
Manado, BeritaManado.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara melaporkan kinerja perdagangan luar negeri Sulut yang tetap menunjukkan tren positif hingga Agustus 2025.
Nilai ekspor kumulatif tercatat mencapai US$ 790,79 juta, meningkat tajam sebesar 50,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sementara itu, impor menurun 26,12 persen sehingga neraca perdagangan kembali mencatat surplus besar sebesar US$ 64,19 juta pada Agustus 2025.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Aidil Adha, S.E., M.E., mengatakan bahwa peningkatan nilai ekspor didorong oleh melonjaknya pengiriman komoditas unggulan, khususnya kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS-15).
“Komoditas HS-15 berkontribusi paling besar, mencapai 70,96 persen dari total ekspor kumulatif atau senilai US$ 561,16 juta,” jelas Aidil dalam keterangan resmi, Rabu (1/10/2025).
Selain HS-15, ekspor komoditas ikan, krustasea, dan moluska (HS-03) mencatat nilai US$ 62,31 juta, meskipun turun tipis 0,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun kelompok olahan dari hasil laut (HS-16) juga menurun 10,43 persen, menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas produksi dan diversifikasi pasar.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Sulawesi Utara dengan nilai ekspor US$ 183,81 juta atau 23,24 persen dari total ekspor.
Posisi berikutnya ditempati oleh Belanda dengan US$ 156,10 juta dan Filipina senilai US$ 133,90 juta.
“Kinerja ekspor yang kuat ke Tiongkok menunjukkan pentingnya hubungan dagang yang strategis, terutama untuk komoditas minyak nabati,” tambah Aidil.
Sementara itu, nilai impor kumulatif Sulawesi Utara sepanjang Januari–Agustus 2025 hanya mencapai US$ 108,36 juta, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 146,67 juta.
Impor didominasi oleh bahan bakar mineral (HS-27) dengan pangsa 74,57 persen, disusul mesin dan peralatan mekanis (HS-84) sebesar 6,44 persen.
Malaysia menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$ 46,73 juta atau 43,12 persen dari total impor.
Aidil menegaskan, surplus neraca perdagangan yang konsisten menggambarkan kekuatan sektor ekspor daerah dan efisiensi impor.
“Surplus sebesar US$ 64,19 juta pada Agustus serta surplus kumulatif US$ 682,43 juta hingga Agustus 2025 menunjukkan fundamental ekonomi Sulut yang kuat. Ini menjadi modal positif dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah,” pungkasnya.
(srisurya)
