
Catatan Subuh: M Dino Gobel
Hampir dua minggu terakhir, whatsapp saya ramai dikirimi beragam pertanyaan dari sejumlah sahabat pariwisata tanah air dan mancanegara. Mereka rata rata adalah pemilik hingga manajer pemasaran dari sejumlah travel agent di Bali, Jakarta, Makasar. Bahkan, yang lain dari Australia, Eropa, Seoul Korsel dan Jepang.
Rata rata isi pesan mereka adalah menyambut positif. Antusias atas dibukanya jalur penerbangan Manado ke Toraja.
Mereka menyambut baik. Bersemangat.
Alasannya, dalam pesan whatsapp ke saya itu, selama ini, turis asing ke Toraja lumayan banyak.
“Rekor tertinggi turis asing ke Toraja mencapai 300-an ribu orang. Kebanyakan Eropa,” kata Dandy Allen, kawan pemilik sebuah travel di Jakarta.
Spesifikasi mereka kebanyakan turis peminat wisata budaya, alam pegunungan dan dive taman laut.
“Dibukanya jalur Manado Toraja telah memecahkan kebuntuan bisnis pariwisata perusahan saya, Dino. Bahkan ini akan sangat menguntungkan Manado sendiri,” lanjut Bravely, kawan agent di makasar.
Mengapa? Pengusaha travel yang juga owner rental kendaraan ini menyebutkan, banyak bule’ (sebutan khas buat turis asing) ke Toraja itu minta akses penerbangan ke Manado. Walhasil, sebagian kecil bule, karena belum adanya akses penerbangan ke manado, tetap nekat memilih land tour ke manado. Atau menyewa kendaraan. Naik mobil dari toraja ke Manado.
Hal senada diakui kawan agent dari Seoul Korsel. Park Jong namanya.
Tapi saya lebih suka sapa beliau dengan nama khas “sashimi”. Sebab sejak perkenalan awal saya dengannya di Hana Travel Mart Seoul tahun 2019, Park penggemar berat makan daging ikan salmon or tuna mentah. Sashimi.
Ke Bitung di 2023 lalu, dia habiskan 3 porsi sahsimi tuna khas kota Bitung.
Kata Park via whatsappnya, adanya akses manado ke toraja akan semakin baik bagi pariwisata Indonesia. Bahkan bagi pengusaha travel di korsel sendiri.
Mengapa? Karena, masa tinggal turis asing, khususnya Korsel, di indo akan lebih lama. Misal, saat tiba ke Toraja via Makassar. Mereka akan bisa lanjut ke manado. Spending money bisa lebih banyak lagi masuk ke indonesia, termasuk manado.
“Doakan ya Mister Dino. September mungkin penerbangan Incheon Seoul ke Manado akan terealisasi. Nah, turis negara saya akan semakin cinta ke manado karena pintu Manado semakin variatif. Kami bisa lanjut ke Raja Ampat, ke Banggai Paisupok dan sudah di Toraja pula,” katanya sembari menyertai pesannya dengan emoticon love love.
So? Menanggapi dibukanya jalur Manado Toraja ini, bagi saya yang intens mendampingi pariwisata Sulut 10 tahun terakhir, banyak peluang positif yang bisa diperoleh Manado bahkan Sulut, atas dibukanya jalur Manado-Toraja ini.
Sebelum pandemi, Sulut disadarkan bahwa pariwisata adalah sektor paling cepat memulihkan perekonomian: menaikan pendapatan, memecah kebuntuan pengangguran, menurunkan angka kemiskinan.
Dibuktikan dengan mengalir derasnya turis asing periode 2017 ke 2019. Rekor tertinggi 150 ribu orang turis asing mampir ke Sulut di periode itu.
Spending money mereka rata rata 20 juta an per orang ikut mendorong peningkatan PAD dari perhotelan dan rumah makan. Sempat anjlok karena pandemik, namun kini turis asing ke Sulut mulai pulih. Data BPS menyebutkan, turis asing ke Sulut per 2024 lalu, capai 47 ribu sekian. Naik drastis dari periode 2023.
Selepas pandemi, Pariwisata Sulut terus digenjot. Berbagai trik dan cara telah dan terus dilakukan pemerintah, baik pusat maupun provinsi dan kabupaten kota, agar turis asing datang lagi.
Bahkan jajaran pelaku pariwisata ikut berjibaku. Lakukan kerjasama. Ada Moudy Paat dkk dari Asita, Merry Karouwan dkk dari pelaku ekraf dan wellness, Jouvendi Rompis dkk Astindo, Flori Tampi Sumerah Kadin, Masye Wowiling dkk dari Asppi, Mario, Guidejotje Lala dkk HPI, Sonny Tasdjwa dkk IPI, Pingkan Natalia Mandagi dkk dari sport tourism, Hartini Mochtar dkk dari IGMHA perhotelan, Jelly Walansendow dan HAlvy Pongoh dkk dari Ihsa Sulut , Joulla Langelo Horman dengan tim expo health tourism, hingga Roy Berty dengan TV Wisata berbasis streaming youtube, dan senior Johny Lieke dengan tim GIPI dan banyak lagi. Mereka secara spontan, bersatu dengan pemerintah daerah, elaborasi bersama agar turis mau datang lagi.
