Saya pribadi setuju apa yang ditegaskan ini. Sebab, di periode pasca pandemi, “ilmu mengukur” kontribusi sektor pariwisata bagi perekonomian sebuah destinasi, mengutip cara berpikir Prof DR Intourism Betel Lagarense, (Prof Bet, sapaan akrabnya, adalah profesor spesialis pariwisata pertama di Indonesia. Asal Sulut), adalah tidak menghitung kwantitas tapi kwalitas.
Not massive tourism but quality tourism.
Apa itu? Yah, biarpun jumlah sedikit tapi spendig money atau jumlah duit yang dibelanjakan. Dan masa tinggal lebih lama, itu yang dibutuhkan pariwisata dalam men triger kan kesejahteraan rakyat.
So, berapa banyak perbelanjaan turis asing ke Indonesia? Variatif kata Kementerian Pariwisata era Menteri Arief Yahya. Eropa dan Jepang hampir sama. Lebih lama longstay nya. Bisa mencapai 100 juta per orang dalam 2 minggu sampai 1 bulan masa tinggal. Ini berdasarkan hitungan kurs rp16 ribu per usd.
Dalam konteks ini, mengacu data Dinas Pariwisata Toraja per 2024, turis asing ke wilayahnya mencapai 16 ribuan orang per tahun. Atau, 1000 an lebih orang per bulan. Kemudian setengah saja dari mereka berhasil dijaring ke Manado? Bisa dibayangkan. 500 orang jo ke manado gunakan penerbangan Manado Toraja? Per orang turis asing, average spending money nya ke Sulut mencapai Rp50 juta saja?
Akan ada pendapatan for Sulut sebesar Rp25 miliar!
Duitnya akan kemana? Pasti ke hotel, restoran. Tenaga kerja pariwisata yang sempat sepi akibat dampak efisiensi anggaran, pasti akan bergembira lagi. Hidup bagi keluarganya.
Luar biasa bagi saya keputusan berani yang diambil Gubernur Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay dan jajaran Pemprov Sulut dengan membuka Toraja. Artinya ini semakin mengkreasikan kian banyak turis asing ke Sulut. Tak hanya dari Bali, Raja Ampat atau Banggai.
Dampak lain dari langkah Yulius Selvanus-Victor Mailangkay ini?
Semalam dalam dinner saya di jakarta. 2 kabar bagus terbetik. Semoga terwujud.
Sebuah maskapai asing dari Korsel sudah mengkonfirmasi akan terbangi Manado dari Incheon Seoul Korsel.
“Kami akan terbangi Seoul Manado. Reguler. Not charter. Seminggilu 3 x mulai September 2025 ini” kata Mr Kim Jai Ho, owner Likupang Paradise.
Semalam dia kabari via whatsapp dari rumahnya di Bussan Korsel.
Kabar baik lain? Trans Nusa Air, dengan penerbangan charter, sudah memastikan akan terbangi Taipei Manado via Kaohsiung, Taiwan, kabar bagus dari kawan agent Taiwan di Taipei semalam ke saya.
Saya percaya, dua jalur baru di Asia Timur ke Manado ini, bagian dari efek domino dibukanya Toraja. Sebab, untuk survive dan maju sebagai destinasi pariwisata unggulan di tepi Pasifik, persaingan ketat sedang dan akan dialami Sulut. Ada Vietnam. Singapore. Malaysia. Terakhir? Thailand yang gila gilaan dengan kebijakan bebas visanya.
Sebab itu, Sulut harus berani berkreasi. Sulut harus jualan tak melulu paket lokalnya. Tapi harus lebih variatif dengan menggandeng cantiknya Painemo dan Arborek di Raja Ampat, Paisupok dan Pulo Dua di Banggai.
Kini, ada unik nya Kete Kesu dan Londa yang digilai banyak eropa di Toraja.
Dalam konteks inilah, Sulut kian kokoh menancapkan brand nya sebagai International Tourism and Investmen Hub Indonesia di Pasifik. Utara Indonesia.
Dalam konteks inilah, keputusan Gubernur Yulius Selvanus dan Wagub Victor, dengan membuka Manado-Toraja sudah tepat. Kebuntuan memburu masive tourism yang saya urai di atas, insya Allah bisa terwujud cepat. Sebelum kue turis asing diembat habis provinsi lain bahkan negara ASEAN lainnya.
Meski demikian, sebagai usulan saya, kedepan, ketika ada gebrakan bagus seperti membuka jalur Toraja ini, libatkanlah para akademisi kompeten di bidangnya dalam tahapan implementasi kebijakan publik. Sekali sekali, Bappeda Sulut dan Dispar Sulut, mulai berani merekrut.
Ayo, libatkanlah pakar pakar doktor analisis implementasi kebijakan publik yang lebih fresh dan relevan dari Universitas Negeri Manado. Seperti DR Fitri Mamonto (isteri tercinta wartawan senior Manado Post Hairil Paputungan), DR Goinpeace Tumbel MAP, dan lainnya.
