Kawanua

Strategi Perangi COVID-19 di Sulut

Bukan PSBB, Tekan Virus dengan Kesadaran Pribadi

Ketua Perkumpulan Perempuan untuk Kebudayaan dan Demokrasi (PEKA) Sulut Dr Mayske Rondonuwu, menilai cara untuk memerangi corona tergantung dari setiap pribadi warga.

Mayske kurang sependapat jika PSBB menjadi jurus ampuh meminimalisir transmisi virus seperti pandangan sebagian orang.

“Belajar dari daerah lain yang PSBB, apakah praktis tidak ada penambahan pasien. Tetap saja ada. Pandangan ini harus diubah,” ujar Sekprodi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Manado ini.

Mayske Rondonuwu menjelaskan, PSBB adalah aturan ketat dari pemerintah agar warga lebih disiplin beraktifitas.

Termasuk pembatasan sosial yang lebih ditingkatkan.

Namun kata dia, aturan itu lagi-lagi harus dikembalikan kepada masyarakatnya.

“Kalau sudah PSBB lantas warga tidak patuh, itu sama saja,” tegasnya.

Menurut dia, kunci memerangi corona adalah kesadaran masing-masing warga.

Jika semuanya satu misi dan bertekad hidup disiplin sesuai aturan pemerintah, maka pandemi akan cepat berlalu.

“Timbulkan kesadaran bahwa kita bisa menjadi korban dan penyebar virus. Jadi bagaimana tindakan kita untuk menghindari itu,” jelasnya.

Mayske bahkan tidak mempermasalahkan kembali beroperasinya sejumlah pusat perbelanjaan di Manado mulai 15 Mei 2020.

Padahal itu berpotensi kembali menciptakan keramaian.

Menurut dia, ramai dan tidaknya mall tergantung dari warganya.

“Kalau mereka mau ke supermarket, berarti sudah paham ada risiko di sana. Seharusnya sudah bisa berpikir, mana yang aman dan tidak,” katanya.

Mayske, lebih setuju dengan antisipasi pemerintah di beberapa kabupaten berupa aturan ketat mengawasi keluar-masuk orang.

Mitra Melarang Warga Keluar

Langkah tersebut seperti yang ditunjukan Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) James Sumendap.

Bupati dia periode ini, menganggap PSBB tidak perlu diterapkan asalkan semua komponen serius.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara