Harga rica tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dengan andil deflasi sebesar -0,39 persen (mtm).
Sementara bawang merah dan daun bawang masing-masing mencatatkan andil deflasi -0,17 persen (mtm) dan -0,15 persen (mtm).
Sementara itu, komoditas ikan tongkol dan ikan malalugis berkontribusi sebesar total -0,22 persen (mtm) pada deflasi Kota Kotamobagu.
Sejalan dengan kondisi pasokan di Kota Manado, kelancaran distribusi dan kondisi perairan yang kondusif merupakan faktor pasokan rica, bawang merah, dan perikanan tetap terjaga.
Adapun kelompok utama yang menahan penurunan tekanan inflasi Kotamobagu adalah Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran dengan andil inflasi 0,10 persen (mtm).
Perayaan hari raya pengucapan terutama di daerah sekitar Kotamobagu (Minahasa) ditengarai mendorong peningkatan permintaan terhadap beberapa komoditas terkait seperti kue kering berminyak yang memberikan andil inflasi tertinggi dengan andil 0,07 persen (mtm) dan nasi dengan lauk.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat mengatakan, sejalan dengan relaksasi pembatasan mobilitas di Sulawesi Utara di mana 11 kabupaten/kota termasuk Kota Manado yang saat ini telah berada pada PPKM Level 2, ditengarai akan mendorong peningkatan permintaan.
Hal ini didukung dengan tingkat konfirmasi positif Covid-19 di Manado yang telah turun menjadi 20-50 per 100.000 penduduk per minggu.
“Relaksasi PPKM ini disinyalir akan meningkatkan mobilitas dan permintaan dari masyarakat, yang juga diperkuat dengan telah dimulainya periode persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru,” ujar Arbonas.
Selain dari sisi permintaan yang meningkat, ketersediaan pasokan terutama komoditas hortikultura berisiko mengalami penurunan akibat faktor cuaca, dimana berdasarkan prakiraan curah hujan sampai minggu kedua Oktober sebagian wilayah Sulut mengalami hujan kategori tinggi.
Demikian halnya dengan peningkatan risiko pasokan komoditas perikanan akibat fenomena global La Nina yang terjadi secara musiman menjelang akhir tahun, diprakirakan akan meningkatkan curah hujan dan kecepatan angin yang mempengaruhi potensi tingginya gelombang laut.
Potensi meningkatnya konsumsi masyarakat di tengah risiko berkurangnya pasokan dapat berdampak kepada peningkatan tekanan inflasi di Sulawesi Utara.
Namun demikian, Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara akan terus bersinergi untuk mengendalikan inflasi tahunan pada rentang sasaran 3±1 persen.
Menindaklanjuti hasil High Level Meeting TPID Prov. Sulut pada April 2021, telah dilakukan penjajakan kerja sama antar pelaku usaha di daerah Sulut dan Maluku Utara (Malut) pada tanggal 16 September 2021.
Adapun komoditas yang diperdagangkan adalah hortikultura termasuk tomat yang merupakan komoditas inflasi.
Hal ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bersama antara Gubernur Sulut, Gubernur Gorontalo, dan Gubernur Malut pada tanggal 23 September 2020 yang lalu.
Di samping itu, menindaklanjuti arahan Presiden dan Menteri Koordinator Bidang Perkonomian dalam Rakornas Pengendalian Inflasi Nasional 2021, berbagai koordinasi dalam kerangka TPID juga telah dilakukan dengan salah satu fokus pada identifikasi Local Value Chain komoditas potensial di Sulut.
TPID Sulut telah menyelenggarakan rapat koordinasi pada tanggal 6 dan 20 September 2021, dengan harapan TPID juga mampu mendorong sektor produktif di samping menjaga inflasi tetap terkendali.
