Spending money mereka rata rata 20 juta an per orang ikut mendorong peningkatan PAD dari perhotelan dan rumah makan. Sempat anjlok karena pandemik, namun kini turis asing ke Sulut mulai pulih. Data BPS menyebutkan, turis asing ke Sulut per 2024 lalu, capai 47 ribu sekian. Naik drastis dari periode 2023.
Selepas pandemi, Pariwisata Sulut terus digenjot. Berbagai trik dan cara telah dan terus dilakukan pemerintah, baik pusat maupun provinsi dan kabupaten kota, agar turis asing datang lagi.
Bahkan jajaran pelaku pariwisata ikut berjibaku. Lakukan kerjasama. Ada Moudy Paat dkk dari Asita, Merry Karouwan dkk dari pelaku ekraf dan wellness, Jouvendi Rompis dkk Astindo, Flori Tampi Sumerah Kadin, Masye Wowiling dkk dari Asppi, Mario, Guidejotje Lala dkk HPI, Sonny Tasdjwa dkk IPI, Pingkan Natalia Mandagi dkk dari sport tourism, Hartini Mochtar dkk dari IGMHA perhotelan, Jelly Walansendow dan HAlvy Pongoh dkk dari Ihsa Sulut , Joulla Langelo Horman dengan tim expo health tourism, hingga Roy Berty dengan TV Wisata berbasis streaming youtube, dan senior Johny Lieke dengan tim GIPI dan banyak lagi. Mereka secara spontan, bersatu dengan pemerintah daerah, elaborasi bersama agar turis mau datang lagi.
“Kerja bersama itu modal di sulut,” kata Moudy Paat dan sekretaris Asita Sulawesi Utara paling enerjik Melisa Patricia.
Strategi promosi, pelaksnaaan even seperti Festival Lembeh, Festival Teluk Tomini di Dinas Pariwisata Bolsel hingga Festival Bunga di Tomohon gencar dilaksanakan.
Tak kalah penting dalam strategi ini, adalah upaya pemerintah membuka jejaring penerbangan. Konektivitas langsung dari Manado ke kantong-kantong turis asing di provinsi sekitar Sulut, terus dilakukan. Seperti Manado ke Raja Ampat.
Di Raja Ampat ada hampir 50 ribu turis asing masuk via Bali dan Makassar ke sana.
Syukurlah, Trans Nusa dan Lion Air telah membuka jalur Sorong Pabaya (Papua Barat Daya) ke Manado.
Hasilnya? Lumayan.
Kawan kawan di Kantor Imigrasi Klas I Manado mengakui, sejumlah turis Raja Ampat, mulai ramai lanjut ke Manado.
Lalu, ada pula kantong baru di Sulteng. Banggai ke Manado oleh Susi Air. Di Banggai kini viral destinasi danau kaca Paisupok.
Destinasi yang katanya mampu bikin antiaging kulit tubuh manusia itu, mampu menyedot turis asing hingga ribuan orang dalam 6 bulan saja.
Oleh Susi Air, turis asing di Banggai mulai melanjutkan perjalanan ke Manado.
“Di manado ada wisata bird watching dan bunaken,” kisah kawan Moh Rizky Nanda Hadju owner Banggai Tour.
“Sulut sebagai destinasi wisata yang potensial perlu suntikan turis dari kantong kantong beyond. Di sekitarnya. Agar grow up lebih cepat,” pesan Ibu Ni Made Ayu Marthini. Beliau sahabat saya yang menjabat sekarang sebagai pejabat penting. Tepatnya Deputi Pemasaran.
Memang di Kementrian Pariwisata RI. Ibu Made, bersama Bapak Vinsenius Jemadu dan Ibu Rizky Handayani, adalah para deputi yang sangat semangat mendukung kemajuan pariwisata Sulut.
Tak heran, tatkala Gubernur Yulius Selvanus berhasil melobi Lion Air Group, dengan membuka penerbangan Wings Air Manado Toraja, karuan saja langsung didukung penuh kawan kawan pejabat di Kementrian Pariwisata.
“Turis asing di Toraja akan bisa melanjutkan perjalanan ke Manado. Menikmati alam dan budaya cantik di Sulut. Dan spending money eropa tinggi lho!” pesan Pak Vinsensius.
