Ditulis Oleh:
Renny R Budijanto, PhD Candidate
Faculty of Education – University of Canberra – Australia
Penerima Beasiswa Unggulan Diknas
Tinggal di Australia
==Membaca satu situs dari surat kabar terkemuka edisi Jumat 20 Mei 2011 yang lalu, mengenai bagaimana seorang ayah menyarankan anaknya agar mengurungkan niat si anak untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi karena ketidak mampuan sang ayah untuk membiayai kuliah sang anak, meskipun si anak berhasil lolos test masuk ujian perguruan tinggi, terasa sedikit tergugah hati ini.
Betapa tidak, generasi penerus bangsa yang akan menjadi tulang punggung kemajuan Negara dimasa yang akan datang tak sanggup melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena kendala biaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerataan pendidikan di negara ini masih dirasa tak adil.
Jangankan untuk rakyat kecil, untuk masyarakat umum level menengah saja akan terasa berat untuk membayar uang masuk Perguruan Tinggi yang besarnya hingga puluhan juta rupiah. Biaya ini belum termasuk biaya studi lainnya yang mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, biaya buku ataupun biaya penelitian.
Sebenarnya Pemerintah sepenuhnya menyadari bahwa sumber daya manusia terdidik merupakan aset negara yang paling berharga dalam mengejar ketertinggalan, agar bangsa ini dapat disejajakan dengan negara2 yang lebih maju. Keinginan Pemerintah untuk dapat menjembatani permasalahan ini tercermin dalam bentuk program-program bantuan finansial yang dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat umum.
Salah satu program yang diluncurkan pemerintah sejak tahun 2006 yang lalu adalah program “BEASISWA UNGGULAN”. Program ini dicanangkan Pemerintah dalam rangka mengembangkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam bentuk pemberian bantuan finansial untuk pendidikan tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Beberapa skema yang dibuat oleh Pemerintah melalui Kemdiknas memungkinkan masyarakat untuk dapat mengajukan aplikasi sesuai dengan kebutuhan. Jenis beasiswa yang ditawarkan adalah Beasiswa Unggulan untuk program Sarjana (jenjang S1), Magister (Jenjang S2) dan Doktor (jenjang S3). Seluruh masyarakat umum baik dari kalangan olahragawan, politisi, wartawan, tokoh, seniman ataupun peneliti dapat memanfaatkan bantuan finansial dari Beasiswa Unggulan untuk mensupport biaya studi lanjutan.
Adapun bentuk beasiswa yang ditawarkan dapat berupa biaya pendidikan, biaya hidup, biaya operasional, biaya buku, biaya penelitian atau biaya publikasi ilmiah. Beberapa bentuk bantuan lainnya bisa berupa tunjangan kreatifitas, tunjangan prestasi, bantuan untuk mengikuti workshop atau shortcourse di luar negeri, bahkan pembiayaan untuk mengikuti konferensi atau lomba karya ilmiah Internasional.
Dalam tulisan ini saya sekaligus ingin berbagi pengalaman dengan masyarakat umum ketika saya melakukan aplikasi “BEASISWA UNGGULAN” untuk mensupport studi saya. Kemajuan teknologi turut mewarnai proses aplikasi ini dimana penggunaan fasilitas seperti Internet, website, email, Mobile Phone dan sms terasa menyatu dengan pelayanan dari Sekertariat BPKLN (Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri-Kementrian Pendidikan Nasional), menjadikan aplikasi diproses dengan sangat profesional dan cepat.
Pelayanan yang diberikan oleh Sekertariat BPKLN sangat bertolak belakang dengan pandangan umum yang terkesan selama ini jika berhubungan dengan kalangan birokrat, seperti misalnya lambat, sulit atau berbelit. Proses aplikasi dapat dilakukan secara online dengan mengunduh formulir pendaftaran Beasiswa Unggulan dari website : www.beasiswaunggulan.kemendiknas.go.id. Satu hal yang juga membuat saya surprise adalah kecepatan proses pencairan dana “BEASISWA UNGGULAN”, dimana dana beasiswa sudah effektif dalam rekening hanya dalam kurun waktu dua minggu setelah penandatanganan kontrak. Satu bukti nyata keunggulan penggunaan teknologi jika pihak Birokrasi sudah berkomitmen dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
Untuk membantu kelancaran dan kecepatan prosesnya, ada banyak hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan aplikasi beasiswa. Selain prestasi, hal lain yang penting untuk dicermati adalah pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan, misalnya kelengkapan dokumen, ketelitian dalam pengisian formulir serta pemberian data yang update. Hal2 yang kelihatannya sepele terkadang sangat menentukan keberhasilan dan kecepatan dalam proses aplikasinya. Sebagai contoh, jika alamat email sudah tidak update, atau nomor telephone yang diberikan tidak dapat dihubungi, atau salah memberikan nomor rekening, maka proses akan menjadi lambat dan bertele-tele.
Seandainya banyak masyarakat mengetahui informasi ini, diharapkan semakin banyak pula generasi muda yang dapat terbantu terutama bagi mereka yang masih memerlukan support finansial untuk dapat menyelesaikan studinya. Keberanian, kebesaran hati serta sifat pantang menyerah perlu ditanamkan sejak dini kepada seluruh kalangan masyarakat agar mereka tidak segan untuk mencoba berbagai peluang yang ditawarkan oleh banyak pihak yang dapat memberikan bantuan biaya pendidikan. Tentu saja diharapkan bahwa alumni penerima beasiswa pendidikan dapat mengabdikan ilmunya untuk kepentingan seluruh rakyat, bangsa dan Negara Indonesia tercinta.
Mari kita tingkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan memajukan pendidikan di Negara ini. (***)
