“Siapapun berhak menulis sejarah dengan sudut pandangnya sendiri, yang penting argumentasi dan kejujuran,” kata dia.
Sebagai contoh, dia menyampaikan dalam memahami sejarah perjuangan kemerdekaan secara utuh, seseorang tidak cukup hanya membaca buku-buku sejarah resmi.
Tetapi juga harus menggali sumber alternatif seperti tulisan-tulisan Romo Mangun atau karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang jujur merekam sisi lain dari sejarah bangsa.
Di akhir, Daud mengingatkan bahwa masa lalu dan prasejarah selalu menjadi bagian penting bagi masa depan.
Oleh karena itu, penulisan ulang sejarah nasional sebaiknya dilakukan secara hati-hati, terbuka, dan melibatkan para ahli lintas disiplin agar tidak jatuh menjadi alat kekuasaan semata.
“Saya mengharapkan kalau ingin membuat sejarah dengan pendekatan Indonesia sentris itu adalah pendekatan Indonesia sentris yang merdeka yang demokratis. Sehingga kita bisa mendengar dari semua pihak tidak ditentukan oleh pihak tertentu,” tandas Daud.
(Erdysep Dirangga)