“Kerja bersama itu modal di sulut,” kata Moudy Paat dan sekretaris Asita Sulawesi Utara paling enerjik Melisa Patricia.
Strategi promosi, pelaksnaaan even seperti Festival Lembeh, Festival Teluk Tomini di Dinas Pariwisata Bolsel hingga Festival Bunga di Tomohon gencar dilaksanakan.
Tak kalah penting dalam strategi ini, adalah upaya pemerintah membuka jejaring penerbangan. Konektivitas langsung dari Manado ke kantong-kantong turis asing di provinsi sekitar Sulut, terus dilakukan. Seperti Manado ke Raja Ampat.
Di Raja Ampat ada hampir 50 ribu turis asing masuk via Bali dan Makassar ke sana.
Syukurlah, Trans Nusa dan Lion Air telah membuka jalur Sorong Pabaya (Papua Barat Daya) ke Manado.
Hasilnya? Lumayan.
Kawan kawan di Kantor Imigrasi Klas I Manado mengakui, sejumlah turis Raja Ampat, mulai ramai lanjut ke Manado.
Lalu, ada pula kantong baru di Sulteng. Banggai ke Manado oleh Susi Air. Di Banggai kini viral destinasi danau kaca Paisupok.
Destinasi yang katanya mampu bikin antiaging kulit tubuh manusia itu, mampu menyedot turis asing hingga ribuan orang dalam 6 bulan saja.
Oleh Susi Air, turis asing di Banggai mulai melanjutkan perjalanan ke Manado.
“Di manado ada wisata bird watching dan bunaken,” kisah kawan Moh Rizky Nanda Hadju owner Banggai Tour.
“Sulut sebagai destinasi wisata yang potensial perlu suntikan turis dari kantong kantong beyond. Di sekitarnya. Agar grow up lebih cepat,” pesan Ibu Ni Made Ayu Marthini. Beliau sahabat saya yang menjabat sekarang sebagai pejabat penting. Tepatnya Deputi Pemasaran.
Memang di Kementrian Pariwisata RI. Ibu Made, bersama Bapak Vinsenius Jemadu dan Ibu Rizky Handayani, adalah para deputi yang sangat semangat mendukung kemajuan pariwisata Sulut.
Tak heran, tatkala Gubernur Yulius Selvanus berhasil melobi Lion Air Group, dengan membuka penerbangan Wings Air Manado Toraja, karuan saja langsung didukung penuh kawan kawan pejabat di Kementrian Pariwisata.
“Turis asing di Toraja akan bisa melanjutkan perjalanan ke Manado. Menikmati alam dan budaya cantik di Sulut. Dan spending money eropa tinggi lho!” pesan Pak Vinsensius.
Saya pribadi setuju apa yang ditegaskan ini. Sebab, di periode pasca pandemi, “ilmu mengukur” kontribusi sektor pariwisata bagi perekonomian sebuah destinasi, mengutip cara berpikir Prof DR Intourism Betel Lagarense, (Prof Bet, sapaan akrabnya, adalah profesor spesialis pariwisata pertama di Indonesia. Asal Sulut), adalah tidak menghitung kwantitas tapi kwalitas.
Not massive tourism but quality tourism.
Apa itu? Yah, biarpun jumlah sedikit tapi spendig money atau jumlah duit yang dibelanjakan. Dan masa tinggal lebih lama, itu yang dibutuhkan pariwisata dalam men triger kan kesejahteraan rakyat.
So, berapa banyak perbelanjaan turis asing ke Indonesia? Variatif kata Kementerian Pariwisata era Menteri Arief Yahya. Eropa dan Jepang hampir sama. Lebih lama longstay nya. Bisa mencapai 100 juta per orang dalam 2 minggu sampai 1 bulan masa tinggal. Ini berdasarkan hitungan kurs rp16 ribu per usd.
Dalam konteks ini, mengacu data Dinas Pariwisata Toraja per 2024, turis asing ke wilayahnya mencapai 16 ribuan orang per tahun. Atau, 1000 an lebih orang per bulan. Kemudian setengah saja dari mereka berhasil dijaring ke Manado? Bisa dibayangkan. 500 orang jo ke manado gunakan penerbangan Manado Toraja? Per orang turis asing, average spending money nya ke Sulut mencapai Rp50 juta saja?
Akan ada pendapatan for Sulut sebesar Rp25 miliar!
Duitnya akan kemana? Pasti ke hotel, restoran. Tenaga kerja pariwisata yang sempat sepi akibat dampak efisiensi anggaran, pasti akan bergembira lagi. Hidup bagi keluarganya.
