Minut

Perjuangkan Keindahan Bawah Laut Pulau Bangka, ‘Warga Italy’ Hampir Menangis di DPRD Minut

Clara Mata Karang Pulau Bangka Tolak Bangka dalam Hearing bersama DPRD Minut

Foto: Clara asal negara Italy, pemilik resosrt Mata Karang di Pulau Bangka saat menyampaikan pendapatnya menolak adanya pertambangan di pulau kecil di Pulau Bangka dalam hearing bersama DPRD Minut, Rabu (8/10/2014) sore

Airmadidi – Kenapa kita menolak ada pertambangan di Pulau Kecil, Pulau Bangka yang kaya akan keindahan alam terlebih alam bawah laut? Karena di Pulau Bangka, saya pikir dengan suami, ini daerah pariwisata. Itu alasan saya datang di Indonesia, kami mau tinggal di Indonesia.

Itulah awal penjelasan dari Clara yang berasal dari negara Italy dan memilih menetap di Pulau Bangka, Kabupaten Minahasa Utara untuk mengembangkan potensi pariwisata di Minut khususnya wisata bawah laut disana.

Clara adalah pemilik tempat wisata Mata Karang. Dimana penyampaian dengan dialek indo itu disampaikannya dalam hearing bersama DPRD Minut di ruang rapat Kantor DPRD Minut.

Dengan wajah yang memerah, Clara terlihat menyesalkan dengan sikap sejumlah pihak yang menuding usahanya tidak mempunyai ijin. Memegang sejumlah bukti ijin usahanya, Clara membaca satu per satu semua ijin itu di hadapan para anggota DPRD Minut.

Mereka datang terus, mereka mau periksa semua. Ijin saya ada semua. Saya tak mau dengar perusahaan kami tak ada ijin. Kami kerja keras untuk dapat ijin, tidak mudah dapatnya. ujar Clara dengan raut wajah yang terlihat sedih.

Dikatakan Clara, mereka bilang apa yang kita berikan pada masyarakat? “Kami jaga ekosistem laut. Pekerja kami kasih jamsostek, dapat pelayanan kesehatan. Ada perahu, minimal bisa angkut masyarakat naik turun ke Bangka. Pekerja datang tak kerja penuh dapat gaji full,” jelas Clara yang terlihat menahan rasa tangis.

Diakui Clara, ekosistem lingkungan Pulau Bangka bagus sekali, semua resort senang sekali.

Kenapa harus ada karang, disitu ikan bertelur, telur jadi ikan, ada ikan untuk masyarakat, untuk semua orang. Kalau dirusak, karang tak ada, ikan tidak ada, masyarakat tidak hidup. kata Clara sambil menyeka air matanya.

Kalau ada PT MMP, diakui Clara akan ada korban disana, masyarakat Pulau Bangka tidak hidup. “Saya datang disini tak untuk masalah. Kalau ada PT MMP, dua, tiga tahun masyarakat mati,” tandas Clara yang disambut applause sejumlah anggota DPRD Minut termasuk mereka yang hadir dalam kegiatan hearing tersebut. (robintanauma)

 

5 tanggapan untuk “Perjuangkan Keindahan Bawah Laut Pulau Bangka, ‘Warga Italy’ Hampir Menangis di DPRD Minut”

  1. Tidak!! Jangan Ada lagi dunk, pertimbangan itu di pantai, kasian mahluk yg Hidup dilaut. Please,STOP!!! Kita harus jaga kelestarian laut.

  2. Salut ke DPRD Minut yang menggelar pemaparan dan unek unek Ibu Clara dari Italia. Selalu terjadi persaingan antara “Pro Growth” dan “Pro Environment”. Supaya lebih “afdol” bagiusnya kalau dalam debat tersebut, perlu didasarkan pada “naskah akademi” dari kedua belah pihak. Yang Pro Growth, yaitu PT MMR dan Pemprov (yang memberi idzin) dan yang “pro environment”. Kenapa Pakar Pakar Unsrat ndak nyimprung untuk naskah akademi itu?. Tanpa naskah akademi, debat publik di DPRD hanya akan cendrung “debat kusir”. Waktu saya Rektor Unsrat, kami berhasil mengumpulkan pakar pakar internasional dan nasional, menseminarkan kontroversi Pro Growth dan Pro Environment pada Pertambangan Emas PT Newmonth. Yth. Pimp DPRD…mungkin bermanfaat DPRD Minut undang pakar2 dari Unsrat dari berbagai disiplin ilmu untukmengevaluasinya. Syalom. Prof Lucky Sondakh,Ph.D, Mantan Rektor Unsrat, Puenabhakti, bermukim di Kanonang dan Jakarta sebagai Konsultan Perencanaan dan Evaluasi Proyek.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara