
Penulis: Jhonli Kaletuang I Manado
Pertandingan Inggris kontra Kroasia pada 18 Juni 2026 bukan sekadar perebutan tiga poin di Grup L Piala Dunia FIFA 2026.
Di balik laga yang diprediksi berlangsung panas tersebut, tersimpan cerita emosional, luka lama yang belum sembuh, serta ambisi besar dari dua negara yang sama-sama ingin membuktikan diri di panggung dunia.
Bagi Kroasia, pertandingan ini membawa makna yang jauh lebih dalam. Sorotan utama tertuju kepada sang maestro lapangan tengah, Luka Modric.
Di usia yang tak lagi muda, legenda sepak bola Kroasia itu diyakini tengah menjalani salah satu bab terakhir dalam karier internasionalnya.
Piala Dunia 2026 disebut-sebut sebagai kesempatan terakhir Modric untuk menorehkan kisah manis bersama negaranya di turnamen paling bergengsi dunia.
Kehadiran Modric bukan hanya soal kualitas permainan, tetapi juga simbol semangat dan identitas sepak bola Kroasia.
Pengalaman, ketenangan, dan jiwa kepemimpinannya menjadi senjata utama yang diharapkan mampu menginspirasi generasi muda Kroasia menghadapi tekanan besar dari Inggris.
Namun di sisi lain, Inggris datang dengan motivasi yang tidak kalah besar. Publik The Three Lions masih menyimpan memori pahit semifinal Piala Dunia 2018 ketika Kroasia menghancurkan mimpi mereka menuju final.
Kekalahan 2-1 kala itu masih menjadi salah satu luka terdalam dalam sejarah sepak bola modern Inggris.Kini, delapan tahun berselang, kesempatan untuk membalas dendam akhirnya kembali hadir.
Skuad muda Inggris yang dihuni pemain-pemain berbakat membawa misi untuk membuktikan bahwa mereka telah belajar dari kegagalan masa lalu.
Pertandingan ini menjadi ujian mental yang sesungguhnya.
Mampukah generasi baru Inggris mengatasi tekanan dan menumbangkan tim Kroasia yang dikenal memiliki mental baja di turnamen besar?
Secara teknis, Inggris mungkin memiliki kedalaman skuad yang lebih menjanjikan.
Namun sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa Kroasia adalah tim yang sulit diprediksi.
Mereka selalu menemukan cara untuk bangkit dalam situasi sulit dan menjadikan tekanan sebagai bahan bakar untuk tampil lebih kuat.
Pertarungan di lini tengah diperkirakan menjadi penentu hasil akhir. Jika Modric mampu mengendalikan ritme permainan, Kroasia memiliki peluang besar untuk kembali membuat kejutan.
Sebaliknya, bila para pemain muda Inggris berhasil menekan dan memutus kreativitas sang kapten, jalan menuju kemenangan bisa terbuka lebar bagi The Three Lions.Yang membuat laga ini semakin menarik adalah faktor emosional yang menyelimuti kedua kubu. Kroasia ingin memberikan penghormatan terbaik bagi sang legenda. Inggris ingin menutup lembaran kelam yang selama bertahun-tahun menghantui mereka.Ketika peluit kick-off dibunyikan, yang dipertaruhkan bukan hanya poin dan posisi klasemen. Harga diri, sejarah, dan masa depan akan ikut diperebutkan di atas lapangan.Lalu pertanyaannya, apakah Luka Modric mampu menulis akhir yang indah dalam misi terakhirnya? Ataukah Inggris akhirnya berhasil membayar lunas utang lama yang terus membekas sejak 2018?Dunia akan segera menyaksikan jawabannya.
