
Pineleng, BeritaManado.com — Biara Domus Orationis Kawatak yang ditahbiskan pada 3 Oktober 2004 silam kini mulai memanen hasil dari benih iman yang disemai 19 tahun silam.
Seorang putri dari pasangan suami istri Beni Paslima dan Ellen Kayuwatu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan keluarga besar Suster Dina Santo Yoseph (DSY).
Berkat dukunga orangtua dan umat Katolik Stasi Maria Mater Redemptoris Kawatak dan Paroki St Petrus Langowan serta bimbingan dari Suster Pembina, Stella Paslima boleh menerima busana rohani dengan mengenakan nama Suster Margaretha Paslima DSY.
Suster Ressy Theresita DSY sebagai Pembina Postulan, kepada BeritaManado.com, Minggu (11/6/2023) mengatakan bahwa kehadiran Suster Margaretha dalam Komunitas Suster DSY adalah jawaban dari intensi yagn senantiasa didoakan sejak Biara Domus Orationis Kawatak ditahbiskan 19 tahun lalu.
“Dalam intensi yang sering kami doakan saat masih bertugas di Kawatak adalah adanya panggilan yang lahir dari putri-putri Desa Kawatan dan Paroki St Petrus Langowan pada umumnya untuk menjadi biarawati DSY,” ungkap Suster Theresita.
Ditambahkannya, Rentang waktu 19 tahun cukup panjang untuk sebuah penantian dan jika diukur dengan keinginan manusia, itu sangatlah lama.
“Namun dari kacamata iman, kami yakin bahwa momentum penerimaan busana rohani Suster Margaretha Paslima DSY ini adalah rencana Tuhan yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya dan doa panjang itu baru terjawab Sabtu kemarin,” ucapnya.
Suster Theresita juga menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah awal dan Suster Margaretha masih harus menapaki perjalanan panggilan yang panjang.
“Disinilah letak peran kita sebagai rekan se-komunitas, umat dan keluarga termasuk orangtua untuk terus mendukung perjuangannya dalam doa. Tujuannya adalah untuk tetap meneguhkan panggilannya dalam bingkai kesetiaan,’ tandasnya.
Suster Theresita juga menceritakan kesaksiannya yang menjadi bagian dari perjalanan awal panggilan Suster Margaretha atau yang kesehariannya biasa disapa Stella.
“Dulu sewaktu masih bersekolah, Stella dan teman-teman sekolahnya setiap hari berkunjung ke Biara DSY Kawatak serta sering bertemu dengan saya. Interaksi kami waktu itu seperti biasa saya dengan orang-orang diluar komunitas. Namun inilah yang dinamakan jodoh Tuhan, dimana dari sekian banyak remaja putri Desa Kawatak yang sering main ke Biara, Tuhan memilih satu diantara mereka dan orangnya adalah Suster Mamrgaretha Paslima DSY,” tuturnya.
Suster Theresita juga mengungkap kebanggannya, karena bisa bertemu dengan orang yang sama di tempat yang berbeda.
“Jika saat benih panggilan mulai disemai, saya dan Stella adalah sahabat yang sering berbagi cerita dan sering membawa Stella dan teman-temannya pelayanan ibadah ke stasi-stasi. Namun, kini saya dan beliau bertemu langsung di komunitas sebagai Pembina dan seorang Postulan,” ujarnya.
(Frangki Wullur)
