
Penulis: Sri Surya | Manado
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.237 memicu kekhawatiran masyarakat luas.
Di tingkat akar rumput, warga Manado, Minahasa, dan sekitarnya mulai mempertanyakan satu hal krusial: Benarkah harga bahan pokok (bapok) akan segera meroket? Kecemasan ini beralasan.
Pelemahan nilai tukar Rupiah secara teori akan langsung mengerek harga barang-barang komoditas yang mengandalkan bahan baku impor, mulai dari gandum, kedelai, hingga pakan ternak.
Berdasarkan agregasi laporan dan pantauan di sejumlah pasar tradisional utama di Manado, seperti Pasar Bersehati dan Pinasungkulan Karombasan, pergerakan harga komoditas lokal seperti beras, rica (cabai), dan tomat sejauh ini masih relatif stabil karena ditopang oleh pasokan petani lokal Sulawesi Utara.
Namun, lampu kuning mulai menyala untuk komoditas berbasis impor.
Komoditas Impor Rentan Gejolak Kurs Dolar AS
Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe, serta gandum untuk tepung terigu dan mi instan, sangat rentan terhadap fluktuasi Dolar AS.
Jika Rupiah terus tertekan, para perajin tahu-tempe di Manado diprediksi akan mengambil dua opsi berat: menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran produksi.
Disperindag Manado Minta Warga Tidak Panic Buying
Menyikapi sentimen negatif di pasar, otoritas terkait terus melakukan mitigasi.
Mengutip berbagai laporan terkini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Manado secara rutin memastikan ketersediaan stok bahan pokok di gudang-gudang distributor.
Hingga saat ini, rantai pasok sembako di Manado dipastikan masih dalam kondisi aman untuk beberapa bulan ke depan.
Pemerintah daerah bersama Satgas Pangan terus melakukan pemantauan agar tidak ada spekulan yang memanfaatkan isu pelemahan Rupiah untuk menimbun barang.
“Masyarakat Manado diimbau untuk tidak melakukan aksi borong atau panic buying,” kata Hendrik Waroka, S.Pd., DEA, Kepala Dinas Perindag Kota Manado.
Tindakan menimbun barang justru akan menciptakan kelangkaan semu yang mempercepat lonjakan harga di pasaran.
Meski badai Dolar AS tengah melanda, fondasi ketahanan pangan di Sulawesi Utara yang kuat diharapkan mampu meredam guncangan ekonomi ini agar tidak langsung membebani dapur masyarakat.
