Berita Utama

Memanen Hujan di Manado Tua

Karenanya, sebagian besar masyarakat sudah terbiasa menggunakan air hujan untuk keperluan hidup sehari-hari. Mereka minim pemahaman akan pentingnya konservasi air tanah. Hanya sedikit yang air sumurnya kondisi baik.

Pentingnya Mengonsumsi Sumber Air yang Benar

Menjadikan air hujan sebagai cadangan air minum, sesungguhnya tidak disarankan apabila tidak melalui tahap pemurnian.

Ekadiah Tongkotow, S.Tr.Kes, pegawai di Seksi Pengendalian Resiko Lingkungan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Manado yang kerap melakukan uji coba terhadap kualitas air minum masyarakat di wilayah pesisir, mendapati banyak masyarakat wilayah kepulauan belum mengelola air secara tepat.

Sumber air masih terkontaminasi dengan bakteri, virus, parasit, debu, partikel asap, dan bahan kimia lainnya.

“Sebenarnya bisa air hujan dikonsumsi, tapi butuh perlakuan khusus sebelum dikonsumsi, yaitu dimasak terlebih dahulu dan menggunakan penyaringan sewaktu proses penampungan air hujan,” kata Ekadiah.

Pada dasarnya air hujan itu, kata Ekadiah, termasuk air murni yang mengandung hidrogen dan oksigen tetapi belum tentu bisa dikonsumsi kalau sudah tercampur karbondioksida nitrogen dan debu.

“Kalau sudah ada unsur pencemar, air hujan tidak dikatakan lagi air murni dan beresiko jika nanti dikonsumsi. Ada faktor-faktor lingkungan yang dapat dengan cepat mengubah air hujan yang segar dan bersih, berpotensi bahaya untuk kesehatan,” ujarnya.

Ya. Zat gizi dalam air sering terlupakan.

Dr. Nurul Ratna MM, M.Gizi, SpGK, Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Divisi Pengabdian Masyarakat dan Public Relation menjelaskan, tubuh manusia tidak hanya cukup terhidrasi, namun penting untuk memilih sumber air yang benar.

Pasalnya, 10 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki Indeks Kualitas Air yang buruk.

Air permukaan di Indonesia, kualitasnya lebih tidak menentu, khususnya karena cemaran mikrobiologisnya. Sedangkan air tanah kualitasnya lebih konstan, tetapi bisa tercemar oleh aktivitas pertanian, industri dan lain sebagainya.

Cemaran yang perlu diwaspadai ada dalam air minum jika jumlahnya melebihi batas aman antara lain, bakteri penyebab penyakit (virus hepatitis, salmonela typhii, E.coli Patogenik, Pseudomonas aeruginosa, dll), senyawa kimia (Nitrit, Nitrat, detergen, dll), logam berat (Timbal, Kadmium, dll), serta senyawa pestisida.

Sehingga, dampak kesehatan dari mengonsumsi air yang tercemar, bila tercemar bakteri bisa menyebabkan diare, sedang bila tercemar logam berat timbal, apabila menumpuk pada tubuh manusia bisa menyebabkan gangguan kehamilan, gangguan perkembangan saraf pada bayi, serta gangguan ginjal dan pencernaan.

“Prevalensi diare di Indonesia meningkat 5 kali dari tahun 2011 ke 2018. Data Kemenkes tahun 2018 menyebutkan, diare merupakan salah satu penyebab utama kematian pada balita,” tambah Dr Nurul sambil menekankan, merebus air saja tidak cukup karena meski menghilangkan bakteri E.coli, namun tidak menghilangkan unsur logam berat di dalamnya.

Mengenal Rain Water Harvesting dan Program WASH Danone

Memanen air hujan atau Rain Water Harvesting, seperti yang dilakukan masyarakat Pulau Manado Tua merupakan salah satu metode konservasi air dalam rumah tangga.

Memanen air hujan, dilakukan dengan cara mengumpulkan, menampung dan menyimpan air hujan sebagai alternatif sumber air.

Sistem panen air hujan sudah diterapkan masyarakat di sana sejak ratusan tahun lalu, namun polanya masih bersifat tradisional, dengan memakai bambu sebagai talang, lalu langsung memasukan air ke dalam bak penampungan sehingga rentan tercemar bakteri.

Teknik ini, juga diterapkan Danone Indonesia (PT. Tirta Investama – Aqua) dalam mengembangkan program akses Air Bersih, Sanitasi dan Higienitas atau Water Access, Sanitation, Hygiene (WASH), dengan cara yang lebih modern.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara