Parlementaria

Mata Prof Lombok Berkaca-kaca, Berharap Jangan Dialami Masyarakat Lain

Billy Lombok dan Prof Jan Lombok hadir dihearing Komisi 4 DPRD Sulut bersama manajemen RSUP Kandou
Billy Lombok dan Prof Jan Lombok hadir dihearing Komisi 4 DPRD Sulut bersama manajemen RSUP Kandou

 

Manado – Billy Lombok merasa terharu ketika mengikuti hearing Komisi 4 DPRD Sulut bersama manajemen RSUP Kandou Manado, Senin (3/10/2016) sore.

Menurut Billy Lombok, hearing tersebut merupakan gambaran keluarga mencari keadilan benar-benar terlihat.

“Warna muka sedih masih terpancarkan seolah penyesalan perihal yang terjadi terhadap istri dan mama tercinta Josefina Hermien Tangkau hingga meninggal dunia di IGD RSUP Kandou pada 26 September 2016 pagi. Kurang lebih 9 jam lamanya bukannya pengobatan tapi ‘penyiksaan’ disaksikan dan dirasa oleh keluarga dan pasien,” ujar Billy Lombok.

Pada hearing yang dipimpin Ketua Komisi 4 James Karinda dan dihadiri Dirut RSUP Kandou dr Maxi Rondonuwu ini, Prof. Dr Jan Lombok SH. MSi, orang tua Billy Lombok yang juga suami almarhumah Hermin Tangkau ikut bersuara.

“Bayangkan dokter kami di Penang pada hari-hari itu masih terus memonitor, bahkan mengirim resep untuk mengurangi sakit, dokter disana sudah terinternalisasi bukan hanya mediknya, tapi psikologinya, disini pembiaran, nda sampe hati ada lia. Nda ada satu pun yang menolong mo ke toilet, memasang pampers,” ujar Prof Jan Lombok dengan mata berkaca kaca.

Anggota DPRD Sulut, Billy Lombok pun mengeluarkan pernyataan keras. “Apa perlu keluarga pasien seluruhnya membawa sendiri oksigen dan kursi roda” Di salah-satu media online tercatat sudah di-share dan dibaca oleh 11 ribu orang, tak berhenti orang datang curhat, menulis di facebook, path, instagram, ini artinya apa ? Sudah ada urgensi perubahan, mungkin saja disaat hearing ini bahkan ada korban lain lagi,” tegas Billy Lombok.

Billy-pun menyentil alokasi BPJS untuk RSUP Kandou sebesar Rp30 Milliar setiap bulan.

“Atap bocor, tidak ada oksigen, pelayanan sangat kurang, dokter banyak cuma selfie, bahkan banya cuma ba praktek ba belajar, seolah lagi kalau ada yang berobat di luar negeri dorang pandang enteng, itu dokter tadi ada disitu yang menangani mami, bayangkan saja masak uang tidak cukup.

Gaji sebagian besar sudah ditanggung APBD tinggal yang BLU saja 900 jt, masih ada 29 M, ada DAU/DAK, ada APBN, wah ini rumah sakit mandi uang, makanya wajar kalau bilang tidak mampu silahkan mundur, dan ini tidak mengada-ada, klo dibiarkan status tipe A ini justru bawa orang ke skratul maut karena tipe A itu berarti rujukan kesitu so nda bisa lagi ke lain, selesai itu serahkan ke theologi Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, padahal prosesnya yang nda betul,” jelas Billy berapi-api.

Mendengar kronogi cerita tersebut Dirut RSUP Kandou, dr Maxi Rondonuwu rumah sakit pun mengakui kesalahan dan kekurangan termasuk pungli di rumah sakit dan berjanji akan memperbaiki secara radikal.

Anggota Komisi 4 Lucia Taroreh dan Yongkie Limen memberi apresiasi sekaligus mengingatkan agar Dirut dr Maxi Rondonuwu serius, bila tidak jangan ragu mundur, karena menurut mereka uang sudah berlebih.

Ketua Komisi 4 James Karinda mengingatkan agar permasalahan pelayanan diseriusi pihak manajemen rumah-sakit.

“Masalah ini mewakili seluruh masyarakat Sulawesi Utara, tidak ada yang berani menyampaikan. Kami memberi apresiasi kepada bapak Billy Lombok dan keluarga. Kami ingatkan Dirut RSUP Kandou dalam jangka waktu 2 bulan selesaikan. Jika tidak, kami akan langsung ke kementerian kesehatan memberi rekomendasi pergantian,” terang Karinda sambil berharap pimpinan RSUP Kandou memberi sanksi tegas terhadap dokter yang melakukan kesalahan prosedur perawatan. (jerrypalohoon)

Baca juga:

11 tanggapan untuk “Mata Prof Lombok Berkaca-kaca, Berharap Jangan Dialami Masyarakat Lain”

  1. dr. Maxi so boleh ganti, dia jadi kepala RS Kandow karena SHS, yg notabene secara kapasitas nda capable, ada yg lebe bagus…cuma karena memenuhi pertemanan kong jadi kapala RS Kandow

  2. Akhirnya ada yg buka suara hahaha sebenarnya ini sudah terjadi lama dan patut dipertanyakan status rumah sakit tipe A nya jangan karna ada bekingan sampai naik status tipe A.
    Lalu saya membawa Om saya ke sana buat dirawat karena sudah sakit komplikasi tapi apa yg kami terima hanya ditangani dokter magang (koas) dan itupun tidak maksimal penanganannya sama penyediaan tempat tidur yg tidak ada kami disuru menunggu dilobi IGD utk menunggu ruangan kosong padahal pas Saya cek ada kamar kosong tapi kata petugasnya itu kamar khusus terus saya tnya kamar khusus buat siapa ? Dg nada yg keras petugasnya pun diam dan takut utk meneruskannya dan akhirnya Om saya diijinkan utk menempatinya tapi dg 1 syarat ada biaya administrasi lebih hebat rumah sakit yg sebagian besar dananya ditanggung dari APBD tapi ada pungli yg tersamarkan. Satu hal lagi khususnya tempat parkiran motor rawan pencurian ada petugas parkir tapi tak becus kerjanya udah banyak kasus hilang kendaraan bermotor yg seakan dibiarkan begitu saja oleh pengelola parkir… sekedar himbauan tidak semua orang bisa membayar pelayanan kesehatan tapi mereka memaksakan diri untuk menebus obat dan pelayanan kesehatan guna mendapatkan kesehatan mereka tersenyum tapi hati mereka menangis karena begitu mahalnya biaya kesehatan dan tanpa ada timbal balik dari pelayanan kesehatan yang diberikan… Jaminan kesehatan (BPJS, KIS, Jamkesmas dll) dalam pengurusannya ditempat pelayanan kesehatan selalu dipersulit dengan banyak ini itunya… semoga ini bisa menjadi pelajaran buat para pemangku kebijakan yang ada tuk berbuat lebih baik dan manusiawi dalam memanusiakan manusia…

  3. Sy pasien bpjs/askes rawat jlan, pngalaman sy wktu mau operasi tumor,kira2 sdh 7 kali bolak balik gak ada penanganan,sy sdh cpek stiap hari d sruh bolak balik ke dokter gigi,dokter bedah…smp brpa kali,bkanx mau smbuh tpi mlah lebih sakit,apa mungkin krna hnya psien bpjs? Petugasx tidak ramah,kbanyakan membentak bkanx mngarhkan,Tiba pd puncaknya nangis dn mngglkan berkas2 sy pd petugas yg ada dstu,sy kecewa,sy lari smbil nangis dan lgsng pindah ke RS lain,RS S****m yg dlm wktu 2 hari mrka lgsg mngmbil tindakan…dokter dan susterx ramah2,..penanganan yg sngt baik,dan dlm jngka wktu 3 hari sya sdh smbuh,..tdk ada prbedaan antara pasien umum dn pasien bpjs,..sngt brbeda dngn RS.Kandou,..sy trauma utk balik ke RS Kandou,..mdh2n di brpa thun mndtang akn lbh baik…

  4. Tahun 2014 mami saya masuk RS Kandou kira-kira jam 10 malam dengan rujukan dari RSUD Noongan Langowan, sebagai pasien umum (Bukan BPJS). menurut dokter jaga bahwa akan dilakukan tindakan Foto ronsen dan foto scan namum sebelumnya diambil darah guna pemeriksaan laboratorium (seperti biasanya keluarga saya yang mengantarkan darah ke Lab dan saya yang kembali mengambil hasil pemeriksaannya).
    besoknya langsung dilakukan tindakan untuk foto scan dan ronsen.
    2 hari di UGD sayang sekali pelayanannya tidak maksimal dan tidak humanis.
    sebelumnya dokter mengatakan akan dirawat inap namun belum tersedianya ruangan karena sementara dalam keadaan full pasien untuk ruangan Irina F (ruang Neorology) namun saya berinisiatif untuk pergi dan mengecek langsung ke ruangan Irina F, dan ternyata saya melihat langsung bahwa ada beberapa tempat tidur yang kosong pasien, kemudian saya langsung bertanya ke ruang perawat dan di iyakan bahwa tersedianya tempat tidur untuk pasien mami saya.
    saya langsung kembali ke UGD dan menunggu hingga 2 dan lalu mami saya diantarkan ke ruangan Irina F.
    sebelumnya saya menyelesaikan administrasi di kasir UGD dengan melakukan pembayaran terhadap perawatan mami saya selama 2 hari dirawat di UGD untuk selanjutnya akan di pindahkan ke ruang perawatan Irina F.
    Disinilah yang perlu saya pertanyakan dan kiranya ada pihak dari RSUP Kandou yang bisa menjawab. Bahwa setelah diberitahukan jumlah nominal yang harus saya bayarkan kemudian saya bayar tunai (Kira-kira 2 Juta’an), namun ketika saya meminta bukti pembayaran dengan rincian jenis apa-apa saja yang dibayarkan, petugas kasir waktu itu memberitahukan bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk memberikan nota atau rinciannya,..!
    Apakah memang itu benar adanya?
    atau apa yang harus disembunyikan dalam hal tersebut? kami keluarga sangat kecewa dengan tidak adanya transparansi di RSUP Kandou (Khususnya di kasir UGD).
    dan selanjutnya selama 2 minggu perawatan mami saya di RS. Kandou, tidak ada perubahan yang baik.
    akhirnya kami keluarga memutuskan untuk keluar dengan menandatangani surat pulang paksa yang disodorkan oleh dokter karena mami kami harusnya masih perlu dirawat. dengan hati yang kecewa bahwa diluar harapan kami, dalam keadaan digotong untuk naik ke kursi roda dan lalu ke mobil, kami harus pulang kerumah.
    dengan rela hati kami merawat mami dirumah dengan keadaan tidak bisa berdiri dan hanya makan serta buang air dikamar tidur.
    oleh kmurahan Tuhan, kami memberikan obat-obatan cina/tradisional dan memperoleh kesembuhan 2 minggu kemudian sampai sekarang mami kami bisa berdiri, berjalan sendiri.

  5. akhir november 2005 mama saya dirawat di RS kandow. Yg awalnya ketika datang masih bisa sadar dan bisa bicara, saat pertama masuk di ugd kira2 ada bbrp dokter dtg silih berganti periksa, selesai periksa ada resep baru, tiap ganti dokter resepnya baru. dan mama saya seolah2 jadi tmpat praktek dokter2 koas,hanya dtg periksa trus pergi. begitu2 tiap hari. dan akhirnya meninggal pd tgl 1 des 2005. Jujur saya jadi trauma mau ke RS itu lagi, apapun itu kalo bisa nda mau ke sana lagi krn pelayanannya begitu buruk. Yahh apalah artinya torang org kecil. Nanti ada korban keluarga pasien yg org besar baru tabuka dorang pe mata.

  6. So bole ganti depe dirketur…so talalu lama…yg jadi goalnya bukan utk melayani masyarakat tapi hanya menggunakan uang utk pribadi saja…

  7. Nanti tunggu kalo yang korban orang terkenal pe keluarga baru minta maaf. Tapi kalo orang biasa yg jadi korban malah dorang tambah marah akang.
    Pengalaman waktu qta maso RS diluar negeri, jao skali depe beda. Nyanda tanya soal doi. Keselamatan pasien yg no. 1. Urusan doi nomor kolompoy.

    Semoga kejadian ini menjadi RS ini lebe manusiawi.

  8. woow memang sudah pantas diganti menagementnya, soalnya uang yang begitu banyak kemana???perawantan serta alat2 tidak adabahkan tabung oksigent yang dimiliki rumah sakit terbesar di sulut ini sangat minim??? apa yang sudah dibuat oleh managent rumah sakit ini???uang kemana??seharusnya sudh musti lapor sama kpk karena uang yang dirumah sakit ini adalah uang rakyat, jangan cuma dipakai untuk memperkaya management, kasihan banyak penderita yang gagal karena ndak dirawat yang penting uang masuk, serta pungli berkeliaran disekitar rumah sakit begitu besar sangat disangkan terlalu bobrok management rumah sakit umum terbesar disulut!!

  9. 11 Juli 1995,
    Di rumah sakit ini, ibu saya meninggal.
    Saya mengantar ibu di UGD, dalam waktu kurang lebih 4 jam tidak ada pelayanan serius, padahal kondisi ibu saya sudah lemah dan mengeluarkan suara dengkuran.
    Diantara 4 jam itu, ada 3-4 kalo rombongan dokter muda yang bolak balik bertanya data pasien.
    Sampai akhirnya beliau dinyatakan meninggal kurang lebih pukul 11 malam, tidak ada penanganan yang baik.

    Sekarang, setelah 21 tahun lewat, bisa dibayangkan, RS ini benar benar tidak layak

  10. Suster2 di RS Kandou sangat parah pelayanannya.. kasar dan galak..

    Ayah saya meninggal tersedak saat diberi makan oleh suster.
    Wkt itu pake selang NGT, Suster injeksi buru-buru dengan jumlah makanan yg banyak, selesai injeksi tidak sampai 5 menit ayah saya tersedak, dokter datang so terlambat. Ayah saya tidak tertolong lagi dan mereka cuma bilang “memang so waktunya”..

  11. Kandou memang parah kalo nyanda terpaksa nyanda bakalan ke situ lg. Memang betul2 self service. Mau minta hasil cek darah di suruh pergi sendiri, mau cari kamar di suruh cek sendiri. Yang lucunya pas dapat kamar tuh suster bukannya bilang maso jo malah bilang yakin pak mau masuk sini jauh loh dari tmpt dokter. Padahal waktu itu bayar tunai bukan bpjs. Apalagi bpjs kang jangan-jangan mau ba suntik tuh suster cman lepas kok suruh suntik sendiri.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara