
Manado – Pelayanan RSUP Kandou Malalayang terus dipertanyakan. Pelayanan buruk oleh pihak RSUP Kandou diduga telah menjadi penyebab meninggalnya Ibu Hermin Tangkau, isteri dari Profesor Jan Lombok mantan rektor UNIMA ketika menjalani perawatan di RSUP Kandou.
Berikut testimoni Billy Lombok, putera dari pasangan Prof Jan Lombok dan Almarhumah Hermin Tangkau mengisahkan proses perawatan Ibu Hermin Tangkau di RSUP Kandou hingga Ibu Hermin Tangkau meninggal dunia pada Senin, 26 September 2016, pukul 9.15 WITA, pada usia 68 Tahun, 8 Bulan dan 25 Hari, setelah menjalani perawatan 9 jam di RSUP Kandou.
Lombok: RS Prof Kandou tak pantas tipe A .
Tiap kata yang tertulis merupakan pengalaman menyedihkan, menulis ini berarti mengembalikan ingatan pengobatan di RS prof Kandou yang tak layak menyandang RS tipe A.
Berawal dari kedatangan kami membawa ibu kami di bangunan IGD RS Prof Kandou, dengan keluhan sesak nafas, dikarenakan dirumah tidak memiliki oksigen maka bergegas kami membawa beliau ke RS ini. Masuk kami, kemudian di teruskan ke bilik ruangan yang terdiri atas beberapa kamar. Kondisi mami saat itu bisa jalan, bisa naik kursi roda yang perlu dibantu bila naik tempat tidur saja.
Sedemikian lama dalam ruangan itu, suasana panas mulai mengganggu mami yang memang membawa kesan panas dikarenakan sakitnya. Kemudian mami bermohon berkali kali, berteriak berkali kali meminta dipindah ketempat lebih dingin, kami langsung menghubungi dokter, jawabnya tidak bisa karena harus di observasi dulu, kami terpaksa ikuti, walau sekali lagi mami harus meraung raung bermohon dipindahkan, jawaban dokter tetap tidak dan tidak ada tindakan lain selain merencanakan penyuntikan steroid yang katanya untuk membantu pernafasan, tindakan ini pun tidak terlalu cepat di laksanakan, kami harus menunggu dan menunggu, mami semakin bermohon dipindah.
Mami kemudian bermohon hal lain lagi, yakni mau ke toilet untuk pipis, kami melapor lagi, dokter bilang pakai kateter atau pispot saja, karena wc jauh.
My God, tidak diberikan atau ditawarkan kursi roda sebagaimana fasilitas mempermudah pasien seperti di RS umumnya. Kami terus mempertanyakan lagi ke dokter ttg penanganan ini, betapa kaget kami menerima jawaban ini, ‘ kalau di penang memangnya penanganan seperti apa ? Mami memang sebelumnya di rawat di RS Gleneagles Penang.
Sabar menahan emosi, kami mencari jalan keluar sendiri dengan mencari toko untuk popok orang dewasa, walau kembali lagi memakan waktu dgn upaya kami sendiri akhirnya mami bisa pipis. Selanjutnya, mami dibiarkan ditempat tidur, untuk alasan observasi, yang walaupun kami tidak mengerti observasi apa yang akan dilaksanakan, tapi dengan optimis kami menunggu walau keluhan kepanasan tidak di hiraukan sama sekali dan mami terus meraung memohon pindah karena merasa panas tak tertahankan. Infus pun terlihat darah dan tidak berjalan, kami lapor dokter lagi, dijawab oh iya lupa tadi, kemudian infus kembali berjalan, wah bisa lupa ya.
Kembali lagi infus terlihat darah lebih banyak, lapor ke dokter, jawabannya iya silahkan ke perawat saja, sebenarnya saya sudah mulai emosi tapi saya tahan. Dan akhirnya mami dibawa keluar dari ruangan itu untuk rontgen, kami sebenarnya sudah bersyukur karena ruangan rontgen jauh lebih dingin, keluhan panas mulai mereda, dan kondisi mami menjadi jauh lebih stabil karena sudah mulai dingin.
Tapi sepertinya keadaan ini tak lama karena rontgen hanya beberapa menit saja, kami mulai kecewa, menuju ruangan tadi lagi mami mulai kepanasan, mami akhirnya meminta di kursi roda saja dan duduk di lorong.
Kami kaget, perawat laki2 mengatakan ‘oma kalo di kursi roda tidak ada oksigen’ , padahal oksigen portable sebenarnya ada. Benar saja, pilihan menggunakan kursi roda, dan kemudian perawat itu membawa kembali oksigen portable, praktis mami tanpa oksigen di lorong itu, gila saja masa RS tipe A hanya punya 1 oksigen portable dan harus menarik oksigen itu dari pasien. Akhirnya mami menyerah, biar jo dang ke tempattidur jo, walau mami tahu konsekuensi merasa lebih panas.
Sekian lama tidak ada tindakan, yg dikatakan observasi tidak jelas maknanya. Saya kemudian periksa kakinya mulai biru, disini baru dokter bertindak memindahkan mami, tapi sudah dengan dokter interna yg berbeda. Pemeriksaan darah pun baru dilakukan, anehnya botol darah kemudian di serahkan kepada saya, dan minta bawa sendiri ke laboratorium, kaget tapi menahan diri, saya bawa sampel darah ke laboratorium, disana disuruh taruh saja di meja nanti balik jam 6.30 pagi, sekali lagi RS TIPE A dengan standar tidak jelas, pasien/keluarga harus berusaha sendiri kesana kemari.
Seorang dokter yg sudah bolak balik dengan pertanyaan yang sama yakni, kawin kapan, terakhir mens kapan, kenapa kembung, dan berulang kali kami menjawab sudah tertulis di penjelasan dari RS gleneagles penang, saya pun akhirnya bertanya nah hasil observasi kemudian mau tindakan apa ?
Jawabannya seperti petir disiang bolong, sudah tidak ada ini sudah stadium lanjut.
Kenapa tidak ada kami menunggu observasi, kami bahkan hampir tak sanggup membiarkan mami berteriak kepanasan, kalau tahu begini kenapa tak biarkan kami membawa mami di tempat yang AC dingin membuat mami jauh lebih nyaman sebagaimana sebelumnya dirumah yang bisa jalan sendiri.
Sesak napas ditambah panas ternyata mendorong mami kolaps, terengah engah, dan akhirnya tak dapat berinteraksi lagi. kami menyadari perjalanan sakit mami dengan stadium lanjut mungkin dengan usia yang tidak panjang, tapi pengalaman yg saya tuliskan diatas dapat menggambarkan bagaimana tidak profesionalnya pelayanan medis, yang kemudian menghantarkan orang tua kami bersama sang Bapa di Sorga.
Sedih, sangat sedih, harapan kami tentu saja mami bisa bercakap untuk terakhir kalinya, tapi mami begitu sibuk menekan sakitnya. Yang lebih stres lagi keluarga tak mendapat kesempatan memberi kenyamanan maksimal sebagaimana permintaan mami.
Ada ungkapan Tuhan sudah menentukan nasib, tapi jangan sampai penentuan nasib oleh Tuhan karena justru didorong oleh dorongan manusia. belum lagi dengan setoran tak jelas di bagian registrasi, variatif ada yang Rp8000 sampai 15000, tak ada kwitansi/pembukuan, tak dijelaskan dasar hukumnya.
Jangan RSUP Kandou hanya menjadi sarana orang kaya untuk latihan dan praktik ilmu kedokteran bukan tempat penyembuhan!
Tembusan: Yth Gubernur Sulawesi Utara, Pimpinan DPRD Sulawesi Utara.
Salam, Billy Lombok.
(***/jerrypalohoon)

Obat2an kadang juga disembunyikan oleh mereka nnt sudah melapor di bpjs baru samadeng tusa basah alasan miss komunikasi pdhl so gugup kalo diusut.
Kejadian yang lewat nimbole mo rubah
Tapi kedepannya bisa lebih baik
Kalau masalah komunikasi memang perlu ada pembekalan
Ndq terbatas cuma dokter dg perawat mar smua pegawai yang ada di RS
Maklumlah semakin berkembabg
Semakin rendah nilai luhur manusia
Kalo mo blg byk yg pernah merasa pelayanan nda prima
Byk bpk ibu sdr/sdri
Entah kelak nanti trg m saki karna kelalaian diri sendiri,karna faktor usia ato krna kejadian yg nda d inginkan
Ttp pelayan masyarakat di bidang kesehatan wajib memberikan yg terbaik
(Urusan nyawa itu hak Pencipta)
Tpi setidaknya perhatian n pelayanan prima s dp menghibur pasien n keluarga
Wlpun nantinya ad ski yg s nd dp tertolong
Kalo pun ad hub pelayanan administrasi dgn medis (teknis ato yg lain)
Yah tlg keterbukaannya dg masyarakat hehe
Pesan for trg smua
#tenaga medis bukan baby siterr
#keluarga jga wajib membantu menjaga n memberi suport terhadap pasien
#tapi jga bkn berarti tenaga medis tdk bisa membantu (dikondisikan)
#pelayanan trbaik dan tepat wajib diberikan di masyarakat
#diantara yg tdk baik pasti ada yg baik
#bersykur bisa berprofesi di bidang ini
#krna nd smua bisa n berwenang
#banggalah untuk profesi anda (melayanilah dengan hati yg tulus)
#trut berduka untuk keluarga
#diberi kekuatan dan penghiburan
#smgt untuk lebih baik untuk para medis
#kami masyarakat sangat mendambakan pelayanan terbaik
#terima kasih
Benar tenaga medis bukan baby sitter, tapi adalah full time servant dimana saat bertugas bukan sibuk selfie, bukan juga tidur, karenanya dikenal metode shift untuk istirahat. Maaf, untuk RS tipe A sudah terstandar tinggi, di LN tidak ada ganti pampers, ganti perban, ke toilet, bawa darah, dilakukan keluarga pasien/asisten pasien, karena secara teori pasien berada dalam pengawasan RS, keluarga perwakilannya tidak mengetahui prosedur medis, karenanya diperlukan assistensi tenaga medis untuk melakukan hal2 tersebut.
Sebutannya memang bukan baby sitter, tapi tugasnya jauh melebihi baby sitter.
Contoh dialami seorang pasien tgl 14 september dengan keluhan sakit stroke, bayangkan saja dibiarkan tidur di pis, keluarga sulit mengatur karena tempat tidur ditentukan RS, prosedur medis ditentukan RS, tidak bisa pindah tempat, tidak bisa mengangkat, dijawab : nda lia ini orang pe banya..semangat ini yg salah, bukan semangat melayani, klo masih ada anggapan torang bukan baby sitter, justru sebenarnya bukan di pandang begitu, karena tugas tenaga medis jauh lebih kompleks sebenarnya dari itu. Klo nimau kompleks, jgn jadi tenaga medis ( krn memang A-Z ketika pasien so maso RS so ikut protap terakreditasi RS ), jadi jo bos2
Sayapun pernah merasakan pelayanan di RS Kandou sangat buruk dan berbeda dengan RS di kota lain. Dan berhubung orang disana ga pernah diprotes dan yang lain takut memprotes jadi saya menahan sabar. Kakak saya hanya bilang sabar saja karena malu. Padahal kalau dikota lain saya berani protes, ya jelas karena kami bayar bukan numpang. Beruntung sekarang ada yang berani protes. Apalagi petugas2nya sombong dan merasa bos, bahkan nada bicaranyapun angkuh seolah2 kami hanya numpang. Bandingkan saja dgn RS di Surabaya dan Jakarta, jauh banget. Mama saya sudah koma tapi malah ditaroh dikmr UGD yg panas ga ada AC ga ada gorden pembatas dan jorok banget. Setau saya harusnya di ICU. Tetapi saya pernah bertanya katanya kamar ICU tempat tidurnya terbatas. OMG RS macam apa ini…serius kalau bisa jgn berobat disana.
kalau saya pribadi,, kematian seseorang itu sudah di atur oleh yang MAHA KUASA. jadi sebagai orang percaya imani saja bahwa almarhuma sudah berada di RUMAH BAPA di tempat dimana tidak perlu tenaga medis, tempat /ruangan yang adem dan tak perlu oksigen portable.
Sbg penyesalan, daerah abu2, sesudah ditangani dunia kedokteran, diserahkan ke dunia pastoral, Tuhan yg memberi Tuhan yg mengambil, padahal tidak berkompeten sama sekali..
Kase pisah ini pelayanan rs dgn itu dokter2 belajar..UNSRAT kase aktif itu RS Universitas, disitu jo tampa belajar akang
Siapa bilang RSUP Kandou pelayanan buruk?
Saya pernah masuk UGD RS Kandou jam 3 subuh, (di jam” tidur non tenaga medis), dgn syok hipovolemik
Saya di tangani dengan cepat oleh perawat, dokter” n koas” d sana, di observasi per 15 menit dengan baik, sehingga saya bisa pulih dan beraktivitas dengan baik
Ngn le mo tamba2,co ngn pe mama jadi bagitu dg klo ngn nda mo manyasal, asal malontok ng pe komentar ini noh, pake otak klo mo ba komen
Anda beruntung dan bersyukurlah dengan keberuntungan anda, keluarga ini tidak seberuntung anda.
Anda mau bukti berapa banyak, disaat di malam itu pula, disamping ibu hermien ada yg sudah bunyi alat2 medis, denyut tinggal 12, tidak ada yg mbantu saat itu, saya ada disitu waktu itu.
Anda pernah merasakan sakit panas karena cancer ? Dan bocor atap langsung kena k sakit itu ? Atau anda pernah di kata kata ‘kenapa di penang bagaimana ?’ Ato mungkin anda pernah dikatakan periksa darah dengan delay 1.5jam seperti yg dialami keluarga? Atau dengan penanganan selang udara yang sampe 3x tanda tangan, dan tidak pernah terlaksana sampai meninggal ?
manusia memang tidak luput dari salah.. dan RS sebagus apapun tdk bisa menjamin keselamatan 100%. tapi setidaknya cara penyampaian ke keluarga mungkin tdk seperti yang diharapkan. sebagai orang awam pasti tidak bisa berpikir positive disaat cara penyampaian tidak bagus. mungkin bisa usul untuk setiap calon perawat atau dokter harus tambah pendidikan bagaimana berkomunikasi yang baik dgn pasien/keluarga pasien. ini sangat penting karena RS berhubungan dengan nyawa manusia. yang ke RS adalah org sakit dan keluarga yang sedih karena kerabatnya sakit. jadi sudah pasti secara psikologi perasaan mereka sensitive. jadi pihak RS sebagai pihak yang bertugas untuk melayani harus bisa mengatur kata-kata. jangankan di RS sedangkan di Rumah makang kalo dpe pelayan bicara kasar/respon trg pe request dgn muka bangka pasti trg marah… apalagi Rumah Sakit yang sudah pasti yang datang itu org2 yang lagi ditimpa kemalangan.
Hope the best for Pelayanan Kesehatan di Manado. God Bless
Setuju, tapi jangan aminkan bahwa tidak ada yg sempurna, yg boleh tidak sempurna itu administratif, tapi penanganan, cara membaca rekam medis, cara menindaklanjuti, komunikasi antar dokter, sense of humanity dan sense of belonging, wajib terstandart dengan baik.
dari komen2nya sepertinya lebih pintar keluarga pasien dripada dokternya…..datang ke rs yang anda percaya donk….kalo di manado ya tetep kandou the best lah secara medis…klo non medis ya swasta lebih bagus
Hmm,
Sepanjang berita ini ada, sudah di feedback oleh puluhan ribu pembaca lewat jejaring sosial, dan sudah demikian banyak pengeluhan. Sorry, di sini mungkin belum terbiasa dengan yg namanya hak pasien, seolah masuk rumah sakit kong iko jo dokter/suster/manajemen pe mau bgmn..medis apa yg dibanggakan, tgl 14 sept 2016 seorang oma, 1 hari 1 malam tidur dgn depe pipis, nda ada yg tolong, cuma kase biar, sampe2 musti gunting depe baju karena so kering di kuli, perawat juga so jijik karena so bau. My God, ‘medis apanya, jangankan medis, kemanusiaan pun nda sampe ini RS.
Kalau bnyk complaint berarti pimpinan rumah sakit dan manegementnya nyanda kerja dgn baik. Harus ada sanksi, paling tdk ganti jo itu pimpinan.
Jangan2 ini salah satu dampaknya saat masuk sekolah kedokteran. Tesnya formalitas saja. Yg kasih duit banyk skitar ratusan juta lulus tes & diterima sedangkan yg duitnya pas2an tidak mungkin lulus, walaupun dr segi potensi & kemampuan jauh lebih bagus adlh org yg pas2an duitnya tpi punya kemauan utk melayani.
Ada hearing hari senin ini, apa tambahan komentar nya
Saya pun dulu bgtu,waktu melahirkan.Karena ketuban saya sdh pecah dri rmh,sampai RS langsung dokter blg Caesar krn ketuban keruh dan blm ada pembukaan.Nah karna tdk di sangka akan di caesar tdk ada prsiapan sprti mencukur daerah V.Tiba2 resep dtg,disitu ada penyukur dan kateter,saya pikir yg memasangkan perawat perempuan atau dokter perempuan,tiba2 dokter masuk sy pikir dokter ini yg akan memasangkan kateter ya sudahlah,pasrah.Eh trnyta bkn si dokter malah di panggil adik2 perawat 10 org lebih untuk memperhatikan slh satu perawat memasangkan kateter tsb pda saya Dan itu sebagian besar laki2,otomatis saya menolak.Betapa malunya saya daerah V saya harus dijadikan tontonan bagi anak2 perawat.Astagfirullah disaat sedang gawat2x bayi saya msih sempat2x saya dijadikan bahan praktek cara memasangkan kateter yg benar buat mahasiswa2 keperawatan.
ruma sakit yang gelar dokternya dibeli nggak becus sebenarnya itu menjadi perhatian untuk pemerinta,bkan didiamkan saja.
Saya juga pernah mengalami hal yg smaa,disaat penanganan suami saya sewaktu kecelakaan..selama seminggu,pelayanan sngat buruk kdng skli dokter masuk utk periksa..selama 3 kali di ambil darah.ridak pernah dijelaskan apa penyebabnya..krn waktu itu suami saya sudah mulai mengingau.dua kali ronsen hasilnya cma retak sedikitdokter blng tdk apa” kalu mau dia bwah pulang,slama seminggu di infus,panas tingi terus.akhirnya hari kelima dokter mengatakan utk diperiksa penyakit dlm,krn perutnya sdah kembung,diambil lagi darah..pada hari keenam sblm ada hasil akhirnya suami saya meninggal dipanggil Tuhan…tdk disangka pdahal waktu itu suami saya kelihatan tdk parah..tapi setelah ayah saya memgamuk dan ayah saya jga mengatakan sperti diatass..Nasib manusia memang ditangan Tuhan..tapi bukan juatru krn didorong ato krn kesalahan medis yg selama seminggu tdk ada pemeriksaan lanjutan..smpai” ayah saya mngatakan memang betul sering di baca dikoran pelayan RSUP Kandouw burukkk..
Saya juga punya pengalaman pahit waktu di RS.kandouw
Pada saat saya mau melahirkan, keadaan saya pada waktu itu cukup baik, denyut jantung bayi saya bagus, dan kata doter terakhir saya di periksa kalau bayi saya sehat2 saja, walau sudah waktunya, saya sudah melihat tanda dara bercampur lendir, yg menandakan klaw waktu saya melahirkan sudah dekat, awalnya saya masuk ke puskesmas, tpi saya di rujuk ke RS.trsbut.. pda tanggal 23 juni 2013 mlm..
Awalnya saya tidak mau, tpi krna keadaan keluarga yg takut, sya nurut aja,,, tpi tnpa saya sangka akan berakhir tragis di sna,, sya mulai kontarksi pada tnggal 24 juni jam 1 siang dan pada jam 3 sore proses kelahiran sedang berlangsung, yaitu kelahiran normal, 1 jam kemudian saya di vacum untuk membantu mengeluarkan bayi saya, tpi 1 jam kemudian tidak ad hasilnya, dan akhirnya dokter memutuskan untuk mengeluarkan bayi saya lewat jalur oprasi cecar pada jam 7 mlm,,, dan nyaris bayi saya tidak tertolong karna sudah terlalu lama proses vacum, kata dokter bayi saya banyak minum ketuban kotor, pada saat dia lahir, bayi sya suda biru dari ujung kaki smpai kepala,, dan dia tidak menangis,, dan pada akhirnya keesokan harinya bayi saya meninggal pada jam 3 pagi, hati saya hancur, tpi saya hanya berserah pada Tuhan’ karna apa yg Tuhan buat itu baik adanya,, tpi yg saya sesali kenapa dokter tidak langsung saja mengoprasi saya ketika dokter tauh klo bayi saya itu cukup besar, karna sudah di USG terlebih dahulu, pasti beratnya dokter sudah tawu,,, tpi sayangnya saya harus melewati proses normal karna banyak dokter muda yg ingin melihat dan mempraktekan, tpa harus berpikir bahwa pasienya gawat atau tidak..?
Harapan saya, RS.kandouw bisa menjadi penolong yg baik bagi pasienya,, karna pasien bukan hewan yg bisa di uji coba,, karna kepentingan skolah dokter2 muda…
wah klo dijkt ini bs dituntut….sayangnya di Manado org2 ga berani.
Tiga tahun yg lalu saya juga pernah mengalami. Saat ibu saya dirawat di rs tsb krn harus kemoterapi lanjut sesuai ruukan dari rs. Ciptomangunkusumo jkt. Betapa sayang krn ternyata dr yg bertanggung jawab utk menangani mama saya sampai beliau menutup mata tidak pernah terlihat batang hidungnya. Hanya dr koas bahkan perawat yg menangani. Waktu selang makan di hidung tercabut kami minta tlg dr utk memasang tetapi malah dr tsb mengaku tidak bisa dan menunggu perawat. Syukurlah perawat bisa memasang selang meski itupun mama bertahan tidak makan satu hari
Padahal racun kemoterapi masuk ke tubuhnya dan beliau tidak makan sehingga kondisinya semakin melemah dan keesokan harinya beliau kembali sesak nafas danpergi utk selamanya ke pangkuan Bapa di sorga. Apa mungkin krn menggunakan askes sampai tdk bisa dilayani dgn baik ?bpk. Gubernur yg terhormat bolehkah saya menyampaikan usulan kal bisa utk dokter harus ada standarisaai yang lebih tinggi lagi agar kemampuan dan ketulusannya benar2 teruji. Mama saya seorang pensiunan perawat yg telah melayani masyarakat meski tidak dibayar selain gaji yg diterimany seumur hidupnya. Kal bisa utk menjadi dokter harus lebih sulit tesnya karena banyak yg menjadi dokter ttp hanya menjadi penjual obat saja karena kerjasama dgn pabrik obat itu khan dapat fee tanpa memperhatikan penyakit pasien dan kemampuan ekonominya. Selain itu sekolah yg menghasilkan perawat harus diseleksi utk mengeluarkan ijin dan harus ada pelajaran psikologi agar tidak suka marah marah pd pasien. Trims
Iyah..saya jga pernah mengalami hal yg menyakitkan di RS ini.sampai merenggut nyawa anak sy.sedih skali mengingat itu.
Turut berduka cita. Inilah yg namanya nila setitik merusak susu sebelanga, RS Kandou adl RS besar yg mana terlalu byk petugas yg berinteraksi di dalamnya, kadang ada satu atau dua org yg kurang sabar atau krg bagusnya penyampaian kepada keluarga sehingga terjadi salah sangka, atau ada keluarga yg tdk bisa terima atau krg paham krn setiap manusia itu beda kembar sekalipun, dan walau terdapat byk sisi baiknya/ sempurna dilain hal tetap di abaikan/ dilupakan oleh emosi sesaat. Di dalam dunia kesehatan petugas lebih mengutamakan keselamatan pasien dgn cara pertama observasi pasien bila ada tanda2 syok dsb utk di tindak lanjuti, namun terkadang keluarga lebih memilih kenyamanan, yg mana dokter dan petugas tdk bisa mewujudkan (yg ptg nyaman tetap kwa ada dokter dan perawat walau di ruang perawatan /tempat pasien yg sdh stabil), tanpa mempertimbangkan hal2 ptg lainnya. Bukan berarti nyawa setiap yg dtg ke RS pasti tertolong, petugas kesehatan mengupayakan semaksimal mungkin namun Tuhan yg menentukan. Adapun pertimbangan oleh karena besarnya gedung RS Kandou, dgn kasus di atas apakah tdk di pikirkan saat pemindahan pasien ke ruangan perawatan tempat ber AC, bisa terjadi sesuatu pd pasien saat evakuasi, krn tdk mungkin juga di biarkan berada di ruangan tempat foto atau bagian bedah atau ruangan ber AC lainnya yg tdk sesuai. RS tipe A juga tidak luput dari koreksi dan masukan2, berharga dan penting untuk kemajuan kinerja/ fasilitas yg ada. Semakin tinggi, semakin disorot dan semakin sempurna yg diharapkan. Mungkin komentar2 di atas siapa tau pas RS belum sampai pada akreditasi A, krn semakin tinggi makin diperbaharui, ataupun adanya misskomunikasi. Mohon maaf bila ada salah2 kata atau yg tdk berkenan. Krn yg tdk sempurna itu masih manusia. Berpikir positif..
Dokter yang ada hanya banyak selfie, sungguh banyak yg tidak kompeten, ditanya di satu meja, dijawab mohon maaf tiap pasien beda dokter, silahkan ke meja sebelah, padahal pasien sudah membiru saat itu. Menangani infus saja tidak bisa, memang benar terjadi pembiaran, nanti meninggal baru di pompa2, trus apa akan terjadi berikutnya, hidup lagi dibiarkan dan di pompa2 ?
Sya juga pernah mengalami pelayanan yg sngat tidk ena? di rs prof kandou waktu itu mama sya cuci darah seminggu 2x dgn memakai bpjs dan harus menjalani transfusi darah krna HB sering menurun.. ketika ke bank darah di dlam rumah sakit di tanyakan dlu pakai bpjs apa bayar? Sya jawab bpjs lalu perawatnya masuk ke dlam ruangan dan kembali mngatakan bahwa stock darah A habis.. entah dpat ide dari mna sya coba menyuruh sepupu sya untuk pergi lg ke bank darah dan sya ikuti dari dekat.. sdah sya pesan ke dy kalo ditanya blg saja qt bayar tunai.. dan ternyata benar saat sepupu sya bertanya stock darah A dan mengatakan akan bayar tunai si perawat itu dgn cepatx menyuruh sepupu sya membawa sampel darah krna stock darah A ada begitu kagetx sya dgn selang waktu yg tdk sampai setengah jam kok bisa ada stock darah.. sya pun menyuruh sepupu sy mengantarkan sampel darah mama saya.. disuruh kembali lg 2 jam kmudian krna darah itu harus dicuci dlu.. 2jam kemudian sya dan sepupu kembali untk mengambil darah sya memang tidak punya uang saat itu maklum krna kami hanya pendatang dari maluku.. setelah selesai di cuci perawat itu menyerahkan darah dan berkata 300rb ya krna di cuci kalo yg biasa 250rb.. setelah mengambil darah sya langsung menyerahkan bpjs mama sya dan ekspresi perawat itu serentak berubah sya bisa liat bgaimana marahx dy krna di bohongi.. sampai selesai dy urus suratx tdk ada 1 kata pun yg klwr dari mulutx hanya terlihat ekspresi kemarahannya itu mngkin gagal mendapatkan uang atw marah krna di kerjai..
Penglman saya juga begitu Rs Prof kandou wkt saya mau oprasi kista dokter yg mnangani saya bayar sendiri walaupun saya ada jaminan Askes..bgt juga utk obat yg saya perlukan utk bproses pengobatan wkt dirawat ktanya obat ini tdk ada lagi kosong diapotik ruang anggrek 2 dan hrs di beli diapotik luar ternyta itu hny alasan krn obat itu harganya juta bawa darah pihak pasien sendri.setelah oprasi sy dilarang utk mkn oleh dokter jg krn katanya blm bisa tp stlh konsultasi dgn dkter yg mengoperasi saya ktnya kenapa pasien tdk di kasih mkn.mngkn benar klu di Rs Kandou hny tempat belajarnya para dokter2 mudah…
Saya, Grimaldy juga punya pengalaman buruk dengan rumah sakit prof kandow, yg katanya tipe A…pelayanan parah…cuma jadi tampa praktek itu org sakit…kasihan dengan keadaan ini. Jiwa manusia belum dihargai di rumah sakit ini. Tapi apa daya semua rumah sakit pasti rujuk ke rumah sakit ini…kecewa
Iya ya. Saya baca ini jadi ingat ayah saya pernah dirawat di sana bbrp tahun lalu. Memang rumah sakit ini isinya semua cuma dokter2 malas, co-as dokter yg formalitas periksa2 pasien cuma demi prestasi kuliahnya, suster yg malas2an dan kerjanya marah2 padahal itu adl tugasnya mereka.. Sampel darah mesti kita yg bolbal.. Beli obat juga kita yg nyari sendiri, belom lg staff apoteknya juga kurang ajar, tdk hati2 dan cuek bebek. Tolong ya Pemerintah agar diperhatikan. Katanya dapat Tipe A. Mungkin lbh pantas Tipe F. Alias Tipe FUCK. 1 Hal lg, susternya kerja sepertinya kerjanya udah malas2an. ayah saya ditreatment sama suster yg hamper semuanya kerjanya asal2an, mulai dari pasang jarum suntik, menusuk infus, ambil darah, melakukan tensi, hingga kateter dll dan seterusnya.. Semua kerjanya kasar. Namanya org sakit mana bias diperlakukan sekasar itu, kalo melayani irg sakit harusnya hati2. apakah mesti kita kasi duit tip baru bisa dapat perhatian lebih ya?
