
Minsel, BeritaManado.com – Minuman beralkohol (Minol) tradisional khas Minahasa, Cap Tikus, masih menjadi target operasi pihak Kepolisian.
Padahal, banyak warga Minahasa yang menjadi Petani Cap Tikus dan menggantungkan hidup keluarga mereka dari Minol tradisional ini.
Baik untuk biaya hidup sehari-hari, juga biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga Sarjana.
Yosua Renaldi Sinaulan (22) adalah salah satu sosok anak petani Cap Tikus asal Desa Malola, Kabupaten Minahasa Selatan yang kini sudah meraih gelar Sarjana Administrasi Publik (S.AP) di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Ilmu Administrasi Negara.
“Saya bisa sarjana karena kemurahan Tuhan, dengan hasil tani bapak saya lewat produksi Cap Tikus secara tradisional,” ucap Yosua, kepada wartawan Beritamanado.com, Kamis (30/5/2024).
“Saya sangat bersyukur karena boleh berada di tahap ini yang mungkin rasa-rasanya sulit dan penuh perjuangan,” ujarnya lagi.
Lanjut dia, walaupun Cap Tikus sering dikriminalisasi dan di cap negatif dikalangan masyarakat tapi disisi lain Cap Tikus punya nilai kehidupan yang terkandung didalamnya.
“Cap Tikus menjadi mata pencaharian dan menhidupkan banyak orang diluar sana,” ungkap Yosua, mantan Ketua Umum MPM UNSRAT Masa Bakti 2022-2023.
Mungkin, kata dia, dirinya adalah salah satu dari sekian banyak yang merasakan dampak positif dari Cap Tikus.
“Semoga Cap Tikus bisa diperhatikan oleh pemerintah dan dipulihkan nama baiknya di masyarakat,” pungkasnya.
TamuraWatung
