Ia mulai menjadi tanda keselamatan saat ia dibaptis dan menekuni panggilannya sejak sekolah dasar sampai ditahbiskan menjadi imam bersama beberapa rekannya.
Lalu sebagai imam ia melayani umat di keuskupan Amboina (Ternate), Manado (Sulawesi Utara) dan Jakarta.
Ia menjadi tanda keselamatan ketika ia hidup sebagai imam yang rajin, tekun, sederhana dan berkomitmen.
Pengalaman sebagai imam muda di Sulawesi Tengah tertuang dalam catatan Buku Kenangan halaman 27-28 dan 18-19.
Ia menjadi tanda keselamatan dengan tidak hanya menjadi pastor paroki tetapi juga selalu rela melayani orang sakit, orang mati serta membantu orang yang datang meminta pertolongan dan sebagainya.
Ia menjadi tanda keselamatan ketika ia hadir dengan kepribadian, senyum dan candanya, bahkan ketika ia sharing tentang pergumulan, kesusahan dan tantangan hidup dan pelayanan.
Ia menginginkan ada anak-anak yang ikut jejaknya menjadi imam.
Ia tidak hanya menjadi kebanggaan dan kegembiraan keluarga (hal. 36) tetapi seluruh Gereja dan Tuhan sendiri.
Melihat semua pengalamannya itu, pantaslah unat merayakan 50 tahun tahbisan imamatnya.
“Bersama dengan P. Piet marilah kita menjadi tanda keselamatan dan berkat bagi banyak orang. Ia mengajak kita untuk berefleksi sejauh mana kita telah menjadi tanda keselamatan dan berkat bagi banyak orang,” tandasnya.
(Frangki Wullur)