Wah… Sudah sejak lama saya tau pelayanan di RS itu gak baik.. Makanya saya pernah mau melahirkan sudah gawat dirujuk ke RS Kandouw krn saya rasa keadaan saya sudah tidak memungkinkan saya putuskan utk tidak dibawa kesana.. Krn kalo kesana mungkin nasib saya sama dg ibu hermin.. Tuhan sayang saya langsung ke RS Kasih ibu.. Disana langsung ditangani dengan cepat. Urusan adm. Belakangan.. Proses begitu cepat sampai lahiran dgn pertolongan Tuhan dan para medis diRS kasih ibu..
Anakku juga waktu sakit panas dan kejanh saya tidak mau bawa ke RS Kandouw walaupun ada yg anjurkan. Saya bawa lgsg ke RS Advent. Sungguh nyaman disana dan langsung ditangani dgn cepat. Saya sarankan kalo sudah gawat jgn hentar ke RS Kandouw. Masih ada RS Advent yg lebih cepat dan bagus.. Bahkan bisa dibilang jauh lebih bagus..
Saya turut berdukacita, pak billy…qrx keluaga dikuatkan dan dihibur selalu oleh Dia sang penghibur sejati. Amin
Mengingatkanku saat masuk pertama kali d rs prof kandou yg mmg wkt itu msh tipe B..kr akan melahirkan..mli dr masuk sdh d marahi, pdhal q pikir ketiq mjd seorg dokter, apapun keadaan pasien layani dg kasih.
D ruang bersalinpun ditanya apakah sy akan dibantu dokter d ruangan atw dokter yg menangani q stiap bulan kudatangi? Sy jwb iya.
Ehhhh…malah sy d ty mau byr brp pd dokter, katanya di dunia ini tak ada yg gratis.
Sypun langsung beranggapan dkter tsb tak layak jd dokter.
Sy bersyukur, dokter kandungan q serg yg baik, tak mengungkit soal bayaran, ttp sbg manusia yg tau berterimakasih, saya dan suami tlah mempersiapkan sebelum wkt melahirkan.
Sayang ketika keluar RS, saya lupa menceritakan…saat sy ingat dan kuceritakan, sayapun tlah lupa nm dokter tsbt.
Bagi q en qt semua…spt itu adalah pembelajaran…sbg apapun qt, mari layani masyarakat dg hati yg tulus.
waduhhh..ini sudah meninggal non Angelin…..pengalamanku…lalu…dapa resep yang disatukan ternyata dengan pasien lain…pas bayar untung ada periksa..dgn gampangnya perawat bilang..minta tolong bayar akang pasien tak mampu…wahhhhh….Omaku diminta 200 juta…somo bayar …ternyata setelah diperiksa dr sdrku…dia bilang for apa lagi itu obat so jadi racun….hmmmmmm….tim akreditasi lalu mungkin tipe C..mar kase tipe A pa RS kandouw….
Baca cerita ini jadi teringat Almh tanteku yg sempat di rawat di RS yg sama. Sungguh pelayanannya sangat buruk sampai keluarga harus memindahkan beliau di Anggrek dengan asumsi dan harapan yg besar dapat dirawat dan ditangani dengan baik. Namun nyatanya pelayanan lebih buruk. Tante sudah kritis, pihak keluarga melapor ke suster yg jaga agar dipanggilkan dokter namun perawat malah meladeni keluarga dengan ketus. Otomatis sepupu saya yg anak tante langsung emosi, rasa sabar sudah ditahan2 namun sangat disayangkan RS sebesar itu begitu buruk pelayanannya sampai tante menghembuskan nafas terakhir di RS tsb
PAK GUBERNUR GANTI SAJA DIREKTURNYA PELAYANAN TAK BECUS
Capslocknya rusak ya pak?
Setuju saya dengan Pnt Billy Lombok papa saya dlu pun seperti itu tdk ditanggani dgn baik,hanya tdur di kursi panjang rumah sakit dgn alasan full trus penyakit papa sudah parah.setelah itu dipindahkan ke tempat tdur setelah bberapa hari dan tdk ada penangganan yg sesuai..malamnya mama saya disuruh cek darah dan ambil hasilnya di PMI itupun sendiri krna wktu itu saya tdk berada di t4 pas pulang diceritakan .. byangkan disuruh jalan sendiri jam 12 malam dgn hasil sdh tdk ada harapan … yg lbh aneh bukan dpt penangganan malah dirujuk ke rumah sakit teling …. ohhh sungguh hal yg memilukan…
Sdra Lessa Lombok tau kok cerita ini krna saya temannya lessa sampai papa saya meninggal mereka support saya trus…
Dan ini jgn dibiarkan tpi minta tolong penangganan yg lbh teliti ….
Kemaren qt p mama le maso di RS itu..singkat cerita qt p mama HB turun jd musti tambah darah tu pagi,smntara transfusi qt p mama ta tidor pas bangun so abis tu darah di kantong yg jaga qt p mama da kluar makan qt p mama tggu2 perawat drg nya datang2 sampe qt p mama p tangan bengkak..qt yg tau tu kejadian ba tanya pa prawat dy malah narah pa trg ngoni so tau2 abis nya pangge pa trg.qt blg oh jadi trg yg musti dtg ba lapor bkn ngoni yg dtg cek??!malah dy jawab trg p kerja di sini mow urus banya pasien jd ngoni yg musti dtg ba lapor pa trg!!adooh rasa2 mow feto pa dy di tambah trg pasien umum yg kaluar musti bayar dg puluhan juta malah bukan dapa pelayanan malah dapa hina!!bayangkan le drg p pandang enteng dp prawat kse resep air infus banya sx,coba tanya pa dp prawat dy cuma blg kann tetap ng p mama biar so kaluar rumah saki kan tetap mow bale noh pake ulang noh(doh sama dg da sambar petir da dgar)so siksa da mow kse bae ngo cuma minta2 mo bale ulang dp kira ni doi da bli infus cuma jga jatung dr langit sto!!!
Memang harus byk2 bersabar boss.. sy jg pnh alami yg sama wktu mama sakit..dlu jengkel krn ditaruh di ugd yg panas dan penuh sesak dg org2, krn hrs diobservasi dlu..tpi skg mlh disyukuri krn mmg harus begitu, dokter pun hrs tdk blh buru2 bertindak nti lgi dibilang malpraktek..intinya keluarga hrs byk sabar..tempat nyaman berAC tidak menjamin..sblm ke rs kandou, mama sy dirawat di siloam..ruang nyaman tpi tidak diperhatikan..dokter hampir tdk pnh dtg, perawat cm dtg tanya mo makan apa..dibiarkan bgtu sj, sama sekali tdk diapa2kan, pdhl butuh observasi trs menerus utk periksa kondisi pasien..ujung2nya hrs dirujuk ke kandou dan kami hrs bayar hampir 20juta for nothing!!! Sementara di rs kandou slma 24 jam mama sllu diobservasi dan dipantau berulang2..ini jg alasan dokter tak mau pindahkan di ruang kelas.. di ugd akn lebih mudah ditindak..mama sy lgsg operasi cito dsana..bayangkan klo kita jauh di anggrek sana ditaruh, hrs antri dlu dan bisa2 terlambat ditolong.. sempat kami minta2 dibawa ke kelas yg nyaman tpi stlh dipikir lebih baik disini (ugd) bisa dipantau trs krn dokter, residen dan koas sllu stand by dsitu 24jam dan saya salut krn mereka sabar2 menghadapi keluarga2 pasien yg emosian..itu keputusan tepat ternyata..ssdah observasi brulah tindakan operasi dan stlh itu kami dpindah ke slh satu ruangan di anggrek yg nyaman dan berAC utk istirahat pemulihan.. oia,,kami jg hrs bawa2 bolak-balik lab bhkan sampai tengah2 malam tpi tdk mengeluh tuh.. klo maunya dilayani terus yaa pasti susah boss..apa2 mengeluh..bersabar smua butuh proses..begitulah suka dukanya melayani org tua yg sakit..
Mgkn nda baca bae2, ini so sangat sabar, justru dgn sabar dapa beking suka2..
Pertanyaan, observasi itu sebagai pijakan awal, observasi itu berapa lama.
Kenapa ada pernyataan2 tendensius, pada saat pasien ditanya kapan dipindah ; pak, waktu di gleneagles memangnya bagaimana ?
Kamar bocor, tetesan air kena pas di perut yg sakit.
Tabung oxygen di bawa pergi, karena pasien tidak berkenan di atas tempat tidur ( panas, atap bocor)
Kenapa tunggu biru baru di bawa ke ruangan yg lebih intensive
Kenapa dari awal tidak ruangan intensive, ada ICU, HDU.
Kenapa pasien tidak diberi penjelasan seakurat dan se detil detilnya ttg proses
Tahukah anda, ada dokter yg membuka baju pasien ini dan kemudian cuma tanya, ini apa, ini kenapa kembung, bekas operasi apa, kemudian di tanya trus apa dok tindak lanjut, dijawab wah sudah tidak ada
Pasien / keluarga berhak mengetahui kalau sedang di pakai belajar
Kenapa saat dipompa pada saat meninggal, dilakukan oleh dokter dengan mengantri, luar biasa, latihan lagi ? Dimana kehormatan keluarga ?
Apa ada keluarga tidak sabar ? Kalau keluarga tidak sabar, pasti keluarga sudah marah, anarkis, ini malah terus mengikuti perintah dokter, sampai akhirnya meninggal
Kenapa bangunan baru sudah bocor, dan berakibat pelayanan? Ingat ini uang rakyat
Wah kalo anda bolak balik lab tidak mengeluh tidak apa2, justru ini jadi bukti tambahan ada kesaksian bahwa status RS tidak pantas, tidak maksimal.
Coba cek di mana darurat terus tidak jadi fasilitasnya
“….Kami kaget, perawat laki2 mengatakan ‘oma kalo di kursi roda tidak ada oksigen’ , padahal oksigen portable sebenarnya ada. Benar saja, pilihan menggunakan kursi roda, dan kemudian perawat itu membawa kembali oksigen portable, praktis mami tanpa oksigen di lorong itu, gila saja masa RS tipe A hanya punya 1 oksigen portable dan harus menarik oksigen itu dari pasien. Akhirnya mami menyerah, biar jo dang ke tempattidur jo, walau mami tahu konsekuensi merasa lebih panas…..
Kami turut berduka atas meninggalnya ibu Hermien…Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Tetapi yang patut saya sesalkan adalah anda mengeluarkan pernyataan yang tidak benar dan tidak konstruktif sebagaimana kapasitas anda.
Sebagian komentar di atas itu yang menjadi perhatian saya, kenapa harus sampai MENGARANG cerita sampai seperti itu.
Turut berduka Pak. Tapi sangat bijak jika rasa duka yang dialami tanpa perlu mendiskreditkan pihak lain.
Banyak yg tidak sembuh, banyak yang meninggal. Itu keniscayaan. Tapi lebih banyak orang yang sembuh. Lebih banyak yang memperoleh waktu hidup yang lebih panjang. Tapi sangat jarang yang mengucapkan terimakasih dan rasa syukur karena telah memperoleh perawatan dan kesembuhan ata perbaikan derajat kesehatan.
Observasi pasien tidak pasti pak. Kalo masih belum stabil, ya lanjut observasi. Jika terapi belum memberikan respon memuaskan ya lanjut observasi untuk bisa menentukan pengobatan selanjutnya.
Jika membandingkan, yang adil dong Pak. Gleneagles penang kan private hospital. Pasiennya berapa banyak? Stafnya berapa banyak?
Kandou pasiennya dari satu sulawesi utara pak.
Bahkan rujukan indonesia timur. Jelas beban kerjanya beda pak. Butuh berapa banyak tabung oksigen untuk melayani pasien satu sulawesi utara dan indonesia timur… sulit pak.
Tidak semua pasien masuk ICU pak. Kapasitasnya terbatas, indikasinya juga ada. Ada aturannya pak.
Tidak semua pelaku korupsi langsung masuk bui pak. Penyidikan dulu.
Mungkin sudah diberi penjelasan tapi bapak kurang ngerti pak.
Pompa saat meninggal namanya resusitasi pak. Jantung paru, juga otak.
Dokter antri untuk resusitasi malah disyukuri pak.
Resusitasi dihentikan jika penolong kelelahan. Banyak penolong masa resusitasi lebih panjang Pak. Karena jika lelah, ada yang menggantikan.
Kehormatan keluarga relatif pak. Bayi cucunya presiden pas lahir juga telanjang pak. Saat resusitasi pakaian pasien diekspos biar penolong tau letak kompresi dada, sekalian menilai pengembangan dinding dada saat dilakukan napas buatan, berhasil atau tidaknya tindakan.
Semua harus sabar pak. Pelayanan publik menerima cacian dari mana saja pak. Makanya dituntut untuk sabar. Kalo staf rs ga sabar, pasti udah gila pak. Karena hampir semua orang menuntut pak. Menuntut untuk didahulukan, menuntut u tuk dihormati. Satu sulawesi utara dan indonesia timur pak. Mungkin level sabar staf rs lagi kritis karena seharian terkuras tapi masih terkontrol. Kalo ikut dengan anarkis orang, rs jadi tempat kerusuhan pak.
Dan memang di RS seperti itu, ikut instruksi dokter. Seperti di dpr, ikut instruksi anggota dewan yang terhormat.
Bangunan baru bocor mungkin tender pak. Dokter perawat bukan tukang bangunan. Tender kan pihak ketiga pak. Yang menang kan biasanya kontraktor dekat api pak. Dekat eksekutif, juga legislatif. Benar pakai uang rakyat. Ga usah diingatkan pak.
Bolak balik lab karena petugas lab fokus energi untuk periksa sampel pak. Sampel pasien dari satu sulawesi utara dan indonesia timur pak. Bukan habis energi buat bolak balik antar jemput sampel dan hasil lab.
Mungkin bisa usul ke legislatif untuk penambahan tenaga pns atau honorer khusus untuk kurir laboratorium.
Status rs pantas pak.
Perlu perbaikan saya setuju.
Bapak kerjaannya apa ya? Mungkin anggota dewan?
Kritik nanti dengan solusi ya pak.
Sekali lagi turut berduka cita…
Mgkn nda baca bae2, ini so sangat sabar, justru dgn sabar dapa beking suka2..
Pertanyaan, observasi itu sebagai pijakan awal, observasi itu berapa lama.
Kenapa ada pernyataan2 tendensius, pada saat pasien ditanya kapan dipindah ; pak, waktu di gleneagles memangnya bagaimana ?
Kamar bocor, tetesan air kena pas di perut yg sakit.
Tabung oxygen di bawa pergi, karena pasien tidak berkenan di atas tempat tidur ( panas, atap bocor)
Kenapa tunggu biru baru di bawa ke ruangan yg lebih intensive
Kenapa dari awal tidak ruangan intensive, ada ICU, HDU.
Kenapa pasien tidak diberi penjelasan seakurat dan se detil detilnya ttg proses
Tahukah anda, ada dokter yg membuka baju pasien ini dan kemudian cuma tanya, ini apa, ini kenapa kembung, bekas operasi apa, kemudian di tanya trus apa dok tindak lanjut, dijawab wah sudah tidak ada
Pasien / keluarga berhak mengetahui kalau sedang di pakai belajar
Kenapa saat dipompa pada saat meninggal, dilakukan oleh dokter dengan mengantri, luar biasa, latihan lagi ? Dimana kehormatan keluarga ?
Apa ada keluarga tidak sabar ? Kalau keluarga tidak sabar, pasti keluarga sudah marah, anarkis, ini malah terus mengikuti perintah dokter, sampai akhirnya meninggal
Kenapa bangunan baru sudah bocor, dan berakibat pelayanan? Ingat ini uang rakyat
Wah kalo anda bolak balik lab tidak mengeluh tidak apa2, justru ini jadi bukti tambahan ada kesaksian bahwa status RS tidak pantas, tidak maksimal.
Coba cek di mana darurat terus tidak jadi fasilitasnya baik bangunannya ataupun lainnya
“….Kami kaget, perawat laki2 mengatakan ‘oma kalo di kursi roda tidak ada oksigen’ , padahal oksigen portable sebenarnya ada. Benar saja, pilihan menggunakan kursi roda, dan kemudian perawat itu membawa kembali oksigen portable, praktis mami tanpa oksigen di lorong itu, gila saja masa RS tipe A hanya punya 1 oksigen portable dan harus menarik oksigen itu dari pasien. Akhirnya mami menyerah, biar jo dang ke tempattidur jo, walau mami tahu konsekuensi merasa lebih panas….
Kami turut berduka atas meninggalnya ibu Hermien, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan. Namun yang patut disesalkan kenapa harus komentar diatas yang tidak benar dan tidak konstruktif sebagaimana anda.
Sebagian komentar anda di atas yang menjadi perhatian saya, kenapa harus MENGARANG cerita sampai seperti di atas dan itu sungguh pernyataan yang tidak bertanggung jawab.