Pergeseran musim panen tanaman pangan dan terjaganya permintaan sektor hilir perkebunan pada triwulan Il menopang pertumbuhan positif LU ini.
Sementara itu, LU industri tercatat tumbuh positif sebesar 5,24 persen (yoy) sejalan dengan kinerja ekspor minyak nabati/hewani (HS Code: 15) yang tumbuh sebesar 23,53 persen (yoy).
Dari sisi pengeluaran, kontraksi ekonomi terjadi pada seluruh komponen terutama konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menjadi kontributor terbesar ekonomi Sulut.
Konsumsi Rumah Tangga pada TW Il 2020 terkontraksi sebesar 6,28 persen (yoy), konsisten dengan penurunan kinerja lapangan usaha utama perekonomian Sulut.
Berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Sulut Arbonas Hutabarat dalam keterangan persnya mengatakan, penurunan kinerja LU utama yang dominan menyerap tenaga kerja berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat yang ditransmisikan pada kontraksi konsumsi rumah tangga.
Selain itu, pembatasan aktivitas sosial menyebabkan realisasi konsumsi rumah tangga tertahan sekalipun pada periode musiman peningkatan permintaan bersamaan dengan peringatan Paskah, serta bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh pada triwulan laporan.
“Investasi terkontraksi sebesar -8,41persen (yoy) pada TW Il 2020,” ujar Arbonas.
Realokasi anggaran APBN maupun APBD di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota menyebabkan ruang belanja modal terbatas.
Dari sisi swasta, peningkatan ketidakpastian ekonomi menyebabkan dunia usaha cenderung menahan investasi.
Hal ini tercermin dari realisasi investasi PMA maupun PMDN yang kontraktif pada TW Il 2020.
Konsumsi pemerintah tercatat terkontraksi sebesar -4,36 persen (yoy).
Kontraksi konsumsi pemerintah juga sejalan dengan terkontraksinya kinerja administrasi pemerintahan.
Kontraksi konsumsi pemerintah salah satunya disebabkan penurunan realisasi belanja pegawai akibat realokasi anggaran dan penurunan THR.
Selain itu kinerja belanja barang diperkirakan belum maksimal sebagai dampak penyesuaian pola kerja work from home.
Ekspor terkontraksi -5,04 persen
Ekspor juga terkontraksi sebesar -5,04 persen (yoy) pada TW Il 2020.
Dari sisi ekspor luar negeri, penurunan ekspor perikanan menjadi salah satu penahan kinerja ekspor.
Selain itu, ekspor jasa diperkirakan terkontraksi signifikan seiring dengan tidak adanya penerbangan internasional ke Sulut selama periode April-Mei 2020.
Adapun kinerja perdagangan antar pulau yang turun terbatas menahan kontraksi ekspor lebih lanjut.
Sementara itu impor juga tercatat terkontraksi sebesar -15,33 persen (yoy).
Penurunan impor terutama terjadi pada komoditas-komoditas intermediasi dan barang modal.
Penurunan impor barang intermediasi sejalan dengan kinerja ekspor yang kontraktif.
