tapi perlu juga perhatikan efek negatif yg ditimbulkan.. Ingat, kriminalitas di Sulut sebagian besar ditimbulkan oleh Cap Tikus dan sejenisnya.. Jadi mhon regulasi pmasarannya harus diperhatikan..