Sisi positif lainnya lanjut Worang, transaksi fisik di era new normal akan berkurang.
Katanya, uang elektronik menjadi kebutuhan utama manusia pada aktifitas jual-beli.
“Ini bagus karena mengurangi penggunaan uang kertas dan kontak fisik diminimalisir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan uang elektronik akan mendukung sistim digitalisasi di dunia perbankan.
Apalagi kata dia, jumlah uang kertas rusak yang dimusnahkan jika ditotal mencapai Rp2 Miliar per pekan.
“Dan itu baru di Sulut, bagaimana se-Indonesia,” tutur Gerard.
Di masa ini, Gerard berharap Bank Indonesia memberikan kebijakan pengurangan tarif transaksi online.
Apalagi kata dia, semua kalangan akan beralih ke pembayaran digital sehingga perlu ada penyesuaian dari pemerintah.
“Untuk transfer dan sebagainya, jangan terlalu mahal biayanya apalagi jika transaksinya kecil. Semoga ini jadi perhatian serius,” tandasnya.
Ia menambahkan, tugas pemerintah sekarang adalah menyesuaikan kebijakan dengan tatanan baru.
Selain itu, perhatian serius kepada mereka yang kehilangan pekerjaan untuk diberikan pembinaan dan pelatihan sesuai keadaan zaman.
(Alfrits Semen)
