
BITUNG—Anastasia Kansiang (24) warga Kelurahan Batu Lubang Kecamatan Lembeh Utara hanya bisa termenung menatapi bayi perempuan yang baru dilahirkan di salah satu ruangan Rumah Sakit (RS) Budi Mulia Kota Bitung. Tak terpancar sukacita atau kegembiraan sama sekali dari mukanya, layaknya pasutri lain yang bisa mendapat momongan baru.
Bahkan, bukan hanya Kansiang yang “muram” menyambut lahirnya bayi mungil tersebut, tapi pihak keluarganya juga merasakan hal yang sama. Bahkan bisa dikatakan, keluarga Kansiang saat ini pusing tujuh keliling harus mencari cara menanggung biaya persalian yang mencapai puluhan juta.
Dan yang lebih membuat muram Kansiang adalah keputusan pihak RS yang menahan dirinya dan bayinya sebagai jaminan, hingga ia melunasi semua biaya persalinan dan perawatan di rumah sakit tersebut.
Jumlahnya memang tidak sedikit, yakni Rp10.111.500,- semua biaya yang harus dilunasinya. Dan jelas baginya jumlah tersebut sangat besar dan sangat sulit untuk dijangkau, kendati ia dan keluarganya sudah mencoba untuk mencari pinjaman.
Lebih memiriskan lagi, pihak RS Budi Mulia tutup mata terhadap apa yang dialami Kunsiang, tanpa kompromi atau keringanan sedikitpun. Dan tetap berpegang teguh pada keputusan, biaya persalinan dan perawatan lunas, Kunsiang dan bayinya bisa pulang.
Kisah “penyaderaan” RS Budia Mulia ini sendiri sampai ke telingan Pemkot Bitung dan Sekkot Bitung, Edison Humiang meminta Camat Maesa, Sifri Mandak untuk melakukan pengecekan. “Menurut informasi dari RS, Kunsiang sendiri menjalani perawatan untuk melahirkan di RS tersebut tanggal 4 November 2011. Dan menurut dokter ia harus menjalani operasi karena tidak dapat melahirkan normal,” kata Mandak, Selasa (22/11).
Pihak RSpun menurut Mandak, memutuskan untuk merujuk Kunsiang ke RSUD terdekat karena ia memiliki kartu Jamkesmas. Namun rujukan tersebut ditolak pihak keluarga dan meminta melakukan operasi dengan jaminan ibu kandungnya, Yulianan Lendan dan Rifka Mokoagouw.
“Katanya sudah ada perjanjian antara penjamin dengan RS. Dimana pihak keluarga menyanggupi memberikan panjar Rp5 juta sebelum operasi dimulai. Namun hingga kini baru Rp3 juta yang dibayarkan dari total Rp10.111.500,-,” katanya.
Lebih lanjut Mandak mengatakan, saat ini Kansiang dan bayinya ada di ruangan Santa Maria RS Budi Mulia. Dan pihak RS tetap meminta agar sisa persalinan dan perawatan Rp7.115.500,- dilunasi terlebih dahulu baru Kunsiang dan bayinya diperbolehkan pulang.
“Data yang diberikan RS ini akan saya sampaikan ke pimpinan. Nanti keputusannya seperti apa itu tergantung pimpinan,” ujar Mandak.(en)
