“Semua dikendalikan dari atas. Konsesi penulisan disusun editor umum dan arahan penguasa,” kata Truman.
Ketiga, komposisi tim penyusun yang dianggap tidak sesuai keahlian.
Outline untuk jilid pertama (prasejarah) justru disusun oleh sejarawan, bukan oleh prasejarawan yang memahami bidang tersebut.
“Kalau bahasa Bataknya, marabalangan semua atau kacau balau semua nanti,” kata dia.
Keempat, proses revisi yang tertutup terhadap masukan akademik.
Para editor terikat pada arahan birokrasi dan tidak memiliki kebebasan akademik yang memadai.
“Ini semestinya otoritas editor karena ini keilmuan,” katanya.
Kelima, penggunaan narasi Indonesia-sentris yang dianggap berlebihan.
Menurut Truman, pendekatan semacam ini mencemari objektivitas ilmiah yang seharusnya menjadi landasan utama dalam penulisan sejarah.
“Kalau benar tulis benar, kalau hebat kita puji jangan mengangkat hal-hal Indonesia hebat loh, tidak bisa begitu bro di bidang keilmuan, kalau bahasa pasaran boleh saja,” tegasnya.
Truman juga mengkritik pernyataan pejabat yang mengklaim Indonesia sebagai pusat peradaban dunia.
Menurutnya, klaim tanpa dasar semacam itu hanya mempermalukan dunia akademik.
Secara akademik, ia mengingatkan bahwa 99 persen kehidupan manusia di Nusantara berlangsung pada era prasejarah, masa sebelum ada sistem tulisan.
Era sejarah baru dimulai sekitar abad ke-4 Masehi, saat pengaruh India memperkenalkan tulisan di Nusantara.
Risiko Akademik dan Reputasi Bangsa
Baik Wiwin maupun Truman menegaskan bahwa penggantian terminologi dan proses penyusunan buku yang terburu-buru bukan sekadar masalah teknis, melainkan berisiko merusak integritas akademik Indonesia di mata dunia.
“Penerbitan buku sejarah indonesia itu selalu menggunakan kata prasejarah, 1984, dan pada 2012 juga, sekarang menggantikan sejarah awal di 2025. Pertanyaan besarnya apa yang terjadi? hingga mengubah terminologi itu,” kata Truman.
Dalam diskusi daring itu juga diungkapkan bahwa penggantian istilah yang sudah digunakan selama lebih dari dua abad secara global akan menimbulkan kebingungan di kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
