
Manado, BeritaManado.com – Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) menunjukkan kinerja positif pada triwulan II-2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat sebesar 5,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menandai tren penguatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, mengungkapkan bahwa kekuatan pertumbuhan ekonomi Sulut kali ini didorong oleh aktivitas domestik yang tetap solid.
“Pertumbuhan ini mencerminkan ketahanan ekonomi daerah, dengan kontribusi utama berasal dari beberapa sektor strategis,” ujar Aidil dalam rilis resmi, Selasa (5/8/2025).
Salah satu sektor yang mencatat lonjakan paling signifikan adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial, yang tumbuh sebesar 16,97 persen.
Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan kesehatan, ekspansi program pemeriksaan kesehatan, serta peningkatan fasilitas dan belanja di institusi medis, termasuk honorarium, tunjangan, dan belanja pegawai transito.
Sektor industri pengolahan juga menunjukkan kinerja yang kuat, berkat meningkatnya produksi di subsektor kertas dan percetakan, barang galian bukan logam, serta makanan dan minuman.
‘Permintaan terhadap produk kemasan, hasil olahan kelapa, dan produk perikanan turut menyokong peningkatan ini,” kata Aidil.
Sementara itu, sektor real estat mencatat akselerasi pertumbuhan yang signifikan. Faktor pendorong utamanya adalah meningkatnya penyaluran kredit properti dan kenaikan angka penjualan serta penyewaan unit hunian, terutama di kawasan perkotaan.
Lapangan usaha pertanian tetap tumbuh berkat kontribusi peternakan, perkebunan, dan perikanan.
Produksi daging ayam, sapi, dan babi meningkat, seiring dengan tingginya permintaan, sementara sektor perkebunan diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas di pasar global.
Selain itu, penjualan listrik untuk segmen industri dan bisnis meningkat masing-masing sebesar 9,78 persen dan 7,88 persen.
Penyaluran kredit sektor ekonomi secara keseluruhan naik sekitar 4 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 7,67 persen, mencerminkan daya beli masyarakat yang terjaga.
Tingkat inflasi Provinsi Sulut juga tercatat stabil di kisaran target 3,00 ± 1,00 persen, mendukung kestabilan harga barang konsumsi.
Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 21,70 persen.
Di sisi lain, impor luar negeri juga meningkat 26,18 persen secara kuartalan (q-to-q), mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal.
Surplus neraca perdagangan luar negeri Sulut tercatat mencapai US$ 256,58 juta, naik 65,53 persen dibandingkan tahun lalu.
Mobilitas masyarakat selama libur hari besar keagamaan turut mendorong pertumbuhan sektor transportasi dan pariwisata.
