Kota Bitung

Maurits Mantiri, Sosok Pemimpin Tanpa Sekat

Om Kumis menutup penyampaiannya dengan kalimat, “Torang orang Bitung musti baku sayang, torang orang Bitung musti junjung tinggi torang pe semboyan sitou timou tumou tou, torang orang Bitung samua bersaudara”.

Saya menilai apa yang dilakukan Om Kumis ini sebagai upaya dari seorang pejabat pemerintahan untuk mereduksi perpecahan antar umat beragama yang diakibatkan mis persepsi (kesalahan pandangan) kepada agama lain, dengan cara mengkonfirmasi realitas tentang apa yang dia lihat secara langsung, dan apa yang orang lain lihat di media.

Upaya semacam ini dapat dikatakan sebagai upaya untuk menciptakan peradaban yang damai, dan berfungsi menimbulkan potensi menumbuhkan rasa saling percaya antar umat beragama, dan ini berguna untuk menyatukan seluruh element umat bergama.

Di tengah terpaan isu, bahwa P-DIP menganut paham yang berafiliasi dengan pemahaman PKI, justru itu akan menjadi anomali (suatu keanehan) ketika kita menilai itu melekat pada sosok Om Kumis, yang merupakan Ketua P-DIP Kota Bitung.

Dalam hemat saya, Om Kumis merupakan sosok yang mewarisi corak pemikiran Nasionalis – Religius (Kristen), pemikiran yang sama dengan Dr. Sam Ratulangi.

Masa Depan Om Kumis: Naik atau Tenggelam?

Sebuah pertanyaan sederhana mengenai Om Kumis, adalah suatu pertanyaan yang lahir dari dalam hati saya, anak pinggiran Kota Bitung yang tinggal dikawasan kaki gunung dua sudara, kompleks Kawaduri, Wangurer Barat.

Sebuah tempat yang sampai dengan saat ini masih merupakan satu dari antara beberapa tempat yang ada di Kita Bitung yang masih kurang pelayanan air bersih, dan juga merupakan tempat kediaman yang status kepemilikannya digantung (tidak jelas) sampai dengan saat ini.

Hari ini Om Kumis sedang mengikuti kompetisi Pilwako (Pemilihan Walikota) bersama dengan Paslon Pilwako lainnya, Om Kumis mendapatkan lawan yang jelas merupakan Saiber (Saingan Berat), diantaranya Max J. Lomban, Petahana Walikota yang merupakan birokrat ulung yang menaiki tangga birokrasi dari ruang eksekutif, dan Orin Lengkong yang pernah menjabat sebagai Camat, dan Kepala Dinas Pariwisata, yang populer karena kecantikannya yang melebih rata – rata pejabat daerah.

Saya lebih menginginkan dan meyakini Om Kumis untuk menjadi Walikota Bitung, dengan asumsi bahwa Bitung tidak memerlukan birokrat ulung, atau kecantikan semata untuk menggerakkan kemajuan di Kota Bitung.

Bitung memerlukan sosok Walikota yang egaliter, yang berdiri sama rata dengan masyarakat, yang memiliki intensitas pertemuan dengan masyarakat (bukan intensitas yang dibangun sesaat pada saat Pilwako).

Karena dalam pandangan saya, hanya dia yang dekat dengan masyarakat, dan cinta perdamaian yang cocok memimpin kota Bitung, karena orang yang demikian yang paling mengerti Kota Bitung.

Apa jadinya Om Kumis di periode yang akan datang?

Suatu hal yang jelas Om Kumis tidak akan menjabat kembali menjadi Wakil Walikota. Apakah OM Kumis akan naik menjadi Wali Kota? Atau Om Kumis akan tenggelam menjadi Masyarakat Biasa? Sayangnya bukan saya sendiri yang memutuskan, karena suara mayoritas masyarakat yang akan menentukan.

Akhir kata, semoga masyarakat memilih Wali Kota yang memiliki watak pelayan yang senantiasa melihat langsung penderitaan masyarakat, dan melayani untuk solusi kebaikan bagi masyarakat, bukan Wali Kota yang berwatak Raja, yang duduk megah di kursi panas, yang hanya memperhatikan struktur pemerintahan, dan kebutuhan birokrasi, atau Wali Kota yang mempesona, anggun, putih, berkilau, namun tak jelas nilai estetikanya pada panggung politik yang menuntut kepedulian pada masyarakat.

*Aktivis Kota Bitung

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara