Opini

Royal Australian Navy di Manado-Minahasa

Oleh: Roger Kembuan

Laksamana Muda (Kaigun Shôshô) Hamanaka selaku komandan Mixed Brigade ke 53 yang ditugaskan di wilayah ini kemudian menginstruksikan kepada pasukannya untuk melakukan strategi defensif dengan membangun goa dan pos pertahanan sepanjang wilayah Manado-Minahasa dan bersiap melakukan perlawanan hingga akhir jika pasukan Sekutu mendarat di wilayah ini.

Bagi Sekutu dengan dikuasainya Morotai dan Leyte di Filipina maka kontrol sepenuhnya bagi wilayah Filipina, Sulawesi, Maluku dan Papua telah berada ditangan mereka. Sehingga bagi area yang kurang strategis dan memiliki konsentrasi pasukan Jepang yang besar tidak perlu diduduki namun diputuskan untuk dilakukan pengeboman. Hal ini didasarkan pada jumlah korban yang sangat banyak dari pihak Sekutu ketika menyerbu Guam, Hollandia, Rabaul dan Kep. Mariana di mana pasukan Jepang melakukan perlawanan yang sangat heroik dan brutal (karena bagi pasukan Jepang menyerah adalah hal yang tidak dapat diterima) Pasukan Australia yang ditugaskan untuk menghancurkan kekuatan Jepang di wilayah ini memutuskan menduduki Balikpapan yang kaya minyak.

Namun pendaratan di Balikpapan pada tanggal 1 Juli 1945 harus ditebus de-ngan jumlah korban yang banyak seperti yang dilaporkan sumber resmi militer Australia:
The landing of the 21st and 18th Brigades at Balikpapan in eastern Dutch Borneo began on 1 July 1945 with air raids and artillery support from naval ships offshore. Even so, the Japanese defenders fought tenaciously. Although coming ashore a day later with the rest of the 25th Brigade, the 2/31st Battalion took the brunt of the assault as it moved inland, and losses in this final struggle were high. One officer and 43 men were killed, and four officers and 120 men were wounded. By the end of the campaign the Australians had lost 229 killed and 634 wounded, with the Japanese dead believed to have numbered well over the 1,783 bodies counted2
Berkaca dari pengalaman yang meraka dapatkan di Balikpapan, Militer Australia tidak lagi berusaha untuk menduduki wilayah lainnya namun menunggu keberhasilan militer Amerika yang sedang menuju daratan Jepang. Praktis daerah Manado-Minahasa sampai menyerahnya Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945 tidak berusaha diduduki namun hanya diisolir dan dibom.
Pengeboman Sekutu terhadap wilayah Manado – Mina-hasa 1944-1945

3 September 1944 B24 mengebom Lanud Kalawiran kemudian menuju Selat lembeh dan mengebom Gudang-gudang dan pelabuhan
4 September 1944 Sekitar 60 Pesawat B-24 membombardir Lapangan Udara Kalawiran
8 September 1944 B24 mengebom Langoan
9 September 1944 B24 mengebom Mapanget
10 September 1944 B-24 mengebom Lapangan Udara Kalawiran, Mapanget, Tomohon dan area pantai di Manado
12 September 1944 B24 Mengebom 3 tempat di Manado
14 September 1944 B25 mengebom lapangan terbang Mapanget
17 September 1944 B24, B25 dan P-38 mengebom Langoan
18 September 1944 B25 mengebom Langoan dan areal sekitaran Danau Tondano
19 September 1944 Konsentrasi untuk menghancurkan obyek vital di Sulawesi bagian Utara B24, B25 dan P38 melakukan pengeboman di areal pelabuhan Amurang, Penyimpanan minyak di Wanea dan areal pelabuhan dan menghancurkan meriam AA di Mapanget kemudian mengebom lokasi menara pengawas di pulau lembeh, Langoan dan Kakas
20 September 1944 Dalam cuaca yang buruk B24 tetap melakukan pengeboman di Mapanget
21 September 1944 P-38 dan B-25 mengebom Manado, Tomohon, Kakas dan sebuah kapal kecil di Belang
22 September 1944 B24 Mengebom Mapanget
23 Spetember 1944 B24 dan B25 Melaukan pengeboman di Mapanget pada waktu malam hari
25 September 1944 B25 mengebom Lapangan Udara Kalawiran
27 September 1944 B24 mengebom gudang penyimpanan dan lokasi pasukan Jepang di Manado
28 September 1944 A-20 mengebom Langoan
30 September 1944 B25 mengebom Mapanget dan Langoan
1 Oktober 1944 B24 mengebom langoan sedangkan B-25 mengebom Lembeh, Manado dan Pelabuhan Bolaang Uki.
7 Oktober 1944 B25 mengebom Langoan, Tompaso dan Tondegesan
11 Oktober 1944 B24 mengebom wilayah langoan
12 Oktober 1944 B24 mengebom Langoan dan Mapanget
13 Oktober 1944 B25 Membom wilayah Manado dan sekitarnya
7 November 1944 B25 mengebom Tanamon di Bolaang Mongondow, Mapa-nget dan Langoan
8 November 1944 Mengebom Lapangan Udara Kalawiran
11 November 1944 B25 Mengebom Tanamon, Mapanget dan Langoam
14 November 1944 B24 mengebom Lapangan Udara Kalawiran
19 November 1944 B24 Mengebom Mapanget
21 November 1944 B25 Mengebom Langoan dan Mapanget
5 Desember 1944 B25 mengebom Langoan dan B24 terbang dalam formasi sejajar (Carpet Bombing) mengebom target instalasi militer Jepang disekitarnya
2 Januari 1945 B24 Mengebom Manado
5 Januari 1945 B25 mengebom instalasi Militer di sepanjang Pantai Manado, sedangkan B24 Mengebom Tondano
6 Januari 1945 B25 dan FB Mengebom Mapanget
7 Januari 1945 B25 dan FB mengebom selat lembeh dan wilayah Langoan
29 April 1945 B24 mengebom Kalawiran dan Mapanget
16 Mei 1945 B24 mengebom Tondano
28 Juni 1945 B24 mengebom Kalawiran
14 Juli 1945 B24 Mengebom Mapanget3
Royal Australian Navy (Menado Troopen)
Tanggal 13 September 1945 tiga kapal Korvet Royal Ausralian Navy yaitu: HMAS LATROBE, HMAS GLENELG AND HMAS DELORAINE merapat di teluk Manado. Misi utama yaitu menyelamatkan tawanan Perang dan orang-orang eropa ataupun pribumi yang berada di kamp-kamp Militer Jepang di Manado-Minahasa, melakukan pelucutan senjata serta serah terima kekuasaan dengan komandan militer Jepang di wilayah utara Sulawesi. Sehari kemudian tanggal 14 September 1945 barulah Pasukan Royal Australia Navy yang turun dari 3 buah korvet. Pasukan Australia yang dipimpin oleh Letkol. R.A.C. Muir datang ke markas tentara Jepang di Manado, (lokasinya terletak di kelurahan lawangirung sekarang) dan langsung melakukan pertemuan dengan para petinggi militer Jepang mengenai penyerahan kekuasaan dan Surrender Term di area Manado kepada Pasukan Royal Australian Navy, da-lam pertemuan itu militer Jepang diwakili oleh: Laksamana Hamanaka – Komandan Angkatan Laut Jepang (IJN) area Manado, Letnan Kolonel Komura – Kepala Staf Angkatan Darat Jepang (IJA) area Manado dan Komodor Baron Takasaki – Wakil Komandan Pasukan Angkatan Laut Jepang (IJN) area Manado.
Sesudah pertemuan tersebut mereka mengunjungi kamp konsentrasi anak-anak dan wanita di Rumah Sakit Hermana Lembean dan kamp tahanan di Teling. (bersambung)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara