“Kalau ada seribu anak yang sekolah di perguruan tinggi, berapa biaya yang setiap bulannya dikirimkan oleh orang tua untuk kebutuhan hidup, diluar biaya sekolah ?”
“Katakanlah lima ratus ribu, kalau dikali seribu, maka ada lima ratus juta, itu baru hitungan lima ratus,” urainya.
Jika demikian hitungannya 500.000 perbulan lanjutnya, maka betapa besar uang yang harus keluar daerah, ditambah dari sisi kesehatan, berapa Milyar tiap bulan yang harus keluar daerah.
“Pertanyaannya, berapa banyak pendapatan Daerah kita sehingga harus mengeluarkan uang dengan Miliyaran rupiah tiap bulan yang dibawah keluar ?”
“Katakanlah, APBD kita 700 M, biaya Publik 300 M, dalam bentuk fisik yang non profit ada berapa M, yang mendapatkan kesempatan kerja itu orang daerah sini atau dari luar, kalau dari luar, maka berapa banyak juga uang yang keluar? Maka hitungannya yang tersisa kurang lebih 100 Miliar yang dikelola oleh pengusaha lokal.”
“Dari 100 M ini, kemudian berputar di Daerah kita, yang lain berputar diluar. Maka jangan heran kalau orang berteriak jika kita tidak punya uang.” paparnya.
Sebenarnya, menurut dia, ada banyak sektor yang menjadi resource kita dan bisa menghasilkan profit bagi kita.
Termasuk yang saya sebut tadi, Pertanian, Kelautan Perikanan, dan juga Parawisata.
“Namun itu tidak terjadi, karena tidak ada organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah yang bisa menjadi counter seluruh persoalan yang saya sebutkan diatas khusus pertanian, kelautan perikanan,” katanya.
Kalau ada BUMD, terangnya, itu nanti yang akan berperan penting.
“Ia akan berbicara dari hulu ke hilir soal pengelolaan sumber daya alam yang bisa dijadikan sektor untuk mendukung dan meningkatkan pendapatan hasil daerah.”
“Contoh, mengapa hasil perikanan kita kadangkala banyak, tetapi kualitasnya menurun, sehingga dipasaran harganya anjlok. Begitu pun dengan hasil pertanian, jagung yang harus dibawah keluar daerah dan tentu dengan potongan harga tranportasi.” sebutnya.
“Itu semua bisa dijawab oleh BUMD, dimana peran penting BUMD sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita semua,” kuncinya.
(Nofriandi Van Gobel)
